MotoGP Mandalika 2026, Komdigi Siapkan 4 BTS Bergerak

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 21:21 WIB
Panorama Sirkuit Internasional Mandalika di Lombok Tengah, NTB, yang menjadi lokasi MotoGP Indonesia 2026. Foto arsip September 2022. (Naufal Farras/Wikimedia Commons)
Panorama Sirkuit Internasional Mandalika di Lombok Tengah, NTB, yang menjadi lokasi MotoGP Indonesia 2026. Foto arsip September 2022. (Naufal Farras/Wikimedia Commons)

RADAR BANYUWANGI — Bukan hanya motor balap yang harus bekerja maksimal saat MotoGP Mandalika 2026. Jaringan komunikasi juga dituntut tetap andal di tengah potensi lonjakan jumlah pengunjung.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyiapkan empat base transceiver station (BTS) bergerak untuk memperkuat jaringan seluler selama ajang balap pada 9–11 Oktober 2026. Pemerintah juga mengamankan lebih dari 250 kebutuhan frekuensi radio guna mendukung komunikasi tim, keselamatan pembalap, dan siaran internasional.

Penguatan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kepadatan aktivitas komunikasi di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan kebutuhan frekuensi menjadi salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan MotoGP. Sebab, berbagai perangkat komunikasi harus bekerja bersamaan tanpa menimbulkan gangguan.

"Balapan bukan hanya motor, tapi juga frekuensi," ujar Meutya saat meninjau Sirkuit Mandalika, Kamis (8/10), sebagaimana dilaporkan detikBali.

Antisipasi Lonjakan Pengunjung

Empat BTS bergerak disiapkan melalui koordinasi Komdigi dengan operator seluler. Infrastruktur tambahan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas jaringan ketika ribuan pengunjung mengakses layanan komunikasi secara bersamaan.

Kebutuhan penguatan jaringan cukup besar. Berdasarkan keterangan Meutya yang dilaporkan ANTARA Mataram, jumlah penonton di sirkuit diperkirakan sekitar 150 ribu orang selama penyelenggaraan. Sementara itu, total orang yang berada di kawasan Mandalika berpotensi mencapai 200 ribu.

Angka tersebut masih berupa proyeksi, bukan jumlah pengunjung yang telah tercatat.

Kepadatan pengunjung berpotensi meningkatkan penggunaan internet seluler, mulai dari mengirim pesan, membagikan foto dan video, hingga mengakses informasi balapan.

Karena itu, penambahan BTS diarahkan untuk memperbesar kapasitas layanan dan mengurangi risiko penurunan kualitas koneksi akibat lonjakan trafik.

Namun, penguatan jaringan seluler hanya satu bagian dari persiapan. Komdigi juga harus memastikan komunikasi teknis perlombaan tidak terganggu.

Lebih dari 250 Kebutuhan Frekuensi Diamankan

Pengawasan frekuensi dilakukan Direktorat Pengendalian Infrastruktur Digital bersama Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon SFR) Mataram.

Petugas bertugas memantau penggunaan spektrum sekaligus mengantisipasi interferensi atau gangguan antarsistem komunikasi.

"Pengelolaan frekuensi dalam ajang sebesar MotoGP sangat kompleks. Ada berbagai sistem komunikasi yang harus bekerja secara bersamaan tanpa saling mengganggu," kata Meutya dalam keterangan resmi Komdigi, Kamis (8/10).

Komdigi memastikan pengamanan kebutuhan frekuensi mencakup komunikasi tim balap, operasional penyelenggara, pengendalian keselamatan, serta produksi dan distribusi siaran internasional.

Kebutuhan tersebut telah diperiksa bersama pihak Dorna selaku penyelenggara MotoGP.

"Kami sudah memeriksa bahwa untuk lebih dari 250 frekuensi yang kita sediakan sesuai kebutuhan dari Dorna sudah terpenuhi dan lancar," ujar Meutya sebagaimana dikutip ANTARA Mataram.

Menurut Meutya, MotoGP Mandalika juga akan disiarkan secara langsung melalui sedikitnya 100 stasiun televisi mancanegara. Kondisi itu membuat pengelolaan frekuensi menjadi kebutuhan penting, bukan sekadar pelengkap penyelenggaraan.

Frekuensi Radio Penting untuk Keselamatan Pembalap

Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Ananda Mikola menjelaskan bahwa frekuensi radio memegang peran penting dalam operasional balapan.

"Frekuensi ini bukan hanya untuk tayangan televisi," kata Ananda dalam siaran pers Komdigi.

Menurut dia, sistem telemetri pada sepeda motor balap memungkinkan tim teknis memantau dan menganalisis berbagai data performa kendaraan.

Data tersebut mencakup kondisi mesin, ban, suspensi, hingga penggunaan gas dan rem. Keandalan komunikasi diperlukan agar informasi teknis dapat diterima dan dianalisis oleh tim.

"Karena itu, sistem komunikasinya harus andal dan tidak boleh terganggu," tegas Ananda.

Selain kebutuhan tim, frekuensi radio menopang komunikasi antara pengendali balapan (race control) dan petugas lintasan.

Ketika terjadi insiden, informasi keselamatan harus segera diteruskan. Petugas kemudian dapat mengambil tindakan, termasuk mengibarkan bendera sesuai kondisi di lintasan.

Gangguan komunikasi pada situasi tersebut berpotensi menghambat koordinasi keselamatan.

Pemantauan Berlanjut Selama Balapan

Meutya meninjau kesiapan infrastruktur bersama jajaran Komdigi dan penyelenggara pada Kamis (8/10).

Dalam kunjungan itu, petugas Balmon SFR Mataram memperlihatkan sistem pengawasan penggunaan frekuensi yang akan diterapkan selama MotoGP.

Meutya juga berkoordinasi dengan perwakilan penyelenggara dan pengelola kawasan Mandalika. Di sela persiapan, ia menyapa dua pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama yang berlaga di Moto3 dan Mario Suryo Aji di Moto2.

Sementara itu, pihak InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) menyatakan kesiapan infrastruktur sirkuit telah mencapai 100 persen, termasuk perangkat elektronik pendukung balapan.

Komdigi memastikan pengawasan frekuensi dan layanan telekomunikasi tetap dilakukan sepanjang penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026.

Langkah tersebut diperlukan agar koneksi pengunjung tetap terlayani, komunikasi keselamatan berjalan andal, dan siaran balapan dapat menjangkau pemirsa internasional tanpa gangguan yang disebabkan oleh penggunaan frekuensi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
MotoGP Mandalika 2026 BTS bergerak frekuensi radio MotoGP jaringan telekomunikasi Mandalika komdigi