Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sebar, Yes!!!

Ali Sodiqin • Kamis, 10 Agustus 2017 | 00:10 WIB
sebar-yes
sebar-yes

INI tentang pengalaman kurang mengenakkan. Tapi mengandung pelajaran sangat berharga. Kejadiannya tiga bulan lalu. Dialami oleh tiga orang. Bukan orang sembarangan. Namanya sedang tenar saat ini. Di Banyuwangi. Setenar kelompok musik yang dilatihnya: Lalare Orkestra.

Tidak etis menyebut nama mereka. Saya singgung saja peristiwanya. Saat itu, personil Lalare Orkestra sedang berlatih. Di lapangan belakang SDN Model Banyuwangi. Saat jedah latihan, tiga pelatih itu asyik menghisap rokok. Sambil mencari inspirasi kali ya. Ha ha ha....

Tiba-tiba tiga anak usia SD datang. Menghampiri. Tanpa ngomong apapun. Hanya menyodorkan poster kecil. ‘’Ini Sekolah Bebas Asap Rokok,’’ bunyi poster itu. Rupanya mereka polisi cilik. Tukang razia orang-orang yang merokok di lingkungan sekolahnya. Tiga pelatih itu pun langsung mematikan rokoknya. Sambil menahan malu berkata: ‘’Maaf, maaf ya, kami tidak tahu’’.

Saya melihat langsung kejadian itu. Rasanya geli. Saya bisa memahami kenapa tiga pelatih itu merokok. Mereka sangat disiplin dalam melatih personil Lalare Orkestra. Itu menguras energi. Juga pikiran. Untuk melepas lelah fisik dan otak rokoklah jamunya. Mereka percaya rokok bisa mengusir stres. Sayangnya, tempat merokoknya salah. Merokok di daerah terlarang. Di sekolah yang sudah mencanangkan Sebar (Sekolah Bebas Asap Rokok).

Program yang bagus sekali. SMPN 1 Banyuwangi juga sedang getol kampanyekan Sebar. Mungkin akan segera diikuti sekolah-sekolah yang lain. Hingga sekolah di kota The Sunrise of Java benar-benar terbebas dari asap rokok, kelak. Terutama di sekolah lanjutan atasnya.

Melarang orang lain mengasap di lingkungan sekolah itu baik. Tapi yang tak kalah baiknya adalah ‘menangkap’ guru yang sedang merokok di lingkungan sekolah. Mudah-mudahan tidak ada lagi guru yang merokok. Terutama saat di sekolah. Sebab, ketika guru merokok di sekolah dan dilihat siswanya, seketika itu dia memberi teladan yang tidak baik. Membuka peluang siswa untuk melakukan hal yang sama. Kalau ditegur si siswa akan menjawab enteng: saya hanya meniru pak guru, saya hanya menjalankan peribahasa ‘’Guru kencing berdiri murid kencil berlari’’.

Sekalipun aktif menjadi jamaah ahlul hisap, janganlah ada guru yang merokok di sekolah! Kalau di rumah sih tidak apa-apa. Itu tanggung jawab pribadi. Urusan nafsi-nafsi. Tergantung sama istrinya. Ada istri yang anti rokok. Melarang keras suaminya merokok. Sebaliknya ada istri yang tidak peduli. Membiarkan suami merokok di mana saja. Termasuk di dalam rumahnya. Saingan dengan istri.

Memang, rokok itu misteri. Sudah tahu bahwa rokok mengandung racun nikotin, jumlah perokok bukannya turun. Melainkan malah meningkat. Dari tahun ke tahun. Peringatan dampak mengerikan akibat merokok di bungkus rokok tak cukup ampuh. Malah diledek oleh para perokok: itu kan hanya untuk menakut-nakuti orang yang tidak merokok. Lalu dibuatlah pembelaan yang secara logika benar tapi secara medis salah: barang yang diasapi jadi awet, seperti dendeng asap, jantung yang diasapi mestinya jadi awet juga.

Tentu semua sepakat, semua sekolah wajib kampanyekan Sebar. Sebab, anak usia sekolah rata-rata masih labil. Dalam masa pencarian model. Rokok termasuk salah satu model negatif yang gampang ditiru. Dan dilakukan. Ada anggapan di kalangan remaja, anak lelaki yang tidak merokok adalah banci. Sebaliknya yang merokok itu gantle. Diidolai banyak cewek. Maka tidak mengherankan jika saat ini banyak anak masih SMP sudah merokok. Apalagi yang SMA. Setiap hari saya selalu melihat gerombolan anak berseragam SMP dan SMA dengan santainya jedas-jedus. Rame-rame mengepulkan asap rokok di toko seberang perumahan saya. Masih mengenakan seragam sekolah!

Makin dilihat makin bergaya mereka. Seolah ingin menunjukkan dirinya hebat. ‘’Hebat dari mana? Dari Hongkong!’’ kata anak saya, cewek kelas XII. Menurut dia, mereka itu sama sekali tidak hebat. Sebaliknya hanyalah pecundang. Kok bisa? ‘’Coba tanya mereka, dapat duit dari mana untuk membeli rokok. Dari orang tuanya kan. Kalau bukan dari orang tua terus dari mana. Paling-paling minta kepada temannya. Cowok yang tidak bisa mencari uang sendiri dan minta ke teman apanya yang dibanggakan,’’ tandasnya.

Kampanye Sebar tidak akan optimal kalau dilakukan setengah hati. Apalagi hanya untuk gaya-gayaan.  Sekadar menggugurkan kewajiban. Supaya kelihatan sekolahnya mendukung program Sebar. Sekolah harus membuat aturan yang superketat. Tapi masih prosedural. Misal memberi SP (Surat Peringatan) pertama sampai ketiga bagi siswanya yang ketangkap merokok. Kalau sampai SP tiga tidak mempan sebaiknya dikembalikan kepada orang tuanya. Sebab, sekolah tidak hanya mendidik satu dua siswa. Seperti buah, jangan menaruh buah busuk dalam sekeranjang buah yang sehat. Dalam waktu tidak lama buah yang bagus-bagus akan ikut rusak juga. Tertular oleh satu buah yang busuk.

Meski perokok pasif lebih bahaya, melindungi siswa lain terpapar asap rokok masih lebih mudah daripada terkontaminasi moralnya akibat rokok. Sekali terbujuk untuk mencoba menghisapnya, sangat mungkin anak-anak kita akan mengalami ketergantungan pada rokok. Kalau sudah begitu, siap-siap saja kantong saku orang tua ikut terbakar.

Wa ba’du, rasanya tidak ada alasan pembenar bagi orang tua dan guru membiarkan anak-anak kita merokok. Kecuali bagi orang tua yang tidak bisa berhenti merokok. Pasti sulit mencari alasan melarang anaknya merokok. Takut di-kick back: bapak berhenti dulu merokok baru melarang anaknya. He he he.... (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

Editor : Ali Sodiqin
#man nahnu #samsudin adlawi