Di kampung tempat Narya tinggal, musim kemarau identik dengan musim layangan. Saat sore hari, di satu-satunya lapangan sepak bola yang tak terurus, mereka para *pria dewasa berdiri saling berdampingan memegang benang, menatap ke langit, memperhatikan masing-masing layangan—sehingga angkasa penuh layangan yang beterbangan meliuk-liuk.
Namun bagi Narya yang baru kelas 5 SD, sore hari adalah waktu tersiksa karena tidak bisa ikut menikmati bermain. Bila ikut nimbrung, selalu dihardik mereka orang dewasa, seperti, ”Nanti bisa terkena senggol, bisa tersikut. Sudah, anak kecil menonton saja atau memegang gulungan benang.”
Meskipun begitu, Narya punya waktu sendiri untuk bermain layangan, ya seperti hari Minggu pagi ini.
Suasana masih sepi, baru pukul tujuh lebih seperempat, embun masih basah di rerumputan. Narya duduk sendiri di teras depan menunggu datang angin bertiup. Daun-daun di pohon mangga di depannya terus diperhatikan. Namun setelah beberapa lama, daun-daunnya tetap saja terdiam—yang berarti belum juga ada angin bertiup. Narya tahu, walau bagaimanapun seoptimal-optimalnya mencoba menerbangkan layangan tanpa ada angin, akan percuma saja, tidak akan mengangkasa.
Saat datang kesal, lewatlah Mang Jujun tetangga yang terhalang tiga rumah dari sebelah kanan rumah Narya, bersama kambing-kambing piarannya: dua ekor yang besar dan tiga ekor yang kecil untuk digembalakan. Semua kambing itu melangkah-langkah lincah, apalagi tiga ekor yang kecilnya, kentara sekali tidak mau terpisah.
Narya berpikir: hitung-hitung menunggu angin datang bertiup, mendingan mengikuti saja kambing-kambing Mang Jujun itu, yang seperti biasanya menuju lapangan sepak bola di depan rumahnya.
Mang Jujun pun mulai memasuki pinggir lapang, lalu mencari hamparan rerumputan yang tinggi. Mang Jujun berhenti di pinggir sebelah selatan. Lima ekor kambingnya refleks memakan rumput. Narya yang sedari tadi mengikuti, berjongkok di pinggir Mang Jujun yang berdiri.
Narya memperhatikan seekor kambing hitam bertanduk yang rakus memamah rumput. Dalam pandangan Narya, mata kambing ini sangat melotot dan selalu mencuri pandang—kadang padanya, kadang pada rumput—membuatnya takut dan khawatir bila tiba-tiba ditubruk—hingga sampai berkali-kali bersijingkat dari jongkok. Mang Jujun yang melihat kelakuan Narya, menjadi tersenyum-senyum sendiri.
Masih dalam keadaan berjongkok, Narya bertanya, ”Mang, kambing-kambing kan makan rumput, tetapi mengapa masih tetap hidup? Kalau manusia memakan rumput kan tidak mungkin, rasanya saja sudah tidak enak.”
”Ya, itu kan makanannya. Tuhan telah menciptakan berbagai jenis hewan, ada yang makan tumbuhan, daging, atau keduanya. Ada yang hidup di darat, di lumpur, di air, atau ada yang bisa terbang.”
”Ya Mang.” Narya acuh tak acuh menjawab karena tiba-tiba pucuk-pucuk daun bambu bergoyang di sebelah timur batas lapang. Narya gembira karena ini berarti angin hidup. Tanpa pamit pada Mang Jujun, dia berlari pulang untuk mengambil layang-layang beserta gulungan benang.
Tiba kembali di lapang, Narya langsung berlari ceria menuju ke tengah, mulai berancang-ancang menerbangkan layangan. Gulungan layangan dari kayu diletakannya di tanah. Ibu jari dan telunjuk kanannya menjepit benang nilon. Lalu layangan dilemparkan. Angin yang sedang kencang bertiup memudahkan layangannya terbang. Ya, sekejap saja sudah melambung terbawa angin ke atas—semakin tinggi dengan dibarengi uluran benang. Saat ketinggian dirasa cukup, Narya pun menahan benang, hingga layangan berhenti di angkasa.
Mata Narya tak berkedip menatap ke layangan bercap angka 11 berwarna hitam yang terdiam tenang. Kecuali bila ada angin mendadak atau angin berlawanan, layangan dengan cepat meliuk ke kiri, ke kanan, atau berputar-putar. Namun Narya telah siaga mengantisipasinya, sehingga layangannya bisa tetap berada di angkasa. Narya sungguh gembira, bibirnya sampai bergetar-getar. Ya, inilah surga anak-anak, surga sebayaku, pikirnya.
Narya selalu gesit mengendalikan layangan, dengan cara menarik atau mengulur benang. Layangan jangan sampai menukik, benangnya jangan sampai terkait pada ranting pohon, ranting bambu, atau antena TV punya orang. Itu musibah besar buat anak-anak, pikirnya.
Oh tiba-tiba, ada angin sangat kencang berembus, Narya nyaris kewalahan mengendalikan, layangannya meluncur cepat ke kiri, lalu menukik, sampai tak terlihat lagi, terhalang rimbunan bambu—membuatnya menjadi panik. Segeralah benang diulurkan... lalu, stop! Ditariknya lagi benang, lalu tampaklah layangannya yang kembali naik ke atas. Narya pun lega. Hingga terlena sendiri.
Tak berapa lama, saat menoleh ke arah pinggir lapang yang tak jauh, tampak Mang Jujun sedang tersenyum-senyum padanya. Narya pun membalas menyunggingkan senyum. ”Iya Mang, aku sedang senang,” katanya dalam hati.
Narya pun kembali terlena dengan layangannya. Mata terus menatap ke arah langit, tangan selalu sibuk mengendalikan layangan—entah sampai berapa lama. Hingga tahu-tahu, Mang Jujun sudah berada di sampingnya, berkata, ”Sudah mulai panas, berteduh dulu?”
Lugas Narya menyahut, ”Nanti saja. Tanggung sedang senang.”
”Ayo ah. Mang ada perlu dulu ya.”
”O iya Mang.” sahut Narya tanpa menoleh.
Matahari pun mulai meninggi, sudah mulai terik. Tetapi Narya tetap saja riang. Ya, menjelang siang begini memang bisa leluasa—tidak ada gangguan. Suasana benar-benar dapat dinikmati. Mata termanjakan menatap layangan yang meliuk, menari. Narya benar-benar riang, pun selalu abai pada keringat yang telah berkali-kali mengalir di pelipis—yang pada akhirnya selalu menjadi kering sendiri karena terpapar sinar matahari atau karena disusut lengan baju pendeknya.
Meskipun begitu, karena telah sekian lama hanya seorang seorang diri di tengah lapang, Narya pun sesekali celingak-celinguk, ke sekitar lapang, atau ke angkasa yang memang hanya ada satu layangan yang terbang miliknya. Hingga pada akhirnya, kepalanya dirasakannya pusing—memang karena tidak mengenakan topi, terpapar sinar matahari. Lalu, saat terbengong memandang ke angkasa, tiba-tiba... tali benang layangannya putus sendiri, membuatnya mendadak menjadi kalang kabut.
Di sebelah kiri lapangan yang berupa jalan kampung, terlihat satu motor sedang melaju cukup kencang menuju ke arah timur. Narya khawatir, bagaimana kalau tali benang yang putus itu melintang ke jalan?
Rupanya kekhawatiran Narya menjadi kenyataan. Lintangan benang mengenai muka pengendara, membuat pengendaranya kaget setengah mati, motor pun oleng, jatuh menindih.
Badan Narya mendadak gemetar, hatinya berdebar-debar kencang. Meskipun begitu, tidak kabur karena tidak mau mendapat amarah yang lebih angkara. Dengan takut-takut, motor itu didekatinya. Narya sungguh kaget saat melihat di leher pengendaranya ada darah karena goresan cukup dalam oleh lintangan tali benang layangan.
Narya pun berkata parau, ”Ya Tuhan, Mang Jujun. Maafkan aku.” (*)
Bandung, Juli 2021
-------------------
*) Gandi Sugandi, alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Mulai tahun 2002 bekerja di Perum Perhutani. Tahun 2014, 2015 mendapatkan penghargaan sebagai karyawan berprestasi. Saat ini sebagai staf Komunikasi Perusahaan KPH Bandung Selatan.
Editor : Ali Sodiqin