Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Puisi Hafil Arumy

Ali Sodiqin • Sabtu, 18 Desember 2021 | 19:30 WIB
puisi-hafil-arumy
puisi-hafil-arumy


Menjemput Puisi



 



Tumbuhan benalu telah pupus



Saat kau bergegas



Menjemput puisi dalam lembaran kertas



Dengan pena yang sudah ranggas



Dikikis oleh unggas-unggas



 



Di kala malam bertandang



Dan aku tak tau jalan pulang



Kuharap kau menjadi penerang



Pada lorong menuju tuhan



 



Lubtara 2020



----------------------------



 



Dongeng Tanah Ibu



 



Aku ingin bercerita tentang lekuk tanah ibu



Yang katanya, tanahnya terbuat dari darah



 dan airnya terbuat dari air mata



 



Aku tau di lekuk tanah ibu,



baik di pedesaan atau di perkotaan



hukum rimba masih bergairah



Si pintar membodohi si bodoh,



Yang kuat melemahkan yang lemah



Begitulah lekuk tanah ibu



yang dijajah kera-kera perusak sejarah.



 



lubtara 2020



----------------------------



 



Sebait Hujan Perjalanan



 



Derai hujan tiba-tiba datang



Menerobos sunyi menghadirkan sepucuk rindu



 



Rindu itu,



Melayang-layang bersama layangan



Lalu hinggap di dermaga air mata



Di dalamnya sebait gelisah



Berenang menuju ujung angan



Dan bertemu dengan pelangi



Yang tersirat di balik awan



 



SMA Annuqayah 2020



 



----------------------------



 



Berpulang pada Kesaksian



 



Sesekali aku akan berbicara pada tanah



Supaya tetap setia mencatat persinggahan



Untuk sekadar dijadikan dokumentasi



Jika bertandang ke rumah tuhan yang suci



 



Perjalanan ini penuh duri



Jika kita tak berhati-hati maka kita akan mati



Karena nyatanya kita hanya binatang



Yang berharap sebuah kedamaian dari tawakal doa



 



Maka ketika kita telah pulang



Jangan lupa apa yang pernah angin ajarkan



Prihal air dan api di persimpangan jalan



Menuju kesejahteraan atau siksaan yang menanti



 



Persiapkanlah sebab kita akan pulang



Bersama oleh-oleh persaksian



Yang kita tenteng pada tangan



Lalu meletakkannya dalam pangkuan timbangan



 



Lubtara 2020



----------------------------



 



Kemenyan



 



Dahagaku yang kerontang gersang



Sedangkan hujan tak lagi menyemai siang



Tubuhku gemetar mengejang



ketika kulihat bumi bermusim kemarau



 



Telah sempurna meriang tubuh ilalang



Menyaksikan angin kenangan



Berpeluk mesra bersama hening



Saat kegelapan malam semakin merang-rang



 



Di balik batu rindu



Sajak jangkrik menderu



Menerobos sunyi pencipta tembang-tembang sembilu



Lalu membenamnya dalam klopak kemang kalbu  



Seketika temaram lampu meredup



Dan segerombolan batu-batu mengecup



Pada harum kemenyan di kesunyian



Lubtara 2020



----------------------------



 



Perlahan-lahan Kau Menjauh



 



Wa,



Senja yang telah kumaknai



Ia bercerita tentang bunga



Apakah kau telah memetiknya dalam kalbu



Supaya harumnya menjadi rindu



 



Sesudah kau memetiknya



Mimpi kini menjadi harapan dalam rasa



Semoga kita tidak lupa:



Ketika kita sudah merayakan kepergian



 



Barangkali kau telah menelanjangi hati baru



Membuatmu telah sempurna membiru



Dalam sembilu yang selalu mencumbu



Pada muramnya malam layu



 



Lubtara 2020



----------------------------



 



 



Rindu yang Kau Temui



 



Setelah senja,



Kau akan bertemu rindu



”Apakah rindu ada?” katamu,



Waktu akan mempertemukanmu



Dengan rindu biru kelabu



 



Di dalam rindu kau akan mendengar



Irama gerimis malam



Setelahnya, kau akan kembali pada pagi



Yang menyeret pelangi dari wajahmu



 



Lubtara 2020



----------------------------



 



Aku dan Empat Permata



 



Aku dan empat permata



Tumbuh mulia bersama angin



Berlayar menembus sepi



Tanpa kesedihan yang menari



 



Aku dan empat permata



Terjun bebas di gunung kaca



Memecah segala resah



Demi kebebasan pelangi pada gelisah



 



Aku dan empat permata



Terkadang disapa hujan



Yang menyelimuti langit langit rumahku



Lalu tenggelam pada waktu senja,



Namun terbit lagi pada waktu pagi



 



Pondok kata 2020



----------------------------



 



Pertemuan



 



Sesudah ke guguran rindu



Cawan-cawan arak pecah



Pecahannya menjadi madu



Menghangatkan sukma dalam beku



 



Utuslah irama lembutmu



Pada jam kalbu



Seperti lagu-lagu syahdu



Pemecah kesunyian semu



 



Beribu kata sudah kubumbui



Dengan senyummu pelangi



Di tiap rotasi senja yang dimakan beku



 



Lubtara 2020



----------------------------



 



Api di Tubuhmu



 



Bila bulan redup,



Semoga kau mengambil sebagian cahaya



Dari matahari yang terpancar di hati



Lalu menerangi samudra kelabu



 



Pada angin,



jangan lupa kau bisikkan



Tentang waktu yang terhadang



Pada kecamuk perang bayang



 



Kau tau!



Di tubuhku perlu ranting



Yang tumbuh dari tubuhmu



Agar api membara dalam candu



 



Lubtara 2020



 ----------------------------



*) Santri Ponpes Annuqayah Lubangsa Utara. Sedang menempuh pendidikan di SMA Annuqayah. Sekarang aktif menulis di kompleks Reguler dan Komunitas Laskar Pena Lubtara. Pustakawan Ponpes Annuqayah Lubangsa Utara.


Editor : Ali Sodiqin
#budaya