Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Genjah Arum

Ali Sodiqin • Sabtu, 19 Maret 2022 | 22:30 WIB
genjah-arum
genjah-arum


SAYA terpukau. Rabu lalu. Melihat halaman depan Radar Banyuwangi edisi hari itu, 16 Maret 2022. Di halaman depan bagian atas disajikan gambar yang indah. Menarik sekali. Semacam perkampungan dengan latar persawahan. Rumah-rumahnya tampak khas rumah Osing. Persawahannya tampak indah. Mirip persawahan terasering di Ubud, Bali.



Judul beritanya begini: Berdiri Gugusan Rumah Osing dengan View Selat Bali. Keren sekali. Penuh pesona. Pembaca pasti tergoda. Untuk segera ke sana. ”Wah, saya harus menyempatkan ke sana,” bisik saya dalam hati.



Begitu membaca caption gambar dan isi beritanya, ternyata saya ”dikerjain” Radar Banyuwangi hari itu. Yang disajikan bukan gambar perkampungan Osing dengan latar persawahan yang nyata. Masih rencana. Sekarang sedang dibangun. Ditargetkan akan selesai pada 15 Juli 2022.



Itulah proyek penataan kawasan Agrowisata Tamansuruh (AWT). Bantuan pemerintah pusat buat Banyuwangi. Bagian dari program pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). AWT memadukan pariwisata dan sektor pertanian. Termasuk untuk edukasi pertanian. Direncanakan menjadi destinasi wisata yang mendokumentasikan Banyuwangi di masa lalu, masa kini, dan masa depan.



Konsepnya keren sekali. Saya seperti tidak sabar menunggu 15 Juli 2022. Tapi, sambil menunggu, saya mencoba ikut mengimajinasikan AWT yang hendak dibangun. Yang juga diklaim tempat edukasi pertanian. Sekaligus menggambarkan masa lalu, kini, dan masa depan Banyuwangi.



Mengingat terintegrasi dengan gugusan rumah Osing, saya mencoba mengumpulkan potret Osing. Tentu dari sudut pandang saya. Saya lalu teringat satu varietas padi lokal yang terkenal gurih dan pulen: genjah arum. Yang membuat Banyuwangi dikenal sebagai penghasil beras enak.



Citra tersebut masih melekat hingga kini. Meski genjah arum sudah langka. Hampir punah. Banyuwangi memang tersohor untuk urusan beras. Di Banyuwangi saya sangat menyukai nasi bungkus. Murah, tapi nikmat. Setelah saya cermati, satu di antaranya karena nasinya enak. Pasti berkat kualitas berasnya. Meski bukan genjah arum.



Saya juga mendengar, Banyuwangi sudah mengembangkan varietas padi unggulan. Di antaranya beras merah varietas blambangan A3, beras merah varietas hitam melik A3, dan beras putih varietas SOJ A3. Bahkan, telah didaftarkan sebagai padi asli Banyuwangi ke Pusat Pendaftaran Varietas Tanaman (PVT) Kementerian Pertanian. Konon, varietas tersebut akan ditanam juga di AWT secara organik.



Namun, menurut saya, nama genjah arum masih harum. Jangan dilupakan. Dia menandai ketersohoran Banyuwangi di masa lalu. Di Desa Kemiren, kabarnya, genjah arum masih ditanam. Mungkin, karena ketersohoran di masa lalu tapi kini langka, nama itu menginspirasi Setiawan Subekti, tester kopi kelas dunia yang populer dipanggil Pak Iwan. Genjah arum diabadikan sebagai nama sanggar seni khas Osing di Kemiren: Sanggar Genjah Arum. Di sanggar itu pula dilestarikan musik lesung (othek) khas Osing. Yang biasa dimainkan oleh perempuan-perempuan tua. Lesung adalah alat yang dipakai merontokkan bulir padi. Bulir genjah arum cukup kuat. Untuk merontokkan harus ditumbuk di lesung.   



Genjah arum tentu menjadi primadona di masa lalu. Sebelum Revolusi Hijau. Sejak awal dekade 1970, pemerintah Orde Baru mengubah cara bertani padi. Guna mendukung swasembada beras. Diterapkanlah Revolusi Hijau. Maka, dikenalkanlah varietas baru, IR. Hasil dari International Rice Research Institute (IRRI) yang bermarkas di Filipina. Diklaim unggul, karena masa tanamnya pendek dan tahan hama. Tapi, varietas baru itu juga membutuhkan tata kelola sawah secara modern. Di antaranya penggunaan pupuk kimia.



Kebijakan Revolusi Hijau lalu memaksa petani padi pada umumnya beralih ke varietas baru. Varietas lokal ditinggalkan. Tak terkecuali genjah arum. Sampai di sini tiba-tiba saya teringat komunitas Sedulur Sikep di Desa Baturejo, Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Orang sering menyebut ”wong Samin” (orang Samin). Mereka sederhana sekali. Hanya hidup dari bertani. Tak mau yang lain-lain. Meski berat di tengah kepungan kehidupan modern.



Maka, orang Samin belajar dan mengembangkan cara bertani yang berkelanjutan. Demi kesejahteraan bersama. Bukan yang hidup hari ini saja. Tapi, juga keturunannya kelak. Maka, dikembangkan pula sistem sosial, tradisi, ritual, dan nilai-nilai yang mendukung bertani berkelanjutan. Bukan bertani ala kapitalisme. Yang cenderung memperkosa alam. Demi keuntungan individu. Dan, orang Samin jagoan pula di urusan perpadian. Meski tak pernah sekolah (pendidikan formal).



Saat Revolusi Hijau, orang Samin tertekan dan menderita. Karena menolak cara bertani yang dipaksakan pemerintah Orde Baru. Namun, kini cara bertani model Revolusi Hijau ditengarai sebagai sumber kerusakan lingkungan persawahan. Dunia lalu menganjurkan bertani secara berkelanjutan. Yang diakrabi orang Samin. Juga orang Osing di Banyuwangi tempo dulu. Sebutan sekarang ”bertani secara organik”. Meski tak mudah dan tak murah. Karena ekosistem sawah yang telah rusak.



Kini, dunia mengajak bersahabat dengan alam. Menoleh kembali kedamaian, ketenteraman, kearifan masa lalu. Yang lokal, tradisional, kuna, ndesa. Bahkan, karena harmonis dengan alam dan mengutamakan kebersamaan , dianggap ”terbelakang” dan ”tak berkemajuan”. Tapi, orang yang berkemajuan kini memilih produk organik. Meski tak murah.



Saya membayangkan genjah arum akan mengharumkan kawasan AWT. Ada pula rumah-rumah Osing di sana. Tentu saja dengan pernak-pernik budaya dan tradisi Osing yang lain. Yang juga berorientasi harmoni.



Genjah arum memang mewakili ketersohoran Banyuwangi masa lalu. Tapi, bukan berarti tak bisa lagi tersohor. Bukankah masa depan sesungguhnya adalah sintesis masa lalu dan masa kini? Tinggal kemauan dan kerja keras kita. Momentumnya ada. Tunggu apa lagi!  (*)   



*) Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi



Editor : Ali Sodiqin
#artikel #refleksi #catatan #opini