RADAR BANYUWANGI - Motor MotoGP tidak menjadi cepat hanya karena tenaga mesin yang besar. Di balik performanya, ada kolaborasi pembalap dan insinyur yang terus menguji komponen, menganalisis data, hingga mencari penyempurnaan sekecil apa pun.
Pengembangan motor MotoGP melibatkan pekerjaan panjang yang tidak selalu terlihat saat balapan. Pembalap memberikan masukan dari lintasan. Insinyur menerjemahkannya menjadi solusi teknis.
Proses tersebut terlihat dalam tes resmi MotoGP di Sirkuit Jerez, Spanyol, pada 27 April 2026. KTM menguji paket aerodinamika baru, setelan suspensi, dan sejumlah komponen untuk meningkatkan performa RC16.
Pedro Acosta, Brad Binder, Enea Bastianini, serta pembalap penguji Dani Pedrosa mencatatkan lebih dari 250 putaran secara keseluruhan.
Acosta menempati posisi kelima dengan selisih 0,355 detik dari pembalap tercepat, Ai Ogura.
Namun, pengujian bukan sekadar mengejar waktu putaran terbaik. Target utamanya adalah mengetahui apakah komponen baru benar-benar membuat motor lebih kompetitif.
Baca Juga: Jalur Pembalap Moto3 ke MotoGP, Jalan Panjang yang Ditempuh Veda Ega Pratama dan Mario Aji
Pembalap Bukan Insinyur, tetapi Masukannya Menentukan
Pembalap menjadi orang pertama yang merasakan perubahan karakter motor. Mereka mengetahui kapan roda depan kehilangan daya cengkeram, motor sulit berbelok, atau ban belakang kehilangan traksi saat berakselerasi.
Masalahnya, sensasi tersebut tidak selalu dapat dijelaskan melalui angka.
Joan Mir, pembalap Honda sekaligus juara dunia MotoGP 2020, menegaskan bahwa tugas pembalap bukan merancang komponen.
"Kami dapat menjelaskan apa yang kami rasakan di atas motor, tetapi kami bukan insinyur," ujar Mir dalam wawancara dengan Autosport yang diterbitkan pada 3 Agustus 2026.
Menurut Mir, pembalap dapat meminta peningkatan kemampuan menikung atau kepercayaan terhadap roda depan. Namun, keputusan menggunakan sasis, lengan ayun, atau geometri baru harus ditentukan tim teknis.
Karena itu, pembalap yang mampu memberikan masukan secara rinci memiliki nilai penting dalam pengembangan motor.
Kecepatan bukan satu-satunya ukuran. Kepekaan terhadap perubahan kecil pada kendaraan juga dibutuhkan agar proses pengujian menghasilkan informasi yang akurat.
Baca Juga: Pengereman MotoGP Bisa Capai 1,5 G, Begini Beratnya Beban Fisik Pembalap
Insinyur Mengubah Keluhan Menjadi Solusi
Di balik garasi MotoGP, sejumlah insinyur bekerja sesuai bidang keahlian masing-masing.
Insinyur mesin menangani karakter tenaga dan torsi. Insinyur sasis berfokus pada kestabilan serta pengendalian. Sementara itu, insinyur aerodinamika dan elektronik bertugas menyempurnakan aliran udara, kontrol traksi, serta respons mesin.
Mereka menggunakan simulasi komputer, pengujian komponen, dan data lintasan untuk menentukan arah pengembangan.
Kepala kru atau crew chief menjadi penghubung utama antara pembalap dan tim teknis.
Kerja sama tersebut semakin penting karena satu perubahan bisa memengaruhi berbagai aspek performa motor.
Sebagai contoh, fairing baru mungkin meningkatkan kestabilan saat melaju kencang. Namun, perubahan aliran udara juga dapat memengaruhi kemampuan motor berganti arah.
Marco De Luca, kepala dinamika kendaraan Aprilia, menegaskan pentingnya masukan pembalap dalam pekerjaan tersebut.
"Kesan pembalap sangat penting," katanya kepada Autosport dalam laporan yang sama.
Artinya, hasil simulasi yang menjanjikan tetap harus dibuktikan melalui pengalaman berkendara di lintasan.
Baca Juga: Aturan Tekanan Ban MotoGP 2026 Bikin Acosta dan Marquez Saling Mengalah di Mandalika
Lebih dari 60 Sensor Membantu Insinyur Membaca Masalah
Motor MotoGP juga mengandalkan teknologi pengumpulan data yang sangat kompleks.
Menurut penjelasan resmi MotoGP, sepeda motor kelas utama menggunakan lebih dari 60 sensor utama untuk memantau berbagai parameter kendaraan.
Sensor tersebut mengukur tekanan rem, putaran mesin, pergerakan suspensi, kecepatan roda, hingga posisi dan gerakan motor.
Data yang direkam kemudian dianalisis untuk memahami masalah yang dilaporkan pembalap.
Misalnya, ketika pembalap mengeluhkan ban belakang mudah tergelincir, insinyur dapat membandingkan data bukaan gas, kecepatan roda, serta kerja sistem kontrol traksi.
Hasilnya membantu menentukan apakah masalah perlu ditangani melalui setelan elektronik, suspensi, atau perubahan mekanis.
Meski demikian, data tidak selalu mampu menggambarkan seluruh sensasi berkendara.
Di sinilah masukan pembalap tetap diperlukan untuk melengkapi analisis teknis.
Baca Juga: Dari Veda Ega hingga Mario Aji, Begini Jalur Pembalap Indonesia Menuju MotoGP
Tes Jerez 2026 Menunjukkan Pentingnya Kolaborasi
Pengujian KTM di Jerez menjadi contoh bagaimana masukan pembalap berhubungan langsung dengan pengembangan komponen.
Brad Binder mencoba beberapa rancangan fairing dan peredam kejut belakang yang berbeda.
"Hari ini kami menguji beberapa fairing berbeda. Itu sedikit membantu motor berbelok di tikungan cepat," kata Binder dalam laporan resmi KTM, 27 April 2026.
Binder juga merasakan perbaikan kestabilan dan traksi setelah mencoba peredam kejut belakang yang berbeda.
Masukan tersebut menjadi bahan analisis bagi insinyur sebelum komponen diputuskan layak digunakan dalam balapan.
Direktur Teknik MotoGP KTM, Sebastian Risse, menilai pengujian itu memberikan informasi penting untuk pengembangan selanjutnya.
"Kami belajar banyak di sini," ujar Risse.
Hasil tes tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan motor tidak selalu datang dari perubahan besar. Penyesuaian kecil pada aerodinamika dan suspensi pun dapat memperbaiki karakter pengendalian.
Baca Juga: Seberapa Berat Pengereman MotoGP? Motor Melambat 201 Km/Jam dalam 4,4 Detik
Tantangan Baru Menjelang MotoGP 2027
Pekerjaan insinyur dan pembalap akan semakin menantang menjelang perubahan regulasi MotoGP 2027.
Kapasitas maksimum mesin akan turun dari 1.000 cc menjadi 850 cc. Perangkat aerodinamika juga dibatasi, sedangkan penggunaan perangkat pengatur ketinggian motor dilarang dalam regulasi baru.
MotoGP juga menetapkan penggunaan bahan bakar 100 persen nonfosil. Selain itu, Pirelli akan menggantikan Michelin sebagai pemasok ban resmi kelas utama.
Perubahan tersebut mengharuskan pabrikan mengembangkan karakter mesin, pengendalian, dan paket kendaraan yang sesuai dengan ban baru.
Pembalap kembali memegang peran penting untuk mengevaluasi hasil pekerjaan insinyur.
Editor : Lugas Rumpakaadi