MENDADAK pertanian. Tiba-tiba peduli pada pertanian. Kesan itu menyeruak dari gedung dewan: DPRD Banyuwangi. Beberapa waktu lalu. Saat pembahasan RABPD Banyuwangi 2022 sedang berproses. Ada apa ya?
Pertanyaan itu patut diapungkan. Sebab, bukan anggota biasa yang peduli sama pertanian. Melainkan Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara. Lalu dipertegas kembali oleh Ketua Komisi II DPRD Banyuwangi Siti Mafrochatin Ni’mah. Beberapa hari berikutnya. Dalam rapat bersama Dinas Pertanian dan Pangan.
”Banyuwangi memiliki lahan yang luas dan beragam produk unggulan. Maka harus disiapkan betul generasi ke depan yang betul-betul bisa memajukan pertanian di Banyuwangi,” tegas Ni’mah, seperti dikutip Jawa Pos Radar Banyuwangi (15/10/21).
Bagi yang biasa dan bisa mengamati alur penganggaran program dalam birokrasi, pernyataan sejenis itu dianggap sebagai ”sesuatu banget”. Bahkan, usul dan atau sekadar pernyataan pimpinan dewan/fraksi dalam rapat pembahasan KUA (Kebijakan Umum Anggaran)-PPAS (Prioritas dan Plafon Anggaran Sementera) merupakan sinyal. Kode. Perlu mendapat perhatian khusus dalam APBD 2022 mendatang.
Diminta atau tidak, secara khusus atau biasa-biasa saja, sudah seharusnya pertanian menjadi perhatian semua pihak. Eksekutif maupun legislatif. Sebab, Banyuwangi sejak dulu menjadi lumbung padi bagi Jawa Timur. Hanya saja, fakta lain menyebutkan, belakangan produk pertanian Bumi Blambangan tidak sehebat dulu.
Dua persoalan utama menjadi penyebabnya. Pertama, lahan pertanian yang kian berkurang. Banyak lahan-lahan produktif kini beralih fungsi. Entah untuk hunian berupa perumahan. Atau, untuk pabrik dan tempat usaha jenis lainnya. Bukan hanya di daerah pinggiran. Di sekitar kota Banyuwangi pun kini makin sulit melihat hamparan sawah. Sawah-sawah yang dulunya hijau memanjakan mata, kini telah berubah menjadi perumahan dan pabrik.
Memang, masih ada sawah di sekitar kota. Tapi, luasannya makin menyempit. Bisa jadi, sisa sawah yang ada itu akan bernasib sama. Dengan sawah-sawah di sekitarnya. Dalam waktu tidak sampai sepuluh tahun. ”Terus kita nanti makan apa, kalau sawah-sawahnya sudah hilang,” kata beberapa warga.
Sekilas, logika yang digunakan warga itu sangat sederhana. Tapi, dampak dari kekhawatiran rakyat kecil itu sebenarnya sangat besar. Sangat mungkin, itu merupakan sebuah peringatan. Bagi para pemangku kebijakan. Agar segera bertindak. Memberi solusi.
Bila sudah ada aturan dilarang membuat bangunan di lahan produktif, seyogianya dicek kembali efektivitasnya. Sejauh mana aturan itu benar-benar sudah ditegakkan. Benarkah tidak ada perumahan atau bangunan dalam bentuk lain berdiri di lahan produktif. Bila ternyata belum ada aturannya, harus segera dibuat. Secepat-cepatnya. Untuk mencegah terjadinya krisis lahan produktif.
Masalah kedua yang tak kalah peliknya adalah soal petaninya sendiri. Sama halnya dengan lahan, petaninya juga ikut-ikutan berkurang. Itu tecermin dari pernyataan Bu Ni’mah di atas: ”harus disiapkan betul generasi ke depan yang betul-betul bisa memajukan pertanian di Banyuwangi”.
Tidak gampang menyiapkan generasi muda pertanian. Atau bahasa kerennya: petani milenial. Apalagi, petani muda yang bisa memajukan pertanian di kota the Sunrise of Java. Apa pasal?
Memang, idealnya, petani milenial lahir dari keluarga petani. Tapi, harapan itu sulit diwujudkan, tampaknya. Justru banyak anak petani yang menggeluti bidang lain, Di luar pertanian. Misal, memilih menjadi pegawai. ASN maupun swasta. Jadi tentara. Jadi, pengusaha. Dll.
Mereka enggan melanjutkan pekerjaan orang tuanya (sebagai petani). Alasannya sangat masuk akal. Mereka melihat ”contoh yang gagal”. Mereka pun tidak ingin menjadi seperti orang tuanya. Yang hari-harinya habis di sawah. Dari pagi habis subuh sampai sore hari di sawah. Punggung dan kepalanya ”dibakar” matahari. Sementara hasil panennya hanya sebegitu-begitu saja. Tidak kurang dan tidak lebih. Dari tahun ke tahun.
Bagi kaum milenial, pekerjaan petani sangat tidak menarik. Apabila yang mereka lakukan masih konvensional. Butuh terobosan besar. Untuk menarik minat generasi milenial untuk mau ”nyemplung” sawah. Baik generasi muda dari keluarga petani, maupun generasi muda umumnya.
Misalnya, proses mengolah tanah awal. Sebelum ditanami padi. Selama ini, masih banyak yang menggunakan bajak. Baik ditarik sapi/kerbau. Maupun menggunakan mesin. Kedua-duanya menurut saya masih belum cukup menarik minat anak muda. Karena masih harus ”mengeluarkan” keringat berlebih. Beda lagi kalau ada alat yang memudahkan dan mempercepat proses pembajakan tanah sawah. Yang efektif dan efisien. Yang membuat anak-anak milenial tetap merasa keren, meski sedang membajak sawah.
Pekerjaan sawah yang membuat alergi golongan milenial ”nyempung sawah” adalah proses penanaman bibit padi. Kaki tercelup lumpur sawah. Badan harus membungkuk. Sudah begitu berjalan mundur. Bisa dipastikan, sangat sulit menemukan gadis milenial yang mau melakukannya.
Bukti berbicara, selama ini, penanam bibit padi mayoritas wanita tua. Itu pun statusnya buruh tani. Bukan pemilik sawah. Mereka berpindah-pindah. Dari satu sawah ke sawah yang lain. Di lain hari. Saya sering berpapasan dengan para wanita hebat itu. Diangkut pikap bak terbuka. Lima sampai 10 orang. Kebetulan juga, kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi di Grha Pena Banyuwangi, Jalan Brawijaya 77, Kebalenan, Banyuwangi, mepet sawah. Dari tangga terbuka lantai 2 dan 3, saya sering melihat para wanita hebat itu. Sedang beraksi menancapkan batang bibit padi ke tanah sawah berlumpur. Sambil membungkuk dan berjalan mundur!
Semua tua dan setengah baya. Tidak ada generasi milenial di antara mereka!
Proses menanam padi itu sebenarnya bisa menarik kaum milenial. Asal ada terobosan teknologi. Misalnya, ada mesin canggih untuk menanam padi, semacam robot petani. Kalau diminta mengoperatori robot atau mesin tanam padi itu, pasti anak-anak milenial akan berebut. Sebab, sesuai dengan dunia mereka. Yang serba modern dan canggih. Dan mudah pengoperasiannya.
Mengolah tanah dan menanam bibit sudah. Kecanggihan alat pemanen juga bisa jadi senjata ampuh menarik minat anak muda menjadi petani milenial. Konon, sudah ada alat pemanen canggih itu. Tapi, terus terang, saya belum pernah melihat tongkrongannya. Lalu cara kerjanya seperti apa. Kalau benar-benar sudah ada, saya kira alat pemanen itu akan sangat digemari oleh petani milenial. Yang enggan melakukan pekerjaan soro.
Wa ba’du. Niatan eksekutif dan legislatif Banyuwangi melakukan regenerasi petani sangat bagus. Patut didukung. Dengan catatan, jangan tanggung-tanggung. Apalagi berhenti pada gagasan saja. Pemerintah kudu menyiapkan terobosan teknologi pertanian. Tanpa itu, rasanya ide mencetak petani milenial hanya akan tampak gagah di wilayah wacana. Sementara realisasinya NOL BESAR. Eman kan. Apalagi sudah kadung mengeluarkan banyak anggaran. (Budayawan, Penulis Banyuwangi)
Editor : Rahman Bayu Saksono