SANG surya kembali dalam bangunnya, angin berembus bermain kembali bersama dunia. Pagi itu seorang pemuda berlari menyusuri trotoar jalan raya. Nampaknya pemuda tersebut sedang ingin bertemu seseorang. Sesekali ia melirik jam tangan yang dikenakan, tampaknya ia terlambat.
Berselang beberapa menit kemudian pemuda tersebut sampai di sebuah kafe, ia langsung masuk. Mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan kafe, matanya menangkap perempuan yang duduk di meja dekat jendela. Pemuda itu melangkahkan kakinya menujunya
”Assalamualaikum. Maaf La, aku terlambat,” ucap si pemuda.
”Waalaikumsalam. Nggak apa-apa kok, aku juga baru sampai,” jawab perempuan itu sembari tersenyum.
”Kamu sudah pesan?”
”Belum,” jawab Kayla sambil menggeleng
”Kamu mau apa?’’
”Cappuccino saja.’’
”Cappuccino dua, Mbak,” ucap Ridho kepada pelayan.
Si pelayan mengangguk ramah. Lalu meninggalkan mereka untuk menyiapkan pesanan. Mereka masih terdiam. Ridho memandang Kayla sambil berpikir, tentang apa yang harus ia sampaikan pada Kayla. Sedangkan Kayla membalas tatapan Ridho sambil tersenyum manis. Pikirannya kini menuju ke beberapa hari yang lalu, saat mereka pertama kali bertemu.
***
Saat itu hari libur Ramadhan di pesantren. Santri menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Ridho dan teman-temanya sedang menunggu jemputan mereka.
”Akhirnya libur, aku rindu suasana rumah,” Fandi membuka percakapan
”Aku juga rindu sama anak tetangga,” sahut Joni
”Iyuhh, memangnya ada yang mau sama kamu?” Kevin mengejek
”Kamu jangan gitu, dong. Gini-gini aku sudah ada jodohnya. Walaupun aku tak setampan kalian, tapi hati ini setia, Bos,” kata Joni sambil menunjuk dadanya.
Terdengar gelak tawa di antara mereka yang saling melempar lelucon. Saat mereka mengobrol dan bercanda, dari kejauhan terlihat seseorang melambaikan tangan.
”Itu kakakku. Aku duluan, ya,” ucap Ridho pamit.
”Hati-hati, ya,” balas kawan-kawannya.
Sesampainya di rumah, Ridho langsung meletakkan barang bawaannya di kamar. Namun saat itu, orang tua Ridho sedang tidak ada di rumah. Mereka ada keperluan bisnis restoran yang terkenal di daerahnya.
Azan Duhur berkumandang setelah Ridho selesai merapikan barangnya. Ridho melaksanakan sholat Duhur lalu beristirahat.
Ridho bangun saat azan Asar. Ia melangkahkan kaki untuk membersihkan diri, setelah itu saat Asar. Ridho akan pergi ngabuburit sore ini, ia menghampiri orangtuanya untuk meminta izin.
”Hati-hati, sebelum Magrib harus di rumah,”pesan ibunda Ridho.
”Siap, Assalamualikum.” Ridho menyalami tangan ibundanya.
”Waalaikumsalam.’’
Ridho menyusuri kota yang terlihat ramai. Di balik keramaian, terlihat sosok gadis kecil terduduk lesu di bawah pohon. Ridho menghentikan motornya di sampingnya.
”Kamu kenapa?” tanya Ridho sambil berjongkok.
”Hiks.... Di mana Kak Kayla... aku tersesat,” jawab gadis kecil itu sesenggukan.
”Nama kamu siapa?”
”Sendri.”
”Sendri, jangan nangis, ya. Kakak bantuin buat cari Kak Kayla.”
Gadis kecil itu mengangguk sambil mengusap air matanya. Ridho melihat sekeliling mencari keberadaan Kayla. Dari jauh nampak seorang perempuan yang terlihat seperti mencari seseorang. Ridho menunjukkan pada Sendri perempuan tersebut.
”Iya, itu kak Kayla! Kak Kayla!” teriak Sendri
”Sendri? Dari mana kamu? Kakak bingung nyariin kamu,” ucap Kayla khawatir.
”Tadi aku melihat mainan, sadar-sadar kakak nggak ada. Aku bingung lalu menangis. Untung ada kakak ini yang menolong aku,” Sendri menunjuk Ridho yang berdiri di belakangnya.
”Makasih sudah menolong adikku,” ucap Kayla.
”Sama-sama,” timpal Ridho sambil mengangguk.
”Kayla...” Kayla menyodorkan tangannya ke Ridho, mengajak berkenalan.
”Ridho.” Ia membalas perkenalan dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada.
”Kalau gitu aku pamit dulu. Sendri, ayo pamit.” “
”Kak Ridho, Sendri pulang dulu. Makasih, Kak.”
”Sama-sama,” jawab Ridho tersenyum, lalu melangkahkan kaki dan bergegas pulang.
***
Malam itu Ridho baru pulang salat Tarawih. Saat Ridho baru masuk ke kamarnya, terdengar suara panggilan dari ponselnya.
”Dho,” suara Darwis terdengar dari seberang ponsel.
”Assallamualaikum.” Jawab Ridho
”Hehe, Waalaikumsalam.”
”Salam dulu. Jangan langsung manggil. Ada apa menelfon?”
”Bisa bantu, nggak? Ajarin ngaji,” ucap Darwis
”Alhamdulillah, sudah tobat kamu.”
”Hehehe, nggak juga”
”Lah, terus?” Ridho bingung, temannya minta diajarin ngaji tapi nggak bertobat.
Darwis teman Ridho dari kecil, tapi kebiasaan mereka berbeda jauh. Darwis suka jalan-jalan, pacaran, terkadang juga minum. Sedangkan Ridho kebalikannya, dengan perempuan yang bukan mahram saja ia tak berani dekat-dekat. Namun, mereka bisa berteman karena perbedaan. Darwis tidak pernah memaksa Ridho melakukan kebiasaannya, mereka berdua saling menghormati.
”Aku mau nembak cewek, dia maunya sama cowok yang bisa ngaji,” jelas Darwis
Apa salahnya ngajarin Darwis, mungkin dari ngaji ini Darwis bisa tobat. Begitu pikir Ridho.
”Ya, aku mau bantu kamu,” jawab Ridho
”Kapan bisa mulai?”
”Aku bisa pagi sampai siang.”
”Besok jam 9 di rumahmu. Makasih,” sahut Darwis senang.
”Iya, Assalamualaikum.” Tak ada jawaban. Ridho hanya menghela napas. Setelah itu Ridho bergegas pergi ke restoran.
***
Di restoran, Ridho memilih bertugas sebagai pelayan agar dia tidak manja. Meskipun sebenarnya bisa saja ia menjadi pengawas.
”Tunggu sebentar,” Ridho pergi menuju dapur untuk memberikan pesanannya. Sedangkan Kayla masih memikirkan sesuatu.
”Ini buat Sendri dan ini Kayla. Selamat menikmati,” ucap Ridho
”Makasih Kak Ridho,” ucap Sendri.
”Sama-sama, Sendri. Kalau gitu kakak tinggal, ya.”
”Kakak duduk di sini saja,” pinta Sendri
”Sendri, Kak Ridho masih banyak pekerjaan.” Kayla membujuk Sendri agar tidak menahan Ridho.
”Nggak apa-apa, pekerjaanku sudah selesai kok.”
Ridho duduk di sebelah Sendri. Sebenarnya dia bisa duduk di samping Kayla, tapi dia harus membatasi diri terhadap yang bukan mahramnya.
”Maaf ya kamu jadi harus nemani kita,” ucap Kayla.
”Nggak apa-apa,” Ridho tersenyum.
”Kamu sekolah di mana?” tanya Kayla
”Aku mondok di pesantren, di sana menyebutnya santri,” terang Ridho.
”Di sana belajar apa?”
”Dari ilmu formal sampai nonformal. Di sana aku lebih fokus pada ilmu nonformal. Ilmu yang menerangkan tentang agama Islam. Seperti nahwu, fikih, akhlak, dan lainnya. Ilmu nahwu itu ilmu dasar membaca kitab bahasa Arab. Kalau akhlak itu ilmu yang menerangkan tata krama terhadap guru, orang tua, dan teman sekalipun. Kalau fikih menerangkan tentang tata cara ibadah,” beber Ridho.
Ridho dan Kayla terus berbincang tentang kehidupan mereka masing-masing. Sampai Sendri menghentikan percakapan mereka berdua.
”Sendri sudah selesai makannya.”
”Kalau gitu kita pulang, ya,” ajak Kayla
”Sendri juga sudah ngantuk. Kak Ridho, Sendri pulang dulu, ya,” pamit Sendri.
”Dho, boleh minta nomor ponselmu? Kalau ingin tahu tentang pesantren, aku bisa menelponmu,” ucap Kayla.
Kayla menyodorkan smartphone-nya kepada Ridho. Ia lalu mengucapkan terima kasih dan pamit untuk pulang. Ridho menatap mereka sambil tersenyum lalu kembali ke pekerjaannya. Ada suatu perasaan aneh menjalar di nadi Kayla, ia terus memandangi Ridho sampai hilang di tikungan jalan.
***
Saat malam, Darwis datang ke restoran dan mencari Ridho.
”Aku ditolak. Aku bilang kan mau nembak cewek, ternyata sudah ada cowok yang dia suka,” ujar Darwis.
”Setiap manusia punya jodoh masing-masing. Allah bakal memberi kamu yang terbaik, cukup ikuti skenario-Nya. Sebesar-besarnya mencintai itu mengikhlaskan, pasti diganti yang lebih baik.”
”Terima kasih, Dho. Kalau gitu aku pamit,” ucap Darwis.
”Tak perlu kau pergi ke Mbah Ringin di Mangir.” Ridho tersenyum.
”Apa masih ampuh aji sabuk mangir, ya,” timpal Darwis.
”Assalamualaikum, sobat!” Ridho berlalu sambil tertawa kecil.
***
Matahari pagi menampakan senyuman hangatnya. Ridho berencana menghabiskan liburannya sebelum kembali ke pesantren. Terdengar suara panggilan dari ponselnya, tertulis nama Kayla di layar.
”Assalammualikum.”
”Waalaikumsalam. Kamu sibuk hari ini?”
”Ada apa?” tanya Ridho.
”Ada yang mau aku bicarakan. Boleh kita bertemu? Hanya sebentar.” Kayla meyakinkan Ridho.
”Di mana?”
”Kafe Bougenvile. Jam 8, ya. Assalamualaikum.”
”Iya. Waalaikumsalam.”
Ridho mulai bersiap dan bergegas mengendarai sepedanya membelah keramaian untuk bertemu Kayla. Sejenak waktu seolah berhenti, dua insan mematung saling menatap.
”Mau ngomongin apa?”
”Jujur ya, Dho. Aku sebenarnya suka sama kamu. Dari pertama melihatmu, sudah ada perasaan aneh dalam hatiku. Dan, setelah sekian lama, aku paham kalo aku suka sama kamu.” Kayla mengungkapkan perasaannya pada Ridho.
”Aku menghargai perasaan kamu. Tapi, aku tidak bisa menyukai seseorang sebelum mondokku selesai.” Ridho berusaha tenang.
”Aku paham, Terima kasih sudah mau bertemu. Assalamualaikum.” Tampak guratan kesedihan di wajah Kayla, dadanya sesak seolah dihantam kayu balok. Kayla berdiri sambil menunjukkan senyum kakunya, lalu melangkah pergi dari kafe. Ridho terdiam sambil terus memperhatikan Kayla.
***
Ridho masih teringat saat Kayla menyatakan perasaannya. Ridho merasakan perasaan aneh. Dia sadar kalau santri haram hukumnya berpacaran. ”Taaruf”, batin Ridho. Ridho harus mengatakannya pada Kayla agar hatinya tidak seperti ini. Malam itu juga Ridho menghubungi Kayla, tak berselang lama teleponnya diangkat.
”Kita boleh bertemu?”
”Ada apa?” Kayla tertegun dengan ucapan Ridho.
”Aku perlu mengobrol, sebelum aku kembali ke pesantren besok,” jelas Ridho.
Ridho membaringkan tubuh dan membayangkan wajah Kayla sebelum terlelap dalam mimpi indah.
***
Esoknya, Ridho tergesa berlari menyusuri trotoar, takut Kayla menunggu. Sampai di kafe, Ridho langsung masuk dan mengedarkan pandangannya, Kayla duduk di tempat mereka biasa duduk. Entah apa yang membuat hati lega, Ridho duduk tepat di hadapan Kayla.
”Kau kembali ke pesantren hari ini.” Kayla hanya melempar senyuman hangat.
”Aku ingat bagaimana kita bisa akrab tanpa saling mengenal sebelumnya, bagaimana aku bisa bersabar menunggu kehadiranmu di sela kesibukan kita,” ujar Ridho
”Menunggumu adalah waktu yang tepat bagiku, di matamu ada cahaya yang menjadikanku perempuan yang utuh,” yakin Kayla pada Ridho
Keheningan merebak di antara keduanya, entah sedang memikirkan apa. Hingga dipecahkan oleh suara Ridho.
”Untukmu, anggap saja ini adalah gemuruh ombak yang selalu bergema di ruang kesunyian kita selama berpisah,” Ridho mengeluarkan sebuah cincin. Kayla nampak terkejut, wajahnya mendadak memerah dan matanya mulai basah.
”Terima kasih banyak, La. Untuk pertama kali setelah beberapa saat aku sanggup berbagi kasih sayang dengan taaruf bersamamu.”
”Aku pikir air mataku sudah habis saat itu. Kembalilah, aku menunggumu,” suara Kayla parau.
”Boleh aku melihat senyummu?” pinta Ridho. Kayla tersenyum sambil mengusap air matanya.
”Aku akan segera menghubungimu ketika aku pulang, La.”
”Aku akan menjaganya sampai kamu pulang, Dho.”
Setelah hening, Ridho berdiri pamit meninggalkan Kayla. Kayla tahu dia akan pulang setelah selesai mencari ilmu. Perpisahan keduanya mejadi hal yang bahagia setelah pertemuannya sore itu. Di lapis waktu dengan tangis cahaya seorang perempuan mendekap rindunya. Di kejauhan sepasang mata malaikat tersenyum tak henti mengucap syukur atas pertemuan keduanya. (*)
----------------------------------
*) Moh. Arju Ridho Maulana, bertumpah darah Banyuwangi, 05 April 2003. Berdomisili di Cangaan, Genteng Wetan, Banyuwangi. Saat ini menyelesaikan studi di Jurusan Teknik Pengelasan, kelas XII, SMK Cordova Karangdoro, Tegalsari, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin