Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

New Kepala Desa

Ali Sodiqin • Selasa, 5 Desember 2017 | 19:15 WIB
new-kepala-desa
new-kepala-desa

PILKADES (Pemilihan Kepala Desa) di Banyuwangi beberapa waktu lalu berjalan lancar. Alhamdulillah, 51 desa di Bumi Blambangan punya kepala desa (kades) baru. Mereka akan dilantik 7 Desember. Tapi masih bisa berubah jadwalnya. Bisa maju atau mundur. Sebab, itu baru rencana.

Para kades itu ada yang benar-benar baru. Mereka figur baru dan baru ikut pilkades. Ada yang baru tapi lama. Mereka adalah kades incumbent. Yang maju lagi karena memang dibutuhkan rakyatnya. Karena dibutuhkan rakyat, ia tidak perlu mengeluarkan biaya banyak. Beda dengan incumbent yang GR (Gedhe Rumangsa). Ia merasa dibutuhkan dalam pemilihan. Padahal, misalnya, tidak sampai separo rakyatnya yang suka atas kepemimpinannya. Butuh perjuangan ekstra keras untuk bisa menang. Konsekuensinya, butuh biaya politik yang tidak sedikit untuk bisa menang. Ibarat kendaraan agar bisa mencapai tujuan yang jauh, dibutuhkan bensin yang lumayan banyak. Masak ke Surabaya tangki kendaraan hanya diisi seliter bahan bakar.

Menjelang pelantikan, perasaan para kades itu pasti macam-macam. Ada yang hatinya berbunga-bunga. Ada yang tak bisa menghentikan senyumnya. Ada yang dagdigdug derrr dadanya. Yang pasti, seperti apa pun perasaannya, seyogianya mereka mulai bersiap-siap. Buang jauh mimpi-mimpi indahnya. Ganti dengan persiapan diri untuk memimpin. Tidak mudah menjadi pemimpin yang baik. Yang amanah.

Sepintas memang tampak ringan memimpin desa. Berbeda dengan kecamatan atau kabupaten, warga yang dipimpin kades jauh lebih sedikit. Itu fakta. Tapi sedikitnya warga tidak menjamin persoalannya lebih sedikit pula. Pasti persoalannya juga kompleks. Sama seperti di kecamatan atau kabupaten. Nah, sedikit banyaknya masalah tergantung dari kepemimpinan. Makin mumpuni kadesnya, makin sedikit persoalan di desanya. Sebaliknya, kalau kadesnya lolalohok, persoalan yang awalnya sedikit akan berkembang menjadi banyak. Seperti api yang membakar belukar di hutan. Terlambat sedikit memadamkannya, dalam waktu singkat sudah menjelma kebakaran hebat.

Saya tidak tahu persis motivasi orang ikut pilkades. Mudah-mudahan tidak untuk tujuan mengejar tujuan pribadi. Seperti untuk mengangkat prestise. Agar naik derajat. Dipanggil Pak Kades. Atau semata-mata untuk mengejar hasil bengkok. Atawa karena tergiur bantuan Alokasi Dana Desa (ADD) dari pemkab. Dan mengejar Dana Desa (DD) dari pusat yang jumlahnya hampir semiliar.

Warga di 51 desa yang punya New Kades pasti punya harapan besar desanya bertambah maju. Di bawah kepemimpinan kades yang baru. Bukan malah sebaliknya: tidak berkembang sama sekali. Adanya New Kades dengan tidak adanya New Kades sama saja. Atau malah sebaliknya. Setelah ada New Kades desanya malah semakin mundur. Sebab, kades barunya tidak kunjung bisa lepas dari ’bulan madu’ atas kemenangannya. Karena keasyikan menjadi pejabat ia lupa sama tugas utamanya, yakni memimpin warga dan desanya. Waktunya habis hanya untuk menghadiri acara-acara dan juga foya-foya.

Menjelang pelantikan, di tengah kesibukan menyapa warga yang telah memilihnya dan silaturahmi kepada para koleganya, para New Kades juga melakukan konsolidasi. Mulai menyusun program yang akan dilakukan sejak hari pertama dilantik. Pagi dilantik, hari itu juga mulai bekerja. Tidak usah menunggu setelah acara tasyakuran. Tasyakuran tidak ada yang melarang. Tapi janganlah menanggap wayang sampai sepekan!

Program yang disusun harus fokus dan jelas. Mana yang masuk program jangka pendek. Mana yang menengah. Dan mana yang masuk jangka panjang. Jangan dicampur aduk. Atau malah menyusun program yang tidak jelas timeline-nya. Program yang dikerjakan semau-maunya. Semau gue (kata orang Jakarta). Sak enake udele dewe (kata kita).

Melihat latar belakang para New Kades, kita tidak bisa berharap 51 desa yang punya kades baru akan sama-sama maju. Pasti akan ada yang melesat maju. Ada yang tertatih-tatih. Ada yang slowly. Terutama yang punya prinsip hidup: alon-alon waton kelakon. Dalam organisasi besar bernama pemerintah daerah, seharusnya hal seperti itu diminimalisasi. Idealnya harus diselaraskan. Harus sama-sama maju. Kalau pun tidak bisa maju bersama, harus diupayakan bedanya tidak jauh-jauh amat. Tipis-tipis sajalah. Untuk penyelarasan itu hanya ada satu jalan: lewat pelatihan singkat kepemimpinan. Lewat short course, para New Kades dilatih bagaimana menjadi pemimpin yang baik, pemimpin yang bertanggung jawab, dan yang paling penting: diajari cara menyusun program dan mengelola anggarannya secara akuntabel.

Yang paling akhir itu harus jadi materi utama. Untuk menyelamatkan para New Kades dari godaan setan yang terkutuk. Yang menyusup di sela-sela tumpukan dana ADD dan DD. Siapa orangnya yang matanya tidak spontan berubah hijau begitu melihat uang ratusan juta hingga miliaran rupiah. Apalagi stempel New Kades selalu di genggamannya. Sekali gedok, beres semua.

Tentu kita tidak ingin melihat hal itu terjadi. Kita tidak ingin ada kades yang tidak amanah. Mengkhianati warga yang telah memilihnya. Kita ingin para New Kades menjadi pelopor kemajuan di desanya. Bahkan menjadi tokoh yang menginspirasi warga desanya. Makanya, kita berharap mereka mau belajar. Banyak membaca. Bila perlu memelopori gerakan membaca di desa yang dipimpinnya. Sebab, hanya dengan membaca wawasan seseorang akan bertambah. Dengan membaca kebiasaan menggosip akan berkurang. Menggosip itu tidak hanya membicarakan orang lain. Tapi membaca konten-konten rasan-rasan di medsos itu juga bagian dari menggosip lo....

Akhirnya, selamat buat para New Kades. (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #samsudin adlawi