RADAR BANYUWANGI — Menjadi pebalap Moto3 dunia bukan hanya soal kecepatan di lintasan. Di balik nomor balap #9 Honda Team Asia, Veda Ega Pratama kini berada di level kompetisi yang membuka peluang pendapatan jauh lebih besar dibanding fase awal kariernya. Sejumlah data industri menyebut bayaran pebalap Moto3 dapat berada di kisaran Rp500 juta hingga Rp2,5 miliar per tahun, tetapi angka tersebut bukan gaji resmi Veda.
Veda merupakan pebalap asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang pada usia 17 tahun sudah menembus Kejuaraan Dunia Moto3.
Kariernya berkembang sejak usia sangat muda. Dari minibike di usia lima tahun, balapan lokal, Asia Talent Cup, Red Bull MotoGP Rookies Cup, hingga akhirnya bergabung dengan Honda Team Asia pada musim 2026.
Perjalanan tersebut juga membawa konsekuensi finansial yang berbeda.
Namun, berapa sebenarnya gaji Veda Ega Pratama sebagai pebalap Moto3?
Perkiraan Gaji Veda Ega Pratama
Besaran gaji Veda di Honda Team Asia tidak dipublikasikan secara resmi.
Karena itu, angka yang beredar harus ditempatkan sebagai perkiraan, bukan nominal kontrak yang terkonfirmasi.
Sejumlah pemberitaan dan data industri motorsport menyebut pendapatan pebalap di kelas Moto2 dan Moto3 dapat berada di rentang 30.000–150.000 euro per tahun, atau sekitar Rp500 juta hingga Rp2,5 miliar per tahun, tergantung nilai kontrak, tim, prestasi, serta dukungan sponsor.
Dengan demikian, angka tersebut tidak bisa langsung disebut sebagai gaji Veda.
Pendapatan seorang pebalap juga dapat berasal dari beberapa komponen, seperti bayaran kontrak tim, bonus berdasarkan performa, serta kesepakatan komersial dan sponsor.
Bukan Sekadar Gaji dari Tim
Karier Veda kini berada di bawah sorotan lebih besar setelah ia naik ke Moto3.
Honda Team Asia menjadi tim yang menaunginya untuk menjalani musim penuh Moto3 2026. Veda menggunakan motor Honda dengan nomor #9.
Popularitas yang meningkat juga dapat membuka peluang komersial di luar kontrak balap.
Namun, nilai setiap kerja sama tentu bergantung pada kesepakatan masing-masing pihak. Tidak semua pemasukan pebalap dapat dihitung hanya dari gaji yang diberikan tim.
Karena itu, menyebut total penghasilan Veda hanya berdasarkan kisaran gaji pebalap Moto3 berpotensi menghasilkan angka yang tidak akurat.
Dari Parkiran Pasar hingga Moto3 Dunia
Di balik pembahasan soal gaji, perjalanan Veda menuju Moto3 justru menjadi bagian paling menarik dari kisahnya.
Ia mulai mengenal motor sejak berusia lima tahun. Sang ayah, Sudarmono, merupakan mantan pebalap nasional kelas Supersport 600 yang turut memperkenalkan dunia balap kepadanya.
Setahun kemudian, Veda sudah mulai mengikuti perlombaan.
Latihan awalnya bahkan dilakukan di area parkiran Pasar Sapi Siyono Harjo, Gunungkidul.
Dari sana, Veda berkembang melalui motocross sebelum beralih ke balap lintasan aspal.
Pada 2019, ketika masih sekitar 10 tahun, ia berhasil menjadi juara Kejuaraan Nasional Balap Underbone.
Juara Asia Jadi Jalan Menuju Moto3
Karier internasional Veda mulai terbentuk melalui Asia Talent Cup.
Pada 2021, ia tampil sebagai wildcard sebanyak empat kali, termasuk di Mandalika. Setahun berikutnya, Veda menjalani satu musim penuh dan meraih tiga kemenangan untuk mengakhiri kompetisi di posisi ketiga.
Perkembangannya semakin pesat pada 2023.
Veda memenangkan sembilan dari 12 balapan dan merebut gelar juara Asia Talent Cup 2023. Ia sekaligus tercatat sebagai pebalap Indonesia pertama yang menjuarai kompetisi tersebut.
Gelar tersebut menjadi salah satu pintu penting menuju jenjang berikutnya dalam program Road to MotoGP.
Runner-up Rookies Cup dan Rekor Baru
Veda kemudian naik ke Red Bull MotoGP Rookies Cup.
Pada musim debut 2024, ia mengakhiri kompetisi di posisi kedelapan. Namun, performanya meningkat tajam pada 2025.
Veda mencatat tiga kemenangan, masing-masing dua di Mugello dan satu di Sachsenring. Ia mengakhiri musim sebagai runner-up dengan 181 poin dan enam podium.
Ia juga menjadi pebalap Indonesia pertama yang memenangi balapan Red Bull MotoGP Rookies Cup.
Prestasi tersebut kemudian membuka jalan menuju Kejuaraan Dunia Moto3.
Debut Moto3 Langsung Mencuri Perhatian
Honda Team Asia merekrut Veda untuk menjalani musim penuh Moto3 2026.
Pada debutnya di Grand Prix Thailand, Veda langsung lolos ke Q2 dan mengamankan posisi start kelima. Dalam balapan, ia mampu bertarung di kelompok depan sebelum finis kelima.
Pencapaian lebih besar datang pada seri berikutnya di Grand Prix Brasil.
Veda mengawali restart dari posisi ketujuh. Dalam empat lap terakhir, ia mampu merangsek ke tiga besar dan kemudian merebut posisi ketiga hingga finis.
Hasil tersebut menciptakan sejarah.
Veda menjadi pebalap Indonesia pertama yang meraih podium dalam balapan Grand Prix.
Gaji dan Prestasi Berjalan Beriringan
Rekor di lintasan membuat nilai komersial seorang pebalap bisa ikut berkembang, tetapi tidak berarti nominal gaji dapat langsung diketahui publik.
Untuk Veda, kontrak Honda Team Asia, bonus performa, dan nilai sponsor merupakan informasi yang tidak seluruhnya dipublikasikan.
Karena itu, kisaran Rp500 juta–Rp2,5 miliar per tahun lebih tepat disebut sebagai gambaran pendapatan yang diberitakan untuk pebalap Moto3/Moto2, bukan kepastian gaji Veda.
Yang sudah jelas, perjalanan Veda membuat posisi finansial dan komersialnya berpotensi berkembang seiring meningkatnya prestasi.
Dari latihan di parkiran pasar di Gunungkidul, ia kini berlaga di panggung tertinggi balap motor dunia kelas Moto3.
Dan pada usia 17 tahun, perjalanan itu masih jauh dari garis finis. (*)
Editor : Ali Sodiqin