GLAGAH - Bilal. Begitu pria yang memiliki nama lengkap Mustakbilal ini biasa disapa. Sebagian orang menilai pria berusia 41 tahun ini, sebagai perajin sekaligus seniman yang spesial.
Keterbatasan fisik tak menjadi halangan bagi Bilal untuk berkarya. Dengan kondisi tunadaksa, dia mampu menghasilkan karya seni bernilai estetika tinggi. Bahkan secara ekonomi, karyanya bisa bernilai jual jutaan rupiah.
Berbekal keterampilan yang dia kuasai sejak usia belasan tahun, yakni memahat dan mengukir, Bilal yang kini tinggal di Lingkungan Karangasem, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, menekuni pekerjaan sebagai pembuat barong.
Masa kecilnya memang tidak jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan atraksi kesenian lokal. Setelah cukup lama mengamati kakaknya yang pernah membuat barong, Bilal mencoba membuat sendiri. Awalnya, dia memang mengalami kesulitan memegang peralatan pahat. ”Berkali-kali terluka karena tidak bisa menggunakan alat, terutama palu,” ceritanya.
Seiring berjalannya waktu, dia memiliki ide mengikat palu di sisa lengan kanannya. Palu tersebut diikat erat menggunakan tali. Dengan begitu, Bilal bisa mengerjakan pembuatan patung dengan kecepatan normal.
Singkat cerita, barong hasil karya Bilal mendapat sambutan positif para tetangganya. Karena itu, dia pun memanfaatkan keterampilan tersebut untuk mencari uang. Hasilnya, Bilal berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga tamat sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) pada 2012 lalu.
Seiring perkembangan, pesanan barong terus ”mengalir” kepada dirinya. Kebanyakan pesanan datang dari wilayah Banyuwangi. Namun, dia beberapa kali juga menerima pesanan dari luar daerah, di antaranya dari Pati, Jawa Tengah (Jateng) dan Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).
Bilal mengatakan, dirinya memanfaatkan kayu keras, seperti kayu mangga dan lain sebagainya, untuk membuat kepala barong. Kayu keras dipilih agar barong yang dihasilkan tidak mudah rusak atau lapuk.
Bilal mengaku, proses pengerjaan satu unit kepala barong atau naga (liong), membutuhkan waktu antara empat hari sampai sekitar sepekan. Pengerjaan dimaksud meliputi proses memahat hingga pengecatan. ”Waktu yang dibutuhkan tergantung ukuran barong dan tingkat kerumitannya,” kata dia.
Satu unit barong dia jual dengan harga bervariasi. Tergantung ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaannya. ”Harganya mulai Rp 250 ribu sampai Rp 2 juta,” tuturnya.
Menariknya lagi, meski memiliki keterbatasan fisik, Bilal juga mampu membuka lapangan kerja bagi orang lain. Memang, proses pembuatan barong tersebut kebanyakan dia kerjakan sendiri. ”Namun, jika dia mendapat order dalam jumlah besar, contohnya saat menerima order miniatur barong beberapa waktu lalu, saya dibantu satu teman saya,” pungkasnya.
Editor : Ali Sodiqin