”Saya tulis Hasnan di Singomayan. Eh, di balasan suratnya tertulis nama saya Hasnan Singodimayan,” kenang Hasnan sambil terkekeh, dalam sebuah obrolan santai.
Anehnya, dengan nama ”pemberian tak terduga itu”, nama Hasnan makin dikenal luas. Lebih nyaman di telinga orang yang mendengarnya. Terasa menarik bagi mata yang membacanya. Nama yang enak didengar dan enak dibaca itu melambungkan nama Hasnan sampai ke kancah nasional. Sebagai budayawan Bumi Blambangan.
Undangan acara seni dan budaya terus berdatangan. Bahkan, beberapa kali Hasnan diundang dalam pertemuan masyarakat adat.
Bagi kami, Hasnan merupakan perpustakaan budaya berjalan. Sosok yang wafat kemarin (13/9/2022), di usia 92 tahun itu, sumber referensi kebudayaan Kota Gandrung. Ia bisa menceritakan secara lugas sejarah seni budaya Banyuwangi. Pun pertumbuhan dan perkembangannya. Hingga termutakhir saat ini.
Pantas kalau Hasnan selalu menjadi jujugan para penggali informasi tentang budaya kota the Sunrise of Java. Entah itu para peneliti, seniman, budayawan, dan wartawan dari luar kota. Mereka selalu njujug ke rumah Hasnan. Untuk menimba informasi sebanyak-banyaknya.
Nama Hasnan Singodimayan sudah dikenal di seantero nusantara. Ketika bertemu dengan sejumlah seniman-sastrawan dalam sebuah acara di luar kota, mereka bertanya kabar tentang Pak Hasnan. ”Apa beliau sehat, masih aktif menulis?” tanya mereka.
Ya, Hasnan bukan budayawan yang betah diam. Di usianya yang 90-an tahun, aktivitas utamanya membaca. Buku dan juga gadget. Dia terus mengikuti perkembangan kehidupan seni budaya di Indonesia. Kegiatan rutin berikutnya adalah menulis. Hasnan termasuk penulis produktif. Ia pernah menjadi penulis novelet di Bali Post. Menulis sandiwara radio berbahasa Oseng. Kerudung Santet Gandrung merupakan karya novelnya yang memukau.
Hasnan muda yang lahir 17 Oktober 1931, lulus Pondok Pesantren Gontor pada 1955. Sejak muda sudah andal dalam menulis karya sastra. Cerpennya Lailatul Qadar meraih Juara III lomba penulisan cerpen Dewan Kesenian Surabaya pada 1973—saya masih berusia 3 tahun!
Ketika BBC London mengadakan lomba puisi pada 1980, Hasnan berhasil menjadi juara II. Ia juga menjadi pemenang penulisan kisah bertema kepahlawanan yang digelar oleh Angkatan 45 Pusat. Karyanya langsung diterbitkan penerbit Balai Pustaka.
Hasnan dikenal sebagai pemangku kebudayaan Oseng yang representatif. Status itu membuatnya selalu diundang dalam berbagai pertemuan penting. Di antaranya: seniman kebudayaan Jawa Timur oleh Universitas Jember dan Dewan Kesenian Jawa Timur. Juga seminar oleh Direktorat Nilai Budaya, Seni, dan Film. Serta beberapa pertemuan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
Saya menjuluki Hasnan sebagai Dewan Penasihat Abadi DKB (Dewan Kesenian Blambangan). Posisi itu disandangnya sejak 1995 sampai akhir hayat (Selasa, 13 September 2022 malam kemarin). Posisi itu membuatnya sangat disegani. Baik oleh pemerintah kabupaten Banyuwangi, maupun para seniman-budayawannya.
Boleh dibilang, Hasnan adalah penjaga kebudayaan Banyuwangi. Bersama tiga sejawatnya yang meninggal dunia lebih dulu (Andang CY, H Sutedjo, dan drh Budianto), dia mengawal program pembangunan budaya yang dilakukan Bupati Abdullah Azwar Anas. Sekadar tahu, di awal Bupati Anas menjalankan program pembangunan lewat budaya, tantangan berat bermunculan. Salah satunya masalah dari kalangan pelaku seni dan budayawan sendiri. Mereka, saat itu, khawatir. Rencana Bupati Anas akan merusak pakem yang sudah ada. Mencerabut akar kebudayaan Banyuwangi.
Saya, yang kebetulan saat itu menjadi ketua DKB, merasa bersyukur. Empat sekawan itu selalu pasang badan. Mengegolkan secara bersama-sama program pembangunan seni-budaya Banyuwangi. Kerja keras pun kami lakukan. Menyusun dan memelototi konsep. Sampai melakukan monev (monitoring dan evaluasi) setiap kegiatan ”budaya baru” yang kami tawarkan.
Sepakat. Drh Budianto fokus menangani Gandrung Sewu. Saya bersama Pak Hasnan, Pak Andang, dan Pak Sutedjo mengawal Festival Kuwung dan Banyuwangi Ethno Karnival (BEC). Kami bahu-membahu. Tidak jarang, di saat membahas konsep, terjadi perdebatan seru. Karena masing-masing mempertahankan idenya. Sama-sama uangkot-nya. Pun ketika melakukan evaluasi.
Pak Hasnan paling sering menyampaikan pendapat dengan suara keras. Ya keras volumenya, ya keras isinya. Itu sudah menjadi trademark Anang Hasnan. Semua yang pernah diskusi dengannya langsung paham. Dan, memaklumi.
Saking takutnya ”kenyataan tidak sesuai dengan harapan”, di awal-awal pelaksanaan BEC, Pak Hasnan, Pak Andang, dan Pak Tedjo menjadi jurinya. Saya mendampinginya bersama pelukis S. Yadi K. dan sastrawan Fatah Yasin Noor. Sementara Pak Budianto asyik masyuk dengan Gandrung Sewu-nya. Alhamdulillah, tiga event utama Banyuwangi Festival andalan Bupati Anas berjalan sukses.
Saya tak bisa melupakan kenangan indah bersama Anang Hasnan. Yakni ketika mendapat kesempatan menjajal penerbangan Banyuwangi–Jakarta. Kebetulan, ketika itu, sekaligus menghadiri acara Ikawangi DKI Jakarta. Sepanjang perjalanan udara, saya melihat Anang Hasnan dan Pak Andang larut dalam diskusi. Gak tahunya, menurut pengakuan mereka berdua, itu dilakukannya untuk ”membunuh” ketegangan.
Pesawat mendarat selamat di Bandara Soekarno-Hatta. Mulai turun dari pesawat sampai keluar bandara, kami menjadi pusat perhatian. Ternyata, semua orang yang berpapasan, tertarik dengan penampilan kami. Berpakaian adat Banyuwangi, Anang Hasnan dan Pak Andang kelihatan seperti raja. Saya mereka anggap sebagai anak raja. Hahaha...
Saat istirahat di hotel, saya dikagetkan suara berisik dari kamar sebelah. Karena penasaran saya ketok pintunya. Lalu saya masuk. Ternyata, Anang Hasnan dan Pak Andang sedang berdebat hebat. Soal bagaimana mengoperasikan air panas dan dingin di kamar mandi. ”Banyune koyok mage umup (airnya seperti masih mendidih),” kata Anang Hasnan, disambung kekeh Pak Andang.
Masih banyak lagi kenangan indah bersama Anang Hasnan. Juga ilmunya. Banyuwangi telah kehilangan satu-satunya tokoh budaya sepuh yang tersisa. Menyusul H Sutedjo, Andang CY, drh Budianto, dan H AK Armaya.
Selamat jalan Anang Hasnan Singodimayan. Perjuangan kebudayaanmu telah mengantarkan Banyuwangi menjadi the Real Sunrise of Java.
*) Pekolom Banyuwangi Editor : Ali Sodiqin