ROGOJAMPI - Perajin Banyuwangi layak disebut berkelas dunia. Nyatanya, alat musik karimba buatan warga Dusun Bolot, Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, sudah diekspor ke Afrika.
Bahan baku yang digunakan untuk membuat karimba adalah batok kelapa. Batok yang merupakan limbah, oleh tangan dingin Supriyanto, 60, bisa disulap menjadi alat musik yang diberi nama karimba dengan cat warna-warni cantik.
Alat musik ini dimainkan dengan cara menekan tuts logam hingga mengeluarkan bunyi yang harmonis. Karena itu, alat ini sering disebut sebagai ”piano jempol” ala Afrika.
Kerajinan karimba ini diproduksi oleh Supriyanto. Dia merintis bisnis itu setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai kuli bangunan di Bali dan pulang ke Banyuwangi. Pada tahun 2006, Supriyanto mulai membuat karimba dengan bahan baku limbah batok kelapa, kayu, dan jeruji sepeda.
”Awalnya hanya iseng saja buat seperti ini setelah sempat lihat di Bali, bahwa batok kelapa laku dijual jadi kerajinan,” ungkap Supriyanto
Pada awal percobaan itu, dia membuat 10 biji karimba untuk contoh. Bak gayung bersambut, saat coba ditawarkan di salah satu artshop di Bali, dia malah berjumpa langsung dengan turis mancanegara yang berasal dari Jamaika. ”Kerajinan yang saya buat ini dilihat kemudian dicoba, ternyata bagus dan langsung dibeli,” kenangnya.
Setelah itu, Supriyanto langsung mendapat pesanan dari Jamaika. Bermula diri situlah usaha kerajinan karimba yang dirintisnya mulai menemukan jalan terang. ”Tamu dari Jamaika itu sampai hari ini masih lanjut dan sering pesan,” jelasnya.
Bersama tujuh karyawan, Supriyadi mampu memproduksi karimba sebanyak 600–700 buah per hari. Sedikitnya dalam sebulan dia membutuhkan kurang lebih 75 ribu hingga 140 ribu batok kelapa. Setelah diproses, satu buah karimba dibanderol dengan harga Rp 35 ribu untuk pasar domestik.
Selanjutnya, barang tersebut juga beredar luas di pasar internasional. Bahkan, alat musik tersebut bisa menembus pasar ekspor di benua Afrika. Selain itu, ada pula pembeli dari beberapa negara di Eropa, Asia, dan Amerika.
Jika diperhatikan, bentuk alat musik karimba ini sederhana. Ukurannya kecil, berdiameter sekitar 20–25 sentimeter, seukuran dengan batok kelapa sebagai bahannya. Di atas permukaan kayu, ada tujuh besi jeruji yang digunakan sebagai alat petik. Dan supaya tampilannya lebih menarik, permukaan kayu karimba dihias dengan warna-warni cat dengan corak artistik.
”Kalau besinya dari jeruji beli di toko onderdil sepeda dan memang menggunakan merek khusus yang sudah saya coba-coba sendiri. Nanti jeruji besi ini dipipihkan agar menghasilkan suara yang bagus,” jelas Supriyanto.
Butuh Ketelatenan dan Kesabaran
Meski bentuknya tampak sederhana, membuat alat musik karimba ternyata tidak mudah.
Menurut Supriyanto, tahap yang paling butuh perhatian adalah proses pengecatan. Pada tahap ini, dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Kalau perlu, ketelatenan ”tingkat dewa”. Sebab, proses pengecatan alat musik karimba biasanya disesuaikan dengan pesanan.
Karimba karyanya tidak hanya memenuhi order di Pulau Dewata. Selain dikirim ke Bali, karimba buatan warga Bumi Blambangan ini juga dikirim ke berbagai negara di Eropa, Afrika, Asia Tengah, dan Amerika. ”Kami sangat bersyukur sampai kini pesanan karimba ini masih jalan terus, hanya saja saat pandemi memang sedikit berkurang,” tandasnya.
Editor : Ali Sodiqin