RADAR BANYUWANGI - GP Jepang 2026 di Mobility Resort Motegi, 2–4 Oktober, menjadi akhir pekan penting bagi dua pembalap Indonesia. Veda Ega Pratama punya peluang kembali bersaing di barisan depan Moto3. Sementara itu, Mario Suryo Aji memburu tambahan poin di Moto2.
Persaingan kelas utama juga sedang panas. Jorge Martin tiba di Jepang sebagai pemimpin klasemen MotoGP. Dia hanya unggul 12 poin atas Marc Marquez.
Bagi masyarakat Indonesia, perhatian terbesar tertuju kepada Veda dan Mario. Veda menempati peringkat kedelapan Moto3 dengan 100 poin. Dia hanya terpaut satu angka dari Hakim Danish di posisi ketujuh.
Mario berada di peringkat ke-27 Moto2 dengan tiga poin. Seluruh poin tersebut didapat setelah finis ke-13 pada GP Brasil.
Motegi memiliki panjang 4,8 kilometer dengan 14 tikungan dan lintasan lurus terpanjang 762 meter. Karakter stop-and-go dengan sejumlah zona pengereman keras membuat posisi start, kestabilan saat mengerem, dan akselerasi keluar tikungan menjadi sangat penting.
Jadwal GP Jepang 2026 dalam WIB
Jumat, 2 Oktober 2026
- 07.00 WIB: Moto3 Free Practice 1
- 07.50 WIB: Moto2 Free Practice 1
- 08.45 WIB: MotoGP Free Practice 1
- 11.15 WIB: Moto3 Practice
- 12.05 WIB: Moto2 Practice
- 13.00 WIB: MotoGP Practice
Practice Jumat menjadi sesi krusial bagi Veda dan Mario. Lolos langsung ke Q2 akan memperbesar peluang mereka mendapatkan posisi start yang lebih baik.
Sabtu, 3 Oktober 2026
- 06.40 WIB: Moto3 Free Practice 2
- 07.25 WIB: Moto2 Free Practice 2
- 08.10 WIB: MotoGP Free Practice 2
- 08.50 WIB: MotoGP Kualifikasi 1
- 09.15 WIB: MotoGP Kualifikasi 2
- 10.45 WIB: Moto3 Kualifikasi 1
- 11.10 WIB: Moto3 Kualifikasi 2
- 11.40 WIB: Moto2 Kualifikasi 1
- 12.05 WIB: Moto2 Kualifikasi 2
- 13.00 WIB: MotoGP Sprint, 12 lap
Minggu, 4 Oktober 2026
- 07.40 WIB: MotoGP Warm-up
- 09.00 WIB: Moto3 Race, 17 lap
- 10.15 WIB: Moto2 Race, 19 lap
- 12.00 WIB: MotoGP Race, 24 lap
Seluruh balapan berlangsung sejak pagi hingga siang WIB. Jadwal tersebut membuat GP Jepang relatif bersahabat bagi penonton Indonesia dibandingkan sejumlah seri Eropa.
Veda Punya Kecepatan, Kualifikasi Jadi Kunci
Veda datang ke Motegi dengan modal cukup kuat. Pada musim debut Moto3, pembalap Honda Team Asia itu sudah dua kali naik podium. Dia finis ketiga di Brasil dan kembali mendapatkan posisi ketiga di Prancis setelah perubahan klasifikasi hasil balapan.
Kecepatan Veda juga terlihat di Brno. Start dari posisi ke-20, dia mampu menembus kelompok depan dan akhirnya finis kelima.
Di Austria, perjuangannya bahkan lebih menarik. Veda start dari P19, lalu merangsek hingga ikut bersaing di empat besar. Peluang mendapatkan hasil besar hilang setelah dia menerima long lap penalty akibat insiden dengan David Munoz. Veda akhirnya finis ke-13.
”Saya sempat bertarung di kelompok empat besar, jadi saya merasa sangat percaya diri dan nyaman dengan motor saya,” kata Veda seusai balapan Austria.
Race pace bukan masalah utama bagi Veda. Tantangannya justru kualifikasi.
Jika Veda langsung lolos ke Q2 dan start dari empat baris terdepan, finis di kisaran P6–P10 menjadi target realistis. Peluang podium terbuka jika dia bisa memulai balapan dari dua atau tiga baris pertama.
Motegi juga menawarkan peluang memperbaiki posisi klasemen. Dengan 100 poin, Veda hanya tertinggal satu angka dari Hakim Danish di peringkat ketujuh.
Mario Aji Memburu Poin
Mario menghadapi sasaran berbeda. Pembalap Idemitsu Honda Team Asia itu masih berusaha kembali ke zona poin.
Meski baru mengoleksi tiga angka, kecepatannya mulai menunjukkan perkembangan. Pada Practice GP Austria, Mario berada di P11 dan langsung lolos ke Q2. Dia kemudian start dari posisi ke-18 dan finis P17.
Hasil tersebut memang belum menghasilkan poin. Namun, Mario merasa ada perkembangan penting.
”Saya senang dengan perasaan ini karena kami mendapatkan kembali kepercayaan diri,” ujar Mario setelah balapan.
Modal itu perlu dikonversi menjadi hasil di Motegi. Untuk Mario, P14–P18 menjadi proyeksi realistis. Jika kembali lolos langsung ke Q2 dan mampu start sekitar P15 atau lebih baik, peluang finis P12–P15 sekaligus mencetak poin terbuka.
Kunci pertama ada pada Jumat. Jika Mario mampu bertahan di kelompok 14 besar Practice, pekerjaannya pada akhir pekan akan jauh lebih ringan.
Quiles Punya Peluang Kunci Gelar Moto3
Di barisan depan Moto3, Maximo Quiles datang ke Jepang dengan peluang memastikan gelar dunia.
Quiles sudah mengoleksi sembilan kemenangan dan membawa keunggulan besar di klasemen. Namun, kemenangan di Motegi belum otomatis membuatnya menjadi juara. Hasil para rival terdekat tetap menentukan.
Situasi perebutan gelar bisa ikut memengaruhi dinamika balapan. Para kandidat juara harus memperhitungkan risiko, sedangkan pembalap seperti Veda dapat memanfaatkan peluang jika mampu bertahan di kelompok depan.
Martin dan Marquez Beda 12 Poin
Perebutan MotoGP juga belum memberikan ruang untuk kesalahan.
Jorge Martin memimpin klasemen dengan 306 poin. Marc Marquez menguntit dengan 294 poin. Marco Bezzecchi berada di posisi ketiga, sedangkan Pedro Acosta datang dengan momentum setelah meraih kemenangan MotoGP pertamanya di Austria.
Motegi punya catatan bagus untuk Ducati. Francesco Bagnaia meraih pole, memenangi Sprint, dan menjadi pemenang balapan utama pada 2025.
Namun, peta kekuatan musim ini berbeda. Martin tampil konsisten bersama Aprilia. Marquez terus menekan. Acosta pun semakin sering masuk persaingan podium.
Martin dan Marquez masuk kelompok utama kandidat kemenangan di Jepang. Acosta berpotensi menjadi pengganggu, terutama jika KTM kembali kuat di area pengereman dan akselerasi.
Motegi Jadi Modal Menuju Mandalika
GP Jepang hanya berselang satu pekan dari GP Indonesia di Mandalika. Karena itu, hasil Motegi akan berpengaruh terhadap momentum Veda dan Mario sebelum tampil di hadapan masyarakat Indonesia.
Veda memiliki peluang realistis menembus sepuluh besar, bahkan mendekati podium jika mendapat posisi start bagus. Mario lebih dulu memburu Q2 dan zona poin.
Motegi akan memberikan jawabannya. Bukan hanya soal seberapa cepat dua pembalap Indonesia tersebut, melainkan seberapa baik mereka mengubah kecepatan menjadi hasil sebelum pulang untuk berlomba di Mandalika.
Editor : Lugas Rumpakaadi