Bagnaia Start P7 di Austria, Masalah Kualifikasi Belum Putus

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 10:46 WIB
Francesco Bagnaia memacu Ducati GP26 pada MotoGP Austria 2026. Meski berhasil lolos dari Q1 dan mengamankan posisi start ketujuh, pembalap Ducati Lenovo itu masih menghadapi persoalan daya cengkeram dan performa satu putaran. (MotoGP)
Francesco Bagnaia memacu Ducati GP26 pada MotoGP Austria 2026. Meski berhasil lolos dari Q1 dan mengamankan posisi start ketujuh, pembalap Ducati Lenovo itu masih menghadapi persoalan daya cengkeram dan performa satu putaran. (MotoGP)

RADAR BANYUWANGI - Francesco Bagnaia memang berhasil menyelamatkan kualifikasi MotoGP Austria 2026. Dari Q1, pembalap Ducati Lenovo Team itu melesat ke Q2 dan mengamankan posisi start ketujuh.

Namun, P7 belum menjawab persoalan yang lebih besar.

Austria menjadi seri kelima secara beruntun ketika Bagnaia gagal mendapatkan tiket langsung ke Q2. Artinya, masalahnya bukan lagi satu sesi buruk atau satu sirkuit yang tidak cocok. Ada pola yang terus berulang sejak pertengahan musim.

Bagnaia hanya berada di posisi ke-18 pada sesi Practice Jumat di Red Bull Ring. Hasil tersebut kembali memaksanya turun di Q1. MotoGP mencatat, itu merupakan Q1 kelima beruntun bagi juara dunia MotoGP dua kali tersebut.

Pada Sabtu, situasinya membaik. Bagnaia lolos dari Q1 sebelum naik ke posisi ketujuh pada Q2.

Pemulihan itu cukup signifikan. Tetapi, ada satu pembanding yang sulit diabaikan: Marc Marquez.

Rekan setim Bagnaia tersebut menempatkan Ducati pabrikan lainnya di posisi kedua. Marquez bahkan hanya terpaut 0,015 detik dari peraih pole Jorge Martin.

Karena itu, pertanyaan setelah kualifikasi Austria bukan sekadar apakah Bagnaia masih mampu lolos dari Q1.

Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa dia terus berada di sana.

Lima Seri, Polanya Sama

Satu akhir pekan buruk masih bisa dianggap anomali. Lima akhir pekan berturut-turut memberikan gambaran berbeda.

Sejak Sachsenring, Bagnaia terus gagal menyelesaikan Practice di zona sepuluh besar yang memberikan tiket otomatis ke Q2.

Catatan lima seri terakhir memperlihatkan polanya:

Dalam lima seri tersebut, rata-rata posisi start Bagnaia adalah 11,2. Marquez berada di 2,6.

Selisihnya mencapai rata-rata 8,6 posisi grid.

Angka itu tentu tidak dapat digunakan sendirian untuk menilai performa kedua pembalap. Kondisi tiap akhir pekan berbeda.

Di Silverstone, misalnya, Bagnaia baru kembali setelah menjalani operasi pada lengan kanan. Ducati mencatat dia masih merasakan ketidaknyamanan, terutama ketika mengerem dan memasuki tikungan kanan.

Namun, faktor fisik tidak menjelaskan seluruh rangkaian masalah tersebut.

Sebab, jauh sebelum Austria, Bagnaia sudah berulang kali menunjuk daya cengkeram ban belakang sebagai salah satu titik lemah utama motornya.

Kualifikasi Sudah Lama Menjadi Titik Lemah

Sachsenring menjadi salah satu akhir pekan ketika Bagnaia berbicara terbuka soal persoalan tersebut.

Setelah Sprint MotoGP Jerman, dia secara langsung menghubungkan masalah daya cengkeram ban belakang dengan performanya di kualifikasi.

“Saya masih kesulitan dengan daya cengkeram ban belakang. Kualifikasi adalah bagian yang paling membuat kami kesulitan,” ujar Bagnaia dalam pernyataan resmi Ducati.

Sehari sebelumnya, Bagnaia juga mengeluhkan karakter motor di tikungan panjang.

Saat mencoba meningkatkan kecepatan, bagian belakang motor bergerak terlalu banyak. Kondisi itu mengurangi kepercayaan dirinya untuk menyerang.

Ducati saat itu sudah melakukan beberapa perubahan setelan.

Hasilnya belum cukup.

Masalah tersebut penting karena kualifikasi MotoGP menuntut pembalap memanfaatkan ban baru secara maksimal hanya dalam beberapa putaran.

Tidak ada banyak waktu untuk beradaptasi.

Pembalap harus langsung percaya kepada bagian belakang motor ketika mengerem, memasuki tikungan, menyentuh titik apex, lalu membuka gas.

Bagnaia justru kehilangan keyakinan pada fase-fase tersebut.

Silverstone Memperlihatkan Efek Berantainya

Silverstone tidak membawa perubahan yang diharapkan.

Bagnaia kembali masuk Q1. Kali ini, dia gagal lolos dan harus start dari posisi ke-16.

Kesulitannya juga tidak berhenti pada kualifikasi.

Dalam Sprint, Bagnaia finis ke-17. Ducati kemudian menjelaskan bahwa masalahnya berhubungan dengan kemampuan menghentikan motor dan mendapatkan daya cengkeram ban belakang.

Karena motor tidak berhenti sesuai keinginannya, Bagnaia harus menggunakan gas lebih banyak ketika berada di tengah tikungan untuk membantu motor berbelok.

Ada konsekuensinya.

Ban belakang lebih cepat terkuras.

“Kami benar-benar harus memahami mengapa daya cengkeram ban belakang kami sangat rendah,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa satu masalah dapat memicu masalah lain.

Ketika daya cengkeram berkurang, Bagnaia tidak hanya kehilangan traksi saat keluar tikungan. Cara dia mengerem dan membelokkan motor juga ikut berubah.

Dalam balapan panjang, kekurangan semacam itu terkadang masih bisa dikompensasi.

Pembalap dapat menyesuaikan jalur balap, mengelola ban, atau mengubah ritme.

Dalam kualifikasi, ruang komprominya jauh lebih sempit.

Masalah Meluas hingga Engine Brake

Situasi menjadi lebih rumit di Misano.

Pada tahap itu, Bagnaia tidak lagi hanya membicarakan daya cengkeram ban belakang.

Dia juga menyebut engine brake atau efek pengereman mesin.

Ducati bahkan mengakui tim sudah mencoba memahami perilaku motor tersebut selama beberapa seri.

“Sudah tiga balapan kami kesulitan memahami perilaku motor, terutama soal pengereman mesin dan daya cengkeram ban belakang," kata Bagnaia.

Pernyataan itu menjadi salah satu bagian penting dalam membaca masalah Bagnaia sepanjang paruh kedua musim.

Sebab, persoalannya sudah menyentuh beberapa fase sekaligus.

Data Ducati menunjukkan adanya perbedaan perilaku pada motor Bagnaia ketika melakukan pengereman, berada di tengah tikungan, dan keluar tikungan dibandingkan Ducati lainnya.

Tim juga belum berhasil membuat motor Bagnaia menunjukkan respons yang sama seperti motor Ducati lain.

Itu bukan persoalan kecil.

Jika masalah hanya muncul di satu jenis tikungan, Ducati bisa memusatkan pencarian solusi pada satu area.

Namun, ketika perbedaannya muncul sejak pengereman sampai akselerasi keluar tikungan, pekerjaan menjadi jauh lebih kompleks.

Bagnaia: Motornya “Sangat, Sangat Berbeda”

Setelah Misano, gambaran tersebut semakin jelas.

Bagnaia mengatakan perilaku motornya terasa berbeda jika dibandingkan dengan GP26 lain.

Dalam laporan Motorsport.com, dia menggambarkannya dengan kalimat pendek.

“Sangat, sangat berbeda," cetusnya.

Salah satu hal yang membuat Bagnaia bingung adalah respons motor ketika menggunakan ban belakang lunak yang baru.

Normalnya, ban baru akan memberikan peningkatan daya cengkeram yang cukup jelas. Itu pula yang menjadi modal utama pembalap ketika melakukan serangan waktu dalam Practice maupun kualifikasi.

Pada motor Bagnaia, peningkatan tersebut tidak selalu terasa sebagaimana mestinya.

Ban baru tidak otomatis memberinya lompatan performa yang dia harapkan.

Di sinilah problem teknis tersebut bertemu langsung dengan masalah kualifikasi.

MotoGP saat ini memiliki grid yang sangat rapat. Kehilangan beberapa persepuluh detik saja dapat membuat seorang pembalap turun beberapa posisi sekaligus.

Tidak perlu kehilangan satu detik.

Selisih yang terlihat kecil di stopwatch bisa berarti perbedaan antara baris pertama dan baris ketiga.

Austria Belum Menghapus Masalah

Jumat di Austria kembali memperlihatkan pola serupa.

Bagnaia hanya berada di P18.

Ducati kembali mencari cara meningkatkan daya cengkeram ban belakang. Bagnaia sendiri tidak menutup-nutupi kesulitannya.

“Dalam beberapa hal, inilah potensi saya saat ini. Tetapi, kami akan mencoba memberikan yang terbaik,” ujar Bagnaia.

Pernyataan itu cukup keras jika melihat statusnya sebagai pembalap tim pabrikan Ducati.

Namun, Sabtu memberikan sedikit perubahan.

Bagnaia mampu keluar dari Q1. Dia kemudian melesat ke P7 pada Q2.

Dalam Sprint, dia kembali memperbaiki posisi dan finis keenam.

Lebih penting lagi, Bagnaia mengatakan perasaannya terhadap motor mulai membaik.

Tetapi, kalimat berikutnya menunjukkan pekerjaannya belum selesai.

“Perasaan terhadap motor sudah membaik. Sekarang saya berharap kami bisa membuat langkah berikutnya dalam hal daya cengkeram dan traksi ketika keluar tikungan," pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
MotoGP Austria 2026 Ducati GP26 marc marquez francesco bagnaia MotoGP 2026