RadarBanyuwangi.id – Prihatin dengan banyaknya jumlah sampah plastik yang menumpuk, membuat Desy Darmawati Setyaning Utami tergerak. Dia pun menciptakan karya dari bahan plastik bekas.
Sampah plastik yang banyak terbuang sia-sia setiap hari mengundang keprihatinan Desy Darmawati Setyaning Utami. Perempuan kelahiran Lumajang 7 Desember 1977 ini mulai tergerak untuk menciptakan sesuatu yang berasal dari sampah plastik kresek.
Untuk menciptakan satu karya yang memiliki manfaat dan bernilai jual, tidak terlalu sulit bagi warga yang tinggal di Perumahan Brawijaya Regency Blok C 22, Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi ini.
Desy mengaku, keterampilan dalam membuat desain baginya tidak terlalu sulit. Maklum sejak tahun 1997 dia pernah mengikuti Lembaga Pendidikan Kejuruan (LPK) Persatuan Ahli Perancang Mode Indonesia (PAPMI) di Jogjakarta.
Berbekal ilmu pengetahuan dan pengalaman dari situlah, Desy mulai mengaplikasikan ilmunya tersebut. Hanya saja, satu tantangan yang harus dia kerjakan yakni membuat desain berbahan plastik dan bahan bekas lainnya. ”Awal membuat tidak langsung jadi bagus tas seperti ini,” ungkapnya.
Dengan ketekunan dan ketelatenan yang dimilikinya, pada tahun 2003 lalu dia mulai membuat tas berbahan plastik kresek. Plastik kresek yang banyak terbuang sia-sia di rumah dan sekitar lingkungan perumahan dia pungut. Selanjutnya, plastik kresek dicuci bersih dan dikeringkan. Setelah terkumpul, plastik kresek kemudian mulai didesain menjadi sebuah tas yang dipadu dengan bahan lainnya seperti kain dan dijahit menggunakan benang. ”Kebetulan di rumah saya punya mesin jahit, jadi saya produksi sendiri,” katanya.
Tanpa disangka, tas berbahan sampah plastik kresek buatannya menjadi sebuah karya yang sangat mengesankan. Terbukti, sejumlah tamu yang datang ke rumahnya kerap kali kepincut dengan tas buatannya. ”Sepintas jika dilihat dikira tas branded yang berharga mahal, setelah dipegang dan tahu berbahan plastik banyak yang terpukau dan tidak percaya,” ujar istri Amir Muslimin ini.
Satu tas plastik karyanya juga pernah laku terjual dan dibanderol dengan harga Rp 250 ribu. Padahal bahan bakunya terbuat dari sampah. Desy juga menyulap sampah plastik menjadi boneka yang menyerupai wayang. Boneka sampah plastik itu dibuat berikut dengan pegangan dan menjadi karakter wayang dengan tangan yang bisa digerakkan menggunakan benang yang dihubungkan dengan sedotan bekas.
Menjadikan sampah plastik sebagai bahan baku karya bukan tanpa alasan. Desy mengatakan, sampah plastik banyak terbuang sia-sia dan sampah plastik merupakan sampah yang susah terurai dalam waktu cukup lama. Itulah alasan sederhana yang mendasarinya menjadikan sampah plastik menjadi salah satu karya yang bermanfaat. Yang ada di benaknya, bagaimana caranya menyulap barang bekas menjadi sebuah karya yang bermanfaat untuk manusia dan lingkungan.
Yang terbaru, untuk mengurangi penggunaan sampah plastik, melalui wadah Dharma Wanita Persatuan dia juga mulai membuat tas berbahan baku spunbond yang kuat dan tahan lama serta bisa dicuci jika kotor. Tas tersebut bisa digunakan untuk berbelanja dan bisa mengurangi penggunaan plastik kresek.
Bukan hanya sampah plastik saja yang telah dibuat menjadi sebuah karya. Melainkan juga banyak karya lainnya yang telah diciptakan yang juga dari bahan bekas. Misalnya kain perca menjadi keset, tempat tisu, dan dompet. Sampah botol air mineral bekas juga dicat menggunakan cat lukis menjadi pot bunga, kertas bekas juga disulap menjadi pengganti clay, kertas kado, vas bunga, dan masih banyak kerajinan lainnya.
Meski telah banyak karya yang diciptakan dari bahan bekas, Desy tak pernah pelit untuk menularkan ilmu kreatif yang dimiliki. Saat jam kosong sesudah mengurus rumah tangga, dia kerap mengisi materi ke rumah-rumah warga hingga ke lembaga pemasyarakatan (lapas). Dia mengajari para napi dan warga binaan lapas dengan keahlian mengelola bahan bekas menjadi barang berguna dan bernilai jual.
Satu lagi kreasi Desy yakni ecoprint atau membatik tidak menggunakan canting. Tetapi membuat motif yang dicetak di atas kain dengan bahan pewarna alam. Untuk menghasilkan kualitas bagus butuh proses dua hingga tiga minggu. ”Pokoknya bagaimana cara yang kita lakukan ramah lingkungan dan bermanfaat bagi manusia dan alam, itu semua tergantung bagaimana kreativitas, keuletan, dan ketelatenan kita,” tandasnya. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin