Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Puisi-Puisi Ariya Ermiles

Ali Sodiqin • Senin, 20 September 2021 | 17:35 WIB
puisi-puisi-ariya-ermiles
puisi-puisi-ariya-ermiles


Patuhi Saja



 



Tampak tak ada



tapi ribuan nyawa menganga



 



Tampak tak ada tapi gigih menyerang



kapan saja



 



Masihkah kau congkak



dengan bukti yang nyata



 



Jaga jarak harus



meski pahit



enggan buang



 



Pakai masker perlindungan yang aman



pakai dengan senang



 



Cuci tangan janjikan menang



gamang buang



 



Musuh belum kalah



ayo serang



 



Belum layak kita sorak



bebas ke jalan menantang lawan



sementara sadar diri enggan



 



Kita makhluk tersayang



patuhi saja biar menang



untuk hidup kita yang panjang



 



(2020)



 



-----------------------------



 



Merindu



 



Pandemi ini menusukku



menyiksa waktuku



karena sepi tanpamu



 



Di mana dirimu



satu tahun yang lalu



sampai pandemi belum berlalu



kau tak menjumpaiku



 



Sepi ini merampasku



sampai hilang rasaku



kau terlalu



 



Seperti inikah cintamu



yang kau bilang semanis madu



nyatanya sepahit empedu



 



Pandemi ini membuatku cemburu



yang lain bulan madu



aku merindu



 



(2021)



-----------------------------



 



Sayonara



 



Katanya kita saudara



tapi mengapa hinaanmu tiada tara



padaku yang takut bersuara



 



Katanya kita saudara



tapi mengapa kau lapor tentara



kita tak setara



 



Di bawah pohon bidara



aku menahan lara



lukaku yang membara



 



Inikah yang namanya saudara



janji setia saat datang lara



ternyata lahirkan sengsara



 



Kau sebatas aksara



yang jauh dari bahtera



pandai pura-pura



namun mesra                      



 



Lalu,



pantaskah kita gembira



bila hati spora



 



Sekarang kita ucap saja sayonara



 



                                                (2020)



-----------------------------



 



 



Pelabuhan Terakhir



 



Ada yang ingin kubuang



di pelabuhan terakhir kita



riak-riak kecil yang sempat terdampar



kulempar selembut mungkin



tapi sulit membawaku ke tepi



 



: aku tetap mengenang



 



Di atas mega



kulihat hamparan luas



seolah memberiku anugrah



tapi aku salah



 



Lalu



aku kembali ke pelabuhan kita



mencari jejakmu



yang kutemukan pecahan luka



 



Aku terjebak



situasi ini tak terduga



pelabuhan itu bercerita



kau tenggelam bersama dia



bukan isu tapi nyata



 



Serpihan-serpihan luka



jatuh di pelabuhan kita



desir angin riuh ombak mesra



membisik padaku



 



: lupakan dia



 



(2021)



 



-----------------------------



ARIYA ERMILES



Lahir di Banyuwangi, Jawa Timur. Menjadi pengajar di SMA Muhammadiyah 2 Genteng. Penulis buku antologi empat sekawan terbit Februari 2021 dengan judul BERDAMAI DENGAN PANDEMI Karya Inspirasi Guru untuk Negeri.


Editor : Ali Sodiqin