PRIHATIN. Sedih. Dua perasaan itu campur aduk. Menyesak dalam dada. Ketika saya melihat pohon-pohon di pinggir jalan ditebang. Lebih memprihatinkan lagi, bukan hanya rantingnya. Bukan juga dahannya. Tapi juga batangnya yang ditebas.
Aksi tebang itu dilakukan oleh dinas terkait. Juga pihak terkait. Tujuannya bagus. Bagi tim dari dinas di lingkungan pemkab Banyuwangi tujuannya adalah:
1. Agar tidak mengganggu lampu penerangan jalan. Sebab, posisi lampu penerangan jalan rata-rata menjulang. Setinggi pohon yang ditanam di pinggir jalan. Kalau tidak dirapikan ranting, dahan, bahkan batangnya, sinar lampunya terhalang. Jalan jadi gelap. Jalan gelap, tentu saja, tidak bagus bagi pengguna jalan raya. Terutama ketika berpapasan dengan pengendara yang ngawur. Melaju kencang. Padahal cahaya lampu kendaraannya tidak memadai. Bahkan mati.
2. Kondisi pohonnya sudah tua. kekuatan menahan beban dahan dan ranting sudah berkurang. Jadi tidak ada jalan lain. Bebannya harus dikurangi. Dahan dan rantingnya, terutama. Sayangnya, masih sering kita jumpai pemotongan pohon di pinggir jalan itu dilakukan dengan agak serampangan.
Apalagi, maaf, 3. Kalau yang melakukan pemotongan atau perampingan adalah petugas dari tim PLN. Motongnya asal-asalan. Asal tebas. Pokoknya ranting, dahan, dan pohon yang mengancam kabel/kawat aliran arus listrik dihabisin. Sadis. Pohonnya jadi gundul. Kalaupun masih ada sisa dahan dan ranting hanyalah yang tumbuh di atas jalan.
Perlu kiranya memberi pelatihan khusus kepada tim PLN. Terutama materi tentang bagaimana merapikan ranting atau dahan yang mengganggu kabel listrik. Tapi tetap tidak mengurangi estetika. Sungguh saya merasa sedih. Melihat pohon-pohon yang digunduli dengan serampangan. Saking geramnya, saya sampai punya ide: apakah orang-orang yang memotong pohon secara serampangan itu mau rambutnya dicukur tak beraturan. Alias dipethal-pethal. Bagaimanapun pohon adalah makhluk. Sama seperti manusia. Kita tidak hanya dituntut berakhlak sosial kepada sesama manusia. Tapi juga kepada lingkungan di sekitar kita. Betapa tersiksanya pohon-pohon yang dikepras sembarangan itu. Andai kita paham bahasa pohon, kita akan tahu betapa teriris-irisnya hati mereka. Dan, ganti hati kita yang akan teriris ratapan pohon-pohon itu.
Ah. Terlalu berlebihan ya. Atau terlalu dilebih-lebihkan. Sah-sah saja Anda menilai begitu. Tapi, meski tidak paham bahasa pohon, terus terang saya merasa sedih. Prihatin melihat pohon di tepi jalan ditebang sembarangan. Andai tahu pohon-pohon itu akan mengganggu kabel jaringan listrik, kenapa pohon-pohon itu di tanam di bawahnya. Buat apa ditanam kalau toh akhirnya hanya untuk ’disiksa’. Dikepras sembarangan. Secara berkala. Ketika hendak nyundul jaringan kabel listrik. Mending dibonsai saja sehingga akan mendapat perlakuan yang manja. Motongnya pelan-pelan. Penuh penghayatan.
Lagian, daripada harus memotong setiap sekian bulan, kenapa tidak dicarikan solusi cerdas untuk mengatur kabel jaringan listrik. Rasanya, kabel-kabel yang mengular di sepanjang jalan yang kita lalui lama kelamaan makin banyak saja. Tambah berat beban tiangnya. Bisa bahaya. Apalagi sekarang tiang listrik mulai pada ketakutan. Takut bernasib sama seperti teman sejawat mereka yang berdiri di Jalan Permata Berlian, Jakarta Selatan. Ditabrak mobil yang mengangkut Ketua DPR RI Setya Novanto, saat dicari-cari KPK. Perlu dicarikan solusi secepatnya. Bagaimana setrum tetap terdistribusikan ke rumah pelanggan dengan jaringan tidak lagi malang melintang di atas jalan dan rumah. Bukankah teknologi lainnya sudah berevolusi dengan cepat. Terutama teknologi komunikasi yang umurnya kurang lebih sama dengan listrik.
Dan harus disadari bersama. Jaringan listrik yang mengular di mana-mana itu bisa mengganggu keindahan kota. Apalagi Kota Banyuwangi yang sedang berbenah. Pemkab dan PT PLN ditambah PT Telkom rasanya perlu segera duduk semeja. Membahas ’penertiban’ kabel telepon dan kabel listrik di atas kota The Sunrise of Java. Siapa yang mau mendahului, hayo...
Kembali ke pohon di pinggir jalan. Setidaknya ia punya fungsi. Selain sebagai resapan, penanaman pohon di pinggir dan pulau jalan (protokol) bertujuan untuk keindahan sekaligus peneduh. Atau peneduh yang berfungsi juga memperindah kota. Tim pemotong pohon, terutama kepala regunya, harus memahami dua fungsi yang disebut terakhir. Saya yakin, jika memahami dengan baik dua fungsi itu maka mereka lebih berhati-hati. Akan mempertimbangkan dengan cermat ranting mana yang layak dikepras. Dahan-dahan yang perlu dirapikan. Untuk memotong batang yang kecil sekalipun mereka akan melakukan observasi secara detail.
Itu yang sudah dilakukan oleh tim pemelihara pohon di sejumlah kota. Mereka tidak asal main potong. Walhasil, meski sedang atau baru saja dilakukan pengeprasan pohon, yang tampak seperti sedang tidak terjadi apa-apa dengan pohon-pohon di kota itu. Tidak tampak ada luka di batang pohon. Saking halusnya cara motongnya. Dan bahkan tidak tampak ada pohon yang sampai botak.
Wa ba’du. Pohon yang membahayakan keselamatan harus dirapikan. Pohon yang mengganggu kenyamanan sepatutnya dirapikan juga. Namun, cara merapikannya butuh kecerdasan akhlak. Bukan perilaku buruk ala preman. (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmailcom/c1)