RadarBanyuwangi.id – Slamet punya skill dan ketelatenan ”tingkat dewa”. Dia layak disebut spesialis seniman kertas koran. Dari tangannya lahir replika dan miniatur bernilai seni tinggi.
Tak hanya kertas koran bekas, Slamet juga sering memanfaatkan material barang bekas lainnya. Sebut saja bungkus plastik kemasan kopi, kain perca, dan sebagainya. Material itu dimanfaatkan dan disulap menjadi sejumlah keterampilan menarik.
Salah satunya, kertas koran bekas yang disulap menjadi miniatur kapal laut, rumah adat, miniatur Menara Eiffel, miniatur Monumen Nasional (Monas), miniatur masjid, miniatur candi, dan berbagai jenis replika karya seni lainnya.
Warga Jalan Penataran 16, Lingkungan Mulyoasri, Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi itu, sudah tujuh tahun terakhir memanfaatkan bahan bekas menjadi kerajinan. Semua karyanya pun bernilai jual.
Sementara itu, proses pembuatan replika miniatur dari kertas koran bekas terbilang cukup rumit. Tahap awal, kertas koran harus dipotong menjadi enam bagian sama rata. Selanjutnya, kertas digulung menggunakan lidi. Setelah dilinting, baru kertas siap dibentuk dengan pola sesuai keinginan dengan disatukan menggunakan lem.
Tidak hanya kertas koran, bekas potongan kain dan bungkus plastik kemasan kopi saset juga dimanfaatkan dengan membuat kerajinan tas dan bunga. ”Pokok apa pun yang dibuang percuma, dan sampahnya cukup banyak, saya coba manfaatkan menjadi kerajinan,” ujar lelaki berusia 61 tahun itu.
Slamet tidak memiliki keahlian khusus. Sejumlah kerajinan tersebut dia coba sendiri secara otodidak. Hasil karyanya hanya dipajang di warung makan yang ada di rumahnya. Tak sia-sia, replika rumah adat, kapal laut, Menara Eiffel, Monas, masjid, dan candi hasil karyanya ternyata juga mulai dilirik masyarakat.
Sejauh ini, cukup banyak hasil kerajinan miliknya yang laku terjual. Harga replika kapal laut dari kertas koran dijual seharga Rp 75 ribu. Harga tersebut tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Dia juga kerap mendapat pesanan merangkai kerajinan mahar hantaran pernikahan. ”Karena bahan bekas, harganya juga masih terjangkau,” jelas kakek empat cucu ini. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin