Di aliran sungaui itu, ada 50 keramba berukuran 50 centimeter kali 300 centimeter dengan tinggi 60 centimeter yang dibuat para pemuda. “Setiap orang hanya boleh memiliki dua keramba saja,” ucap Sugiarto, 35, salah satu tokoh pemuda Dusun Sepanjang Kulon, Desa Sepanjang.
Menurut Sugiarto, di keramba itu para pemuda membudidayakan berbagai jenis jenis ikan, seperti mujair hingga tombro. “Dalam satu keramba, bisa menampung sampai 150 ikan,” katanya seraya menyebut gerakan ini dimulai sejak awal tahun ini.
Dalam budidaya ikan ini, jelas dia, bibit ikan dimasukkan dalam keramba dan dibiarkan. Perawatan hanya membersihkan sampah yang sering menyangkut di keramba. “Untuk makanan sudah dari alam,” terangnya.
Ikan yang dibudidaya itu, jelas dia, baru bisa dipanen bila memasuki usia tiga hingga empat bulan. Selanjutnya dijual pada masyarakat. “Harga Rp 30 ribu per kilogram, sekali panen bisa menghasilkan 20 sampai 25 kilogram ikan,” terangnya.
Dengan harga yang dianggap lumayan, Sugiarto menyebut budidaya ikan di aliran sungai dianggap bisa menambah pendapatan. “Lumayan untuk tambahan, kita tidak mengeluarkan uang untuk pakan,” cetusnya.
Pemilik keramba lain, Joko Tri, 30, mengatakan gerakan budidaya ikan di aliran sungai ini sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh sesepuh kampung. “Dulu sudah ada tapi vakum, sekarang kami aktifkan lagi,” katanya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi