Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Naturalisme Bunga Desa

Ali Sodiqin • Minggu, 28 Maret 2021 - 20:00 WIB
naturalisme-bunga-desa
naturalisme-bunga-desa


Keren. Natural. Bupati Ngantor di Desa. Disingkat ”Bunga Desa”. Model kerja Bupati Ipuk dan Wabup Sugirah itu layak diteruskan. Disempurnakan terus. Cocok dengan karakteristik Banyuwangi. Cocok pula dengan heterogenitas sosial dan masalahnya.



Ini tentu dari sudut pandang saya. Yang menggeluti antropologi. Yang suka menulis dari lapangan. Yang berusaha menangkap ”detail”. Juga, tanda-tanda kebudayaan lain. Guna menyibak makna secara emik.



Saya menjadi saksi Bunga Desa. Saat putaran keempat, Rabu, 24 Maret 2021. Di Desa Sarongan, Kecamatan Pasanggaran. Desa yang  sebagian wilayahnya seperti Pantai Rajegwesi, Teluk Hijau, dan Pantai Sukamade berada dalam naungan Taman Nasional Meru Betiri. Menurut Google, Desa Sarongan berjarak 62,4 km dari Kantor Bupati Banyuwangi. Butuh sekitar 2 jam perjalanan darat. Saya dibisiki Kepala Dinas Pendidikan. Meski jauh dari pusat kota, katanya, kesadaran pendidikan warga Sarongan tergolong tinggi.



Saya memang terpikat Bunga Desa. Tertarik menggunakan perangkat akademik saya. Untuk membacanya. Maka, begitu mendengar hendak diselenggarakan di Sarongan, desa pinggiran yang jauh dari Kantor Bupati Banyuwangi, saya memutuskan hadir di lapangan. Agar bisa melihat, mendengar, merasakan langsung ”detail”. Juga, tanda-tanda kebudayaan lain. Yang terpintal pada Bunga Desa. 



Saya menyaksikan Bunga Desa itu relatif natural. Apa adanya. Tidak terkesan dibuat-buat. Bukan disulap sesaat hanya buat menyenangkan sang bupati. ”Biarkan desa berbicara apa adanya,” mungkin seperti itu pesan Ipuk kepada bawahannya.



Saya melihat Ipuk melangkah dengan ringan. Tidak canggung. Mendatangi ibu-ibu dan anak-anak di Puskesmas Pembantu Desa Sarongan. Ada yang hendak memeriksakan kesehatannya. Ada pula yang hendak mengambil susu.



Kata-kata Ipuk pun meluncur renyah. Memancing perbincangan. Menumbuhkan semangat, optimisme, dan kepercayaan diri. Meski dia sambil duduk jongkok. Di hadapan ibu-ibu yang duduk di kursi memangku anaknya. Tangan bupati pun tampak ringan menyentuh-membelai anak-anak desa itu. Tanda empati dan simpati yang kuat.



Langkah Ipuk, kata-katanya, belaiannya, tentu tak mengubah realitas sosial. Tak ada realitas sosial berubah tiba-tiba. Tak ada bimsalabim seperti pertunjukan sulap. Perubahan realitas sosial butuh kebijakan publik.



Tapi, jangan salah. Pemimpin juga bukan mengurus kebijakan publik saja. Pemimpin harus menenangkan rakyatnya. Memberikan insight bagi rakyatnya. Pemimpin haruslah menghilangkan apa yang oleh Bung Karno disebut ”ketakutan masa depan”. Kata Bung Karno, ketakutan masa depan adalah bahaya yang lebih besar daripada bahaya itu sendiri. Karena, ketakutanlah yang mendorong manusia bertindak bodoh. Bertindak tanpa berpikir.



Maka, kehadiran Ipuk di tengah rakyatnya, kata-katanya, dan belaiannya, yang natural, niscaya bisa membunuh ketakutan itu. Apalagi menghadapi dampak pandemi Covid-19. Yang melumpuhkan sendi-sendi kehidupan. Juga, menggelapkan harapan. Terutama buat kalangan bawah. Ketakutan lalu digantikan keinginan. Yang kuat dari dalam hati. Saya mengamini Bung Karno. Katanya, ”Jika kita memiliki keinginan yang kuat dari dalam hati, maka seluruh alam semesta akan bahu-membahu mewujudkannya.”



Naturalisme Bunga Desa juga tampak di tempat pembuatan gula merah (gula kelapa). Titik lain yang dikunjungi Ipuk. Bupati menyapa dan menemui ibu-ibu pembuat gula merah. Dia juga dengan ringan menuju dapur produksi gula merah. Tempat dan suasananya pun apa adanya. Khas produksi tradisional. Yang terkesan kotor dan tak nyaman. Lalu, Ipuk berbincang-bincang dengan tuan rumah. Dengan penuh perhatian, dia mendengarkan penjelasan produksi gula merah. Dengan cekatan pula –semula agak ragu-ragu— tangannya menuangkan gula merah cair yang panas ke dalam cetakan. Dia juga mencicipi legen (nira kelapa, bahan gula merah).



Saat menuangkan gula merah cair, saya kira, dia juga melihat potensi Sarongan. Barangkali bukan hanya melihat. Tapi, juga berpikir pengembangannya. Potensi Sarongan dalam produksi gula merah pastilah besar. Dilihat dari bahan baku, pohon kelapa yang tumbuh di Sarongan.



Tapi, teknologi pengolahannya masih sangat tradisional. Pastilah sulit menghasilkan produk yang standar, baik kuantitas maupun kualitas. Yang masalahnya berujung pada pasar (harga). Gula merah produk Sarongan sejauh ini dijual kepada pengepul setiap dua hari sekali. Di samping untuk memenuhi kebutuhan gula salah satu perusahaan makanan nasional, PT Indofood. Saya melihat tantangan Bupati Ipuk. Benarkah manisnya gula merah Sarongan juga berbuah manis bagi para pembuatnya? Kesan luar yang saya lihat, hidup pembuatnya masih jauh dari rasa manis gulanya.



Di Sarongan Ipuk belanja gula merah. Dibawanya ke pendapa. Tapi, saya kira, dia bukan hanya membawa gula merahnya ke pendapa. Ipuk niscaya juga membawa tantangannya. Belanja gula merahnya, sekaligus belanja tantangannya. Tepatlah bila di Sarongan Ipuk juga membawa pejabat Dinas UMKM dan bank. Apalagi dia punya program UMKM Naik Kelas.  



Bunga Desa ternyata bukan hanya memindah tempat ngantor. Saya melihat sejumlah pejabat pemkab di Sarongan kemarin. Bupati juga mengajak pejabat BPN, perbankan, BUMD, dan lainnya. Kata Ipuk, ada sejumlah hal yang dibahas bersama pejabat tersebut di Sarongan. Memang itulah esensi ngantor. Mau di pendapa maupun di desa.



Tapi, Bunga Desa punya dimensi ganda yang ampuh justru berkat naturalismenya. Karena naturalisme itu saya melihat orang-orang BPD Sarongan pun dapat menyampaikan keluhannya kepada bupati secara relaks. Ipuk pun merespons secara relaks. Di pendapa desa.



Saya mengamini naturalisme itu. Esensi ngantor-nya dapat. Belanja masalahnya pun dapat. Dan, ini yang tak kalah penting, insight bagi rakyat pun dapat. Pemimpin memang harus pula menenangkan. (*)



*) Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi


Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #catatan #opini