Jejak Karier Veda Ega Pratama, dari Parkiran Pasar Sapi hingga Moto3 Dunia

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 22:00 WIB
Jejak karier Veda Ega Pratama dimulai sejak usia lima tahun hingga menembus Moto3. Dari parkiran pasar Gunungkidul, ia kini cetak sejarah Grand Prix. (Instagram @deepend.id)
Jejak karier Veda Ega Pratama dimulai sejak usia lima tahun hingga menembus Moto3. Dari parkiran pasar Gunungkidul, ia kini cetak sejarah Grand Prix. (Instagram @deepend.id)

RADAR BANYUWANGI — Jejak karier Veda Ega Pratama menuju Kejuaraan Dunia Moto3 ternyata dimulai jauh dari gemerlap sirkuit internasional. Dari belajar mengendarai minibike saat berusia lima tahun, berlatih di parkiran Pasar Sapi Siyono Harjo, Gunungkidul, hingga menjadi pebalap Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix, perjalanan Veda menjadi salah satu kisah paling menarik dalam perkembangan balap motor Indonesia.

Kini, pada usia 17 tahun, Veda sudah mengenakan seragam Honda Team Asia dan tampil penuh di Kejuaraan Dunia Moto3 2026.

Nomor #9 melekat pada motornya. Namun, sebelum sampai di panggung tersebut, Veda harus melewati perjalanan panjang yang dimulai sejak usia kanak-kanak.

Mengenal Balap Sejak Usia Lima Tahun

Veda Ega Pratama lahir di Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta, pada 23 November 2008.

Dunia balap sudah dikenalnya sejak kecil melalui sang ayah, Sudarmono, mantan pebalap nasional kelas Supersport 600.

Ketika berusia lima tahun, Veda mulai mengendarai minibike. Setahun kemudian, ia sudah mengikuti perlombaan.

Latihan awalnya berlangsung sederhana. Veda berlatih di area parkiran Pasar Sapi Siyono Harjo, Gunungkidul.

Dari lingkungan tersebut, bakatnya berkembang. Veda sempat menekuni motocross sebelum kemudian beralih ke kompetisi balap di lintasan aspal.

Usia 10 Tahun Sudah Jadi Juara Nasional

Perkembangan Veda berlangsung cepat.

Pada 2019, ketika usianya sekitar 10 tahun, ia berhasil merebut gelar Kejuaraan Nasional Balap Underbone.

Prestasi tersebut menjadi salah satu pijakan penting sebelum Veda masuk ke kompetisi yang lebih besar.

Jalur menuju panggung internasional kemudian terbuka melalui Asia Talent Cup.

Pada 2021, Veda mendapat kesempatan tampil sebagai wildcard sebanyak empat kali, termasuk ketika balapan digelar di Mandalika.

Setahun berikutnya, ia menjalani satu musim penuh Asia Talent Cup.

Hasilnya cukup menjanjikan. Veda meraih tiga kemenangan dan menutup musim di posisi ketiga klasemen.

Namun, pencapaian terbesar di Asia Talent Cup baru datang setahun kemudian.

Sembilan Kemenangan Bawa Veda Jadi Juara Asia

Musim 2023 menjadi titik balik penting dalam karier Veda.

Dari 12 balapan yang dijalani, ia berhasil memenangkan sembilan di antaranya.

Dominasi tersebut mengantarkan Veda menjadi juara Asia Talent Cup 2023.

Lebih dari sekadar gelar, pencapaian tersebut mencatatkan namanya sebagai pebalap Indonesia pertama yang menjuarai Asia Talent Cup.

Gelar itu kemudian membuka pintu menuju jenjang berikutnya dalam program Road to MotoGP.

Veda naik kelas ke Red Bull MotoGP Rookies Cup, kompetisi yang menjadi salah satu tahapan penting bagi pebalap muda menuju MotoGP.

Sempat Peringkat Delapan, Lalu Meledak

Musim pertama Veda di Red Bull MotoGP Rookies Cup pada 2024 belum langsung menghasilkan gelar.

Ia mengakhiri musim di peringkat kedelapan.

Namun, pengalaman berkompetisi di berbagai sirkuit Eropa menjadi bekal penting.

Perubahan besar terjadi pada 2025.

Veda berhasil meraih kemenangan pertamanya di Mugello, Italia. Ia kemudian kembali menang di sirkuit yang sama dan menambah satu kemenangan di Sachsenring, Jerman.

Total, Veda mengoleksi tiga kemenangan sepanjang musim.

Ia pun menutup Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025 sebagai runner-up dengan 181 poin dan enam podium.

Pada tahun yang sama, Veda juga mengikuti FIM JuniorGP World Championship dan mengakhiri musim di posisi ke-10.

Namanya semakin mendapat perhatian setelah menjadi pebalap Indonesia pertama yang hadir sekaligus menerima penghargaan dalam FIM MotoGP Awards di Valencia.

Naik ke Moto3 Bersama Honda Team Asia

Rangkaian prestasi tersebut akhirnya mengantarkan Veda ke Kejuaraan Dunia Moto3.

Honda Team Asia merekrutnya untuk menjalani musim penuh pada 2026.

Veda menggunakan motor Honda dengan nomor balap #9, setelah sebelumnya lebih dikenal menggunakan nomor #54.

Debutnya di Grand Prix Thailand langsung memperlihatkan potensi.

Veda lolos langsung ke Q2 dan mengamankan posisi start kelima. Dalam balapan, ia mampu bertarung di kelompok depan sebelum menyelesaikan lomba di posisi kelima.

Namun, pencapaian terbesar datang pada seri berikutnya.

Brasil Jadi Panggung Sejarah

Moto3 Grand Prix Brasil 2026 menjadi momen yang mengubah perjalanan Veda.

Setelah kualifikasi dengan menempati posisi keempat, jalannya balapan sempat berubah akibat insiden yang membuat lomba dihentikan dan harus dilakukan restart.

Veda memulai restart dari posisi ketujuh.

Empat lap terakhir menjadi penentu.

Ia terus merangsek ke depan hingga masuk tiga besar. Pada lap penentuan, Veda melakukan manuver penting untuk merebut posisi ketiga.

Posisi tersebut mampu dipertahankan hingga garis finis.

Veda pun mencetak sejarah sebagai pebalap Indonesia pertama yang meraih podium dalam balapan Grand Prix.

Finis ketiga di Brasil menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya.

Dari Parkiran Gunungkidul ke Panggung Grand Prix

Jejak karier Veda menunjukkan perjalanan yang bertahap.

Ia tidak langsung muncul sebagai pebalap Moto3. Ada rangkaian panjang yang dimulai dari minibike, balapan nasional, Asia Talent Cup, Red Bull MotoGP Rookies Cup, FIM JuniorGP, hingga akhirnya Kejuaraan Dunia Moto3.

Setiap jenjang memberi pengalaman baru.

Dari juara nasional pada usia muda, menjadi juara Asia, runner-up Rookies Cup, hingga mencetak rekor sebagai pebalap Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix.

Kini, Honda Team Asia menjadi bagian dari babak baru perjalanan tersebut.

Berapa Gaji Veda Ega Pratama?

Perjalanan ke Moto3 juga membawa pertanyaan mengenai penghasilan Veda.

Tidak ada angka resmi yang dipublikasikan mengenai gaji Veda dari Honda Team Asia.

Sejumlah pemberitaan dan data industri motorsport menyebut bayaran pebalap Moto2 dan Moto3 dapat berada di kisaran 30.000–150.000 euro per tahun, atau sekitar Rp500 juta–Rp2,5 miliar, bergantung pada kontrak, tim, prestasi, bonus, dan sponsor.

Angka tersebut tidak dapat dianggap sebagai gaji resmi Veda.

Pendapatan pebalap juga bisa berasal dari bonus performa dan kerja sama komersial. Nilai kontrak sponsor maupun bonus Veda juga tidak seluruhnya diketahui publik.

Dengan demikian, kisaran tersebut lebih tepat digunakan sebagai gambaran umum industri, bukan kepastian penghasilan pebalap asal Gunungkidul tersebut.

Jejak yang Masih Panjang

Pada usia 17 tahun, perjalanan Veda Ega Pratama masih berada di fase awal.

Dari parkiran pasar di Gunungkidul hingga podium Grand Prix, setiap jenjang telah menjadi bagian dari prosesnya.

Kini tantangannya berada di kelas Moto3 bersama Honda Team Asia.

Bagi balap motor Indonesia, perjalanan Veda bukan hanya tentang satu podium atau satu musim.

Ia merupakan kelanjutan dari proses panjang seorang pebalap muda yang sejak kecil mengejar satu tujuan: semakin dekat dengan panggung tertinggi balap motor dunia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Moto3 2026 Karier Veda Juara Asia Honda Team Asia Veda Ega