Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sinergi Merajut Prestasi

Ali Sodiqin • Rabu, 13 Desember 2017 | 01:30 WIB
sinergi-merajut-prestasi
sinergi-merajut-prestasi

BANYUWANGI Kota Prestasi. Sebutan itu tidaklah berlebihan. Faktanya memang seperti itu. Hampir setiap pekan Bupati Abdullah Azwar Anas menerima penghargaan. Sepanjang 2017 ini. Mulai penghargaan tingkat provinsi sampai nasional.

Penghargaan yang diterima tak jauh-jauh dari penyelenggaraan pemerintahan. Idealnya, penghargaan itu bisa menjadi inspirasi. Menular ke aspek yang lain. Dan naga-naganya, muncul semangat berlomba-lomba memberi yang terbaik bagi kota berjuluk The Sunrise of Java ini. Tentu saja, harus dicatat, semangat boleh menggebu, tapi jangan pernah lupakan proses. Terutama untuk bidang-bidang yang terukur. Seperti olahraga, misalnya.

Sekadar mengingatkan, belum lama ini Banyuwangi mengirim kontingen ke Lumajang. Tepatnya pada 13-18 November 2017. Mengikuti pekan olahraga (POR) SD/MI se-Jatim. Hasilnya? Tak terdengar. Seperti ditelan bumi. Ada dua kemungkinan kenapa tak ada gaungnya.

Pertama, prestasi kontingen Bumi Blambangan jeblok. Kondisi itu menyebabkan munculnya kemungkinan kedua: masa prestasi tidak bagus mau dipublikasikan. Malu dong!

Melihat periodisasi penyelenggaraannya, ada cukup waktu untuk menyiapkan atlet. Sekadar diketahui, POR SD/MI diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Dua tahun seharusnya cukup untuk mencari dan melakukan seleksi atlet berbakat. Lalu melatihnya dengan serius dan profesional. Dengan catatan, seleksi dilakukan dengan benar dan adil. Seleksi yang baik, benar, dan adil hanya bisa dilakukan lewat kompetisi yang benar pula. Bukan kompetisi asal-asalan.

Kompetisi yang benar adalah kompetisi yang diikuti oleh peserta yang layak. Kelayakan peserta bisa diukur dari pembinaan yang diterimanya. Misal, si atlet menjalani program latihan di sekolah secara periodik. Bisa sekali dalam sepekan atau lebih. Pembinaan itu harus rutin. Dan istikamah. Bukan baru dibina menjelang akan digelarnya kompetisi. Seperti pesan Kadispora Jatim Supratomo ketika membuka POR SD/MI di Lumajang: ”POR SD/MI merupakan fondasi dalam sistem pembibitan dan pembinaan olahraga di Jawa Timur,” tegasnya seperti dilansir media.

Jelas sekali pesan Kadispora Jatim. POR merupakan fondasi sistem pembibitan dan pembinaan. Lalu siapa yang harus melakukan pembibitan dan pembinaan. Setidaknya ada empat lembaga: Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, Dinas Pemuda dan Olahraga, dan KONI. Ketiganya harus sinergi. Tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Tidak boleh membuat program sendiri-sendiri. Program KONI harus mendukung program yang dibuat Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Pun program Dinas Pemuda dan Olahraga. Sebab, sesuai namanya peserta POR SD/MI adalah siswa SD dan MI.

Bisakah mereka sinergi. Sangat bisa. Yang tidak bisa itu kalau di antara mereka terjangkit penyakit egosentris. Merasa paling berhak dan bisa. Penyakit egosentris sangat bahaya. Membuat pembibitan dan pembinaan tidak efektif. Dan sulit mengukurnya. Misalnya, Dinas Pendidikan atau Dinas Pemuda dan Olahraga setiap tahun hanya menganggarkan dana untuk pengiriman atlet ke sejumlah event. Mereka tidak menganggarkan dana untuk pembinaan alias latihan rutin. Yang terjadi adalah mengirim atlet instan. Atlet simsalabim. Asal tunjuk siswa yang dianggap bisa olahraga tertentu. Atau, ini agak mendingan, menunjuk siswa yang tercatat sebagai binaan atlet sebuah cabang olahraga (cabor).

Padahal, dalam olahraga tidak ada yang instan. Prestasi hanya akan diraih oleh atlet yang menjalani proses panjang. Yang demikian itu sebenarnya sudah dilakukan oleh pengurus cabor. Tapi, seperti kita tahu, berapa sih anak-anak kita yang berkesempatan latihan di sebuah cabor. Atau pakai bahasa sederhana: berapa yang berminat latihan bersama induk cabor.

Agar anak-anak kita, siswa sekolah semangat berlatih dan sekolah giat melatih siswanya, perlu kiranya digelar event bersama. Sinergi antara Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, Dinas Pemuda dan Olahraga, dan KONI. Dengan kerja keroyokan, insya Allah, alasan klasik soal dana bisa diatasi. Toh, yang namanya kompetisi antarsiswa sekolah sebetulnya tidak membutuhkan anggaran besar untuk hadiah. Bagi siswa, sertifikat juara jauh lebih berharga dibanding dengan hadiah uang. Dan yang terpenting lagi, siswa berharap bisa mendapatkan pembinaan yang profesional.

Event-nya bisa setahun sekali. Tapi pelaksanaannya dilakukan sebulan sekali. Atau sepekan sekali. Tergantung dari banyaknya cabor yang dikompetisikan. Kalau mengacu pada POR SD/MI di Lumajang, ada 11 cabor: atletik, bola voli mini, bulu tangkis, catur, panahan, pencaksilat, renang, senam, sepak takraw, tenis lapangan, dan tenis meja. Ditambah selam sebagai cabor ekshibisi. Sebelas cabor itu saja untuk sementara yang dikompetisikan. Atau ditambah cabor lainnya yang juga potensial.

Bayangkan, kalau sepekan sekali di GOR Tawang Alun dan venue lainnya ada kompetisi, betapa akan bergairahnya olahraga yang melibatkan siswa Banyuwangi. Lebih dari itu, akan sangat mudah menemukan calon-calon atlet berbakat dari seluruh Bumi Blambangan. Sebab, Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Banyuwangi harus mewajibkan setiap sekolah di lingkungannya untuk mengirimkan siswanya.

Selanjutnya, para juara di masing-masing cabor yang dikompetisikan dimasukkan dalam pemusatan latihan. Di bawah pembinaan khusus KONI melalui pengurus masing-masing cabor. Pasti KONI sangat diuntungkan. Sebab, cabor-cabornya akan membina atlet-atlet potensial. Mereka sudah terbukti juara dalam sebuah kompetisi tingkat kabupaten.  

Wa ba’du. Tulisan ini akan bermakna jika empat lembaga yang saya sebut di atas punya semangat yang sama. Yakni, mau melakukan pembibitan dan pembinaan atlet secara benar. Coba bayangkan, kalau anggaran pembinaan olahraga di empat lembaga itu disatukan berapa duit yang terkumpul. Pasti sangat berlebih dipakai untuk menggelar sebuah kompetisi. Kecuali kalau di antara mereka lebih suka berjalan sendiri-sendiri. Atau bisa jadi mereka malah sudah bersinergi menggelar kompetisi. Saya saja yang tidak tahu. Pembaca ada yang tahu kompetisi yang digelar bersama keempat lembaga itu. silakan angkat tangan! (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #samsudin adlawi