RadarBanyuwangi.id – Banyak pedagang ternak yang menyebut koleksi dagangannya adalah jenis etawa. Namun hampir dipastikan, untuk jenis kambing ini, yang ada di Indonesia adalah jenis peranakan etawa (PE).
Kambing jamnapari. Mungkin, Anda akan mengernyitkan dahi ketika mendengar istilah tersebut. Maklum, istilah ini cukup asing di kalangan masyarakat yang awam terhadap dunia peternakan.
Namun bisa jadi ekspresi berbeda akan muncul ketika mendengar istilah kambing etawa. Bahkan, bisa jadi yang terlintas di benak kita adalah kambing jenis unggul.
Sebenarnya, kambing jamnapari merupakan sebutan lain dari kambing etawa. Namanya memang terkesan ke-India-India-an. Maklum, kambing etawa merupakan kambing yang berasal dari India.
Tinggi kambing etawa jantan bisa mencapai 90 centimeter (cm) hingga 130-an cm. Sedangkan tinggi kambing etawa betina hanya mencapai 92 cm. Secara umum, tinggi kambing itu berbanding lurus dengan bobot yang dimiliki. Bobot kambing etawa jantan bisa mencapai 91 kilogram (kg), sedangkan kambing etawa betina hanya mencapai 63 kg.
Ciri-ciri kambing ini memiliki telinga yang panjang dan terkulai ke bawah. Bentuk dahi dan hidungnya cembung. Baik kambing etawa jantan maupun betina sama-sama memiliki tanduk pendek.
Kambing jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari. Tak heran, kambing jenis ini banyak dimanfaatkan untuk produksi susu yang dipercaya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.
Namun di sisi lain, di Indonesia, khususnya di Banyuwangi, keberadaan kambing etawa murni nyaris nihil. Hal ini pun dibenarkan Kepala Bidan Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dinas Pertanian Banyuwangi drh Nanang Budiharto. ”Di Indonesia, termasuk di Banyuwangi, bisa dikatakan tidak ada kambing etawa. Yang ada adalah kambing peranakan etawa alias kambing PE,” ujarnya.
Menurut Nanang, kambing PE merupakan kambing hasil persilangan antara kambing etawa dengan kambing lokal. Sebagian warga menyebut kambing PE dengan istilah kambing kaligesing.
Informasi yang berhasil dikumpulkan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, kambing PE merupakan rumpun kambing lokal Indonesia yang telah dibudidayakan secara turun-temurun dan menjadi kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia. Bahkan, melalui Keputusan Nomor 695/Kpts/PD.410/2/2013, Menteri Pertanian (Mentan) RI telah menetapkan kambing PE sebagai rumpun kambing lokal Indonesia.
Nanang menambahkan, kambing PE tidak hanya dibudidayakan untuk produksi susu. Lebih dari itu, kambing ini juga dibudidayakan sebagai kambing pedaging.
Di sisi lain, di Banyuwangi terdapat sejumlah peternakan yang menjadikan produksi susu kambing sebagai bisnis utama. Tidak sedikit yang menambahkan embel-embel susu etawa murni pada kemasan susu kambing tersebut.
Sejumlah warga pun meyakini susu kambing etawa maupun kambing PE memiliki sejumlah manfaat untuk kesehatan. Di antaranya dapat membantu menyembuhkan penyakit maag, gangguan pernapasan, diabetes, kanker, hingga pengeroposan tulang.
Salah satu warga, Agus mengaku gemar mengonsumsi susu kambing etawa. Dia mengaku, selain meyakini susu kambing etawa bisa membantu menyembuhkan beberapa jenis penyakit, minum susu kambing jenis yang satu ini juga dapat meningkatkan stamina. ”Minum susu kambing etawa baik untuk vitalitas pria,” kata pria yang tinggal di wilayah Kelurahan Kebalenan ini sembari tersenyum. (sgt/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin