Moto3 Jepang: Veda Ega Pratama Hadapi Pertarungan Rapat di Motegi

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 13:00 WIB
Pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama (Kiri) masih aman dari kejaran Hakim Danish dalam papan klasemen Moto3 2026 setelah seri San Marino. (Honda Team Asia)
Veda Ega Pratama menghadapi Moto3 di Motegi dengan tantangan slipstream, rombongan rapat, tikungan lambat, dan strategi hingga garis finis. (Honda Team Asia)

RADAR BANYUWANGI – Veda Ega Pratama tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan motor saat menghadapi Moto3 di Mobility Resort Motegi, Jepang. Karakter sirkuit yang penuh tikungan lambat, trek lurus 762 meter, serta pertarungan rapat dalam rombongan membuat strategi, racing line, pengereman, dan pemanfaatan slipstream bisa menjadi penentu perubahan posisi hingga garis finis.

Balapan Moto3 memang dikenal dengan persaingan ketat. Di Motegi, situasi itu bisa semakin terasa karena pembalap harus berulang kali berpindah dari pengereman keras menuju tikungan lambat, lalu kembali mencari akselerasi terbaik.

Bagi Veda dan Honda Team Asia, tantangannya bukan sekadar mencatat waktu tercepat. Mereka harus membaca ritme rombongan, menentukan momentum untuk menyalip, sekaligus menjaga posisi agar tetap memiliki peluang saat memasuki lap-lap akhir.

Motegi Punya Karakter Stop-and-Go

Mobility Resort Motegi memiliki karakter stop-and-go. Setelah memasuki pengereman keras, pembalap harus segera mengubah arah motor di tikungan dan mendapatkan kembali akselerasi sebelum menghadapi sektor berikutnya.

Karakter tersebut membuat performa motor saat keluar dari tikungan menjadi sangat penting. Kesalahan kecil dalam mendapatkan traksi bisa berdampak pada momentum menuju bagian lintasan berikutnya.

Bagi pembalap Moto3 yang bertarung dengan jarak sangat rapat, selisih kecil tersebut bisa langsung diterjemahkan menjadi perubahan posisi.

Karena itu, Veda membutuhkan kombinasi antara pengereman yang presisi, racing line yang tepat, dan kemampuan menjaga momentum sepanjang lap.

Trek Lurus 762 Meter Buka Perburuan Slipstream

Salah satu bagian yang membuat Motegi menarik adalah trek lurus sepanjang 762 meter. Di titik ini, pembalap dapat memanfaatkan slipstream atau aliran udara dari rider di depan untuk mendapatkan keuntungan kecepatan.

Namun, keuntungan tersebut tidak otomatis didapat setiap pembalap.

Posisi ketika memasuki trek lurus menjadi sangat penting. Pembalap yang terlalu jauh dari rombongan bisa kehilangan kesempatan memanfaatkan slipstream. Sebaliknya, berada terlalu dekat tanpa momentum yang tepat juga belum tentu menghasilkan manuver ideal ketika memasuki pengereman.

Veda harus membaca situasi tersebut sejak awal balapan. Kapan mengikuti rombongan dan kapan mencoba membuka jarak menjadi bagian dari keputusan strategis yang dapat berpengaruh terhadap penggunaan ban serta peluang menyerang pada fase akhir.

Tikungan Terakhir Bisa Mengubah Posisi

Motegi memiliki 14 tikungan, terdiri atas delapan tikungan kanan dan enam tikungan kiri. Sejumlah tikungan lambat membuat pembalap harus mengurangi kecepatan secara signifikan sebelum kembali berakselerasi.

Salah satu titik yang menarik berada di bagian akhir sirkuit. Setelah melewati tikungan terakhir, pembalap langsung mengarah ke garis finis.

Artinya, pembalap yang mampu keluar dari tikungan terakhir dengan traksi bagus memiliki kesempatan mempertahankan momentum menuju garis finis.

Dalam balapan Moto3 yang selisih antarpembalapnya tipis, situasi tersebut dapat membuat perubahan posisi terjadi hingga detik-detik terakhir.

Veda Sudah Punya Kenangan Manis di Motegi

Veda memiliki modal pengalaman yang tidak bisa diabaikan. Sebelum berkompetisi di Moto3, pembalap Indonesia tersebut pernah merasakan persaingan di Motegi ketika mengikuti Idemitsu Asia Talent Cup.

Pada 2023, Veda bahkan mampu meraih dua kemenangan di sirkuit tersebut.

Kemenangan pertama diraih setelah Veda mengawali balapan dari posisi keenam. Ia kemudian kembali menjadi pemenang pada balapan kedua.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa Veda sudah mengenal karakter lintasan Motegi dan situasi pertarungan dalam kelompok.

Namun, level Moto3 menghadirkan tantangan berbeda. Kecepatan motor, persaingan antarpembalap, pengelolaan ban, hingga strategi selama balapan menuntut pengambilan keputusan yang lebih presisi.

Honda Team Asia Punya Peran Penting

Performa Veda juga tidak berdiri sendiri. Honda Team Asia perlu memastikan Honda NSF250RW mampu memberikan dukungan optimal di lintasan yang menuntut akselerasi kuat setelah tikungan lambat.

Stabilitas saat pengereman juga menjadi faktor penting. Karakter Motegi membuat pembalap berkali-kali melakukan transisi dari kecepatan tinggi menuju tikungan lambat.

Selain itu, strategi memanfaatkan slipstream perlu diperhitungkan sejak sesi kualifikasi hingga balapan.

Penempatan posisi di dalam rombongan bisa menentukan seberapa besar peluang Veda melakukan manuver ketika memasuki titik pengereman atau memanfaatkan momentum di trek lurus.

Motegi Bukan Sekadar Sirkuit Kandang Honda

Motegi memiliki hubungan kuat dengan Honda. Fasilitas tersebut dibangun Honda pada 1997 dan mulai menjadi tuan rumah MotoGP pada 1999.

Namun, status Motegi sebagai fasilitas yang dibangun Honda tidak otomatis membuat Honda Team Asia unggul.

Veda tetap harus menghadapi karakter lintasan secara langsung. Pengalaman masa lalu menjadi modal, tetapi hasil balapan akan ditentukan oleh kombinasi performa motor, pengereman, racing line, pengelolaan posisi dalam rombongan, dan keputusan strategis.

Di Motegi, satu keputusan dalam hitungan detik bisa mengubah posisi beberapa tingkat. Karena itu, bagi Veda, balapan Moto3 kali ini bukan hanya soal siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling tepat membaca situasi hingga bendera finis berkibar. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Moto3 Jepang Moto3 Motegi Honda Team Asia veda ega pratama sirkuit motegi