Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Modernisme dan Pengaruhnya terhadap Moral

Ali Sodiqin • Minggu, 15 Oktober 2017 | 16:05 WIB
modernisme-dan-pengaruhnya-terhadap-moral
modernisme-dan-pengaruhnya-terhadap-moral

SUATU ember mempunyai ruangan yang terbatas, jika ember tersebut kita aliri dengan air sebagai massa, maka volume air di dalam ember harus menyesuaikan dengan kapasitas ruang ember tersebut. Jika volume air terlalu sedikit maka berat ember terlalu rendah atau ringan, dan jika volume air terlalu banyak maka otomatis air akan meluber.

Pada teori ini saya akan mengaplikasikan terhadap suatu gejala sosial yang terjadi dalam kehidupan seluruh kehidupan manusia (masyarakat), sebagai contoh ember adalah lingkungan. Aliran air sama dengan kehidupan manusia (massa). Lingkungan merupakan kondisi fisik yang mencakup dan meliputi sumber daya alam dengan menjadikan sumber daya manusia sebagai sistem kelembagaan yang mengikutsertakan keputusan-keputusan untuk bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.

Jadi antara ember dan aliran air meniscayakan untuk berubah dan saling berkembang satu sama lain sama halnya dengan lingkungan dan manusianya yang saling mendukung satu sama lain atas perkembangan yang terjadi, sehingga nilai dari kehendak umum menunjukkan nilai-nilai dari orang-orang yang ada di dalamnya, namun apa yang sebenarnya kita ukur bukanlah nilainya melainkan volumenya, tidak ada kesangsian lagi bahwa dalam hal ini modernisme telah dapat diperluas selebar-lebarnya dalam waktu belakangan ini.

Karena pada hakikatnya bukanlah lingkungan yang memengaruhi seseorang melainkan seseorang atau masyarakat (massa)-lah yang mengendalikan lingkungan akibat dari kesepakatan-kesepakatan yang melahirkan keputusan sebagai konsekuensi untuk mengendalikan lingkungan itu sendiri. Adapun letak suatu moral di sini yakni berada di dalam hasil keputusan dan konsekuensi yang diakibatkan masyarakat (massa) tersebut. Di mana hasil keputusan itulah sesungguhnya cermin moral yang sebenarnya, karena jika kita amati bersama tentang historis munculnya modernisasi sendiri merupakan hasil dari pengkudetaan terhadap sosial-kebudayaan untuk menghentikan, menyudahi, memutus, dan melepaskan diri dari cengkeraman sejarah lama yang sebelumnya dirasa gelap untuk menghendaki sesuatu yang baru, terang dan cerah, dengan kata lain modernisme ini adalah tindakan menyudahi yang lama dan menghendaki yang baru, karena itu modernisme cenderung tak sejalan dengan sesuatu yang tradisional, bahkan mengambil posisi yang berlawanan dengan nilai-nilai lama demi terciptanya nilai-nilai yang baru.

Sehingga pada fase berikutnya, terjadi perluasan makna pula terhadap modernisme menjadi suatu paham, pandangan dan sikap hidup yang serba kekinian. Kelompok-kelompok yang antimodernitas akan menjadi wajah buruk dari perkembangan zaman dan bukan mustahil jika kelompok antimodernitas ini akan terlindas oleh peradaban karena dunia kontemporer-nya sudah dianggap tak sebanding dengan akses destruktif yang ditimbulkan.  

Proses timbulnya modernisasi sebenarnya banyak dipengaruhi oleh perkembangan secara global. Akan tetapi, pada kenyataannya bukan hanya kelompok antimodernitas saja yang bisa menjadi korban modernisme ini, tetapi para pelaku modernisme sendiri juga semakin terkena efek samping modernisme ini, seperti mereka yang kehilangan daya filter, yang tidak mampu menyaring hakikat mana kemajuan dan mana kehancuran. Akibat dari hilangnya filter ini karena beberapa faktor dan kemungkinan, seperti misalnya mereka yang saking terbukanya terhadap realitas dan segala produk modern adalah orang-orang yang over inklusif yang seakan akan menjadikan modernisasi atau budaya kekinian sebagai kiblat dari proses perjalanan hidupnya. Yang pada akhirnya menjadi abai dan krisis terhadap nilai-nilai tradisionalnya. Selain itu juga karena faktor ketidaksiapan secara mental untuk terjun dan menghadapi pesatnya era modernisme masa kini. Karena ketidaksiapan mental inilah membuat hari-hari mereka berada di dalam tekanan modernisme, sehingga membuat mereka tidak mampu dan cenderung memanfaatkan pesatnya teknologi modernisme masa kini secara tidak produktif. Fenomena inilah yang sebenarnya merusak tatanan mentalitas, moralitas, dan produktivitas di dalam masyarakat.

Jadi jika ember atau suatu ruang yang terbatas namun diisi dengan volume massa yang tidak sesuai dengan batasan ruang tersebut ”secara berlebihan”, maka ruang tersebut akan dirasa tidak cocok lagi sebagai wadah dari massa yang berada di dalamnya, melubernya air adalah cermin moral yang tak beraturan, dan akhirnya mau tidak mau ruang tersebut harus di sesuaikan lagi dengan ruang-ruang baru yang sesuai dengan kapasitas volume massa yang baru itu. Begitulah kira-kira proses modernisasi yang sangat berpengaruh terhadap moralitas dari tiap diri individu maupun masyarakat.

Datangnya modernisasi di sini bukanlah semata-mata pengaruh era kebarat-baratan, dan juga bukanlah semata-mata hasil dari monopoli dunia barat. Namun, datangnya modernisasi di sini adalah suatu keniscayaan dari suatu dinamika sejarah dari berkembangnya peradaban, kita tidak bisa menolak dan meninggalkan peradaban ini. Jika kita menolak, sama halnya kita menghentikan atau melawan perjalanan waktu, sama halnya kita menolak datangnya hari esok. Kalau kita tidak siap dan segera memfilter modernisasi ini, maka hancurnya peradaban manusia bukanlah hal yang tidak mungkin untuk terjadi.

Terjadinya krisis moral saat ini, sangat membutuhkan karakter-karakter seseorang dengan integritas keilmuan yang lahir batin, scientist yang agamis, para politikus yang religius, pemikir dan ilmuwan yang taat beriman, filsuf-filsuf yang bertasawuf, para artis, selebritis, serta publik figur yang zuhud, dan para hartawan, pakar ekonomi, budayawan, yang dermawan dan berbudi luhur. Mereka harus datang sebagai alat penaklukan terhadap modernitas yang kian mempengaruhi moralitas, untuk menjadikan karakter setiap individu agar senantiasa mengapresiasi secara kritis, adil, dan proposional serta tidak melarikan diri dari realitas peradaban modern ini, sehingga menjadikan dinamika modern ini menjadi peradaban yang madani. Dan bisa mengontrol aliran air yang ada dalam ember tadi agar tidak meluber, juga bisa menyesuaikan volumenya air dengan kapasitas suatu ember, agar tidak kurang atau pun lebih.

*) Mahasiswa prodi Ilmu Hukum Untag Banyuwangi

Editor : Ali Sodiqin