RADAR BANYUWANGI - Angka 18 terlihat buruk di samping nama Francesco Bagnaia. Namun, klasemen Practice MotoGP Austria di Red Bull Ring, Jumat (18/9), memberi gambaran yang lebih rumit.
Pedro Acosta menjadi yang tercepat dengan 1 menit 28,381 detik. Bagnaia mencatat 1 menit 29,266 detik. Selisihnya hanya 0,885 detik.
Bahkan, 18 pembalap teratas masih berada dalam rentang kurang dari satu detik.
Persaingan menuju Q2 lebih ekstrem lagi. Fabio Quartararo merebut posisi kesepuluh dengan selisih 0,436 detik dari Acosta. Luca Marini berada tepat di belakangnya dengan +0,440 detik.
Hanya 0,004 detik yang memisahkan tiket langsung ke Q2 dan kewajiban melewati Q1.
Bagnaia sendiri tertinggal 0,449 detik dari batas itu.
Masalahnya, Austria bukan kejadian tunggal. Ini menjadi akhir pekan kelima berturut-turut ketika Bagnaia gagal menembus sepuluh besar Practice dan harus memulai kualifikasi dari Q1.
Di situlah persoalannya mulai membentuk pola.
Lima Q1, Masalah yang Terus Muncul
Rangkaian itu dimulai di Sachsenring. Bagnaia finis P13 dan hanya sekitar 0,1 detik dari posisi kesepuluh.
Namun, dia sudah mengeluhkan daya cengkeram ban belakang.
“Semua tikungan beradius panjang sulit karena saya kekurangan grip belakang,” kata Bagnaia dalam rilis Ducati.
Ketika mencoba menekan lebih keras, bagian belakang motor bergerak. Ducati bahkan mencoba empat arah setelan untuk mencari grip tambahan.
Di Silverstone, Bagnaia kembali P13. Kali ini kesempatan terakhir hilang setelah dia terjatuh pada fase time attack. Kondisi fisiknya juga belum ideal setelah operasi lengan kanan.
“Masih ada pekerjaan teknis yang harus dilakukan, terutama soal grip,” ujarnya.
Aragón menghadirkan cerita serupa. Bagnaia lagi-lagi P13, hanya 0,189 detik dari batas Q2. Pada percobaan terakhir, dia gagal menyelesaikan lap yang diproyeksikan cukup cepat.
“Pada time attack terakhir, saya mencoba mengerem keras, tetapi harus melebar,” katanya.
Menariknya, sehari kemudian Bagnaia justru mampu menjadi yang tercepat di Q1. Itu menunjukkan kecepatan satu lapnya belum hilang.
Masalahnya adalah mendapatkan kecepatan itu secara konsisten dan tepat waktu.
Misano Menjadi Alarm
Situasinya memburuk di Misano.
Bagnaia hanya P19 dan tertinggal 0,769 detik dari batas sepuluh besar. Kali ini problemnya bukan sekadar satu lap yang gagal.
“Kami kesulitan memahami perilaku motor, terutama terkait engine brake dan grip belakang,” kata Bagnaia.
Ducati membandingkan data motor #63 dengan pembalap Ducati lain. Perbedaannya terlihat sejak pengereman, fase tengah tikungan, hingga keluar tikungan.
Motor juga terasa lebih gugup. Akibatnya, perubahan setelan sulit dirasakan secara jelas.
Situasi seperti itu sangat merugikan dalam time attack. Untuk mengejar satu putaran terbaik, pembalap harus yakin bagaimana motor akan bereaksi ketika pengereman dilepas, motor direbahkan, lalu gas dibuka.
Sedikit keraguan berarti kehilangan beberapa perseratus detik.
Di grid MotoGP 2026, kehilangan sekecil itu bisa berarti beberapa posisi.
Austria, Problem yang Sama
Austria kembali memperlihatkan dua sisi masalah Bagnaia.
Pertama, grid memang sangat rapat. P18 hanya terpaut 0,885 detik dari Acosta.
Kedua, keluhannya tidak banyak berubah.
“Grip belakang memengaruhi masuk pengereman dan akselerasi, jadi kurang lebih semuanya,” ujar Bagnaia kepada media di Spielberg.
Ketika ditanya apakah feeling-nya membaik dibanding Misano, jawabannya singkat.
“Tidak juga. Feeling saya sama, masalahnya juga sama.”
Pernyataan tersebut penting. Artinya, Bagnaia tidak sekadar kehilangan traksi ketika membuka gas. Daya cengkeram belakang juga memengaruhi fase pengereman, area yang sangat menentukan dalam satu putaran cepat.
Jika pembalap tidak percaya penuh kepada bagian belakang motor, dia sulit mengerem lebih dalam. Jika motor tidak berada di posisi ideal pada pertengahan tikungan, akselerasi berikutnya ikut terganggu.
Kerugian kecil itu kemudian menumpuk sepanjang satu lap.
Tiga GP26 Lain Masuk Delapan Besar
Ada fakta lain yang membuat P18 Bagnaia sulit dijelaskan hanya sebagai kelemahan Ducati GP26.
Marc Marquez menutup Practice di P4. Fabio Di Giannantonio P6. Alex Marquez P8. Ketiganya menggunakan GP26, seperti Bagnaia.
Fermin Aldeguer bahkan membawa Ducati Gresini ke P2.
Tentu, motor dengan spesifikasi dasar sama tidak selalu memiliki setelan identik. Geometri, elektronik, preferensi pembalap, serta cara menggunakan ban dapat menghasilkan karakter berbeda.
Namun, hasil itu menunjukkan bahwa GP26 memiliki kecepatan satu lap di Red Bull Ring.
Pertanyaannya adalah mengapa Bagnaia belum mampu mengekstraknya secara konsisten.
Ban Austria Bukan Jawaban Tunggal
Red Bull Ring juga menggunakan casing ban belakang dengan karakter berbeda.
Marc Marquez mengatakan perilaku Ducati di Austria berubah dan tim harus menyesuaikan motor dengan ban tersebut.
Namun, Bagnaia tidak melihatnya sebagai penjelasan utama.
“Saya tidak benar-benar merasakan perbedaan antara ban normal dan ban ini,” katanya.
Itu masuk akal. Masalah Bagnaia sudah muncul sebelum Austria. Pembalap Ducati lain juga tetap mampu berada di barisan depan dengan kondisi ban yang sama.
Karena itu, ban bisa menjadi salah satu variabel, tetapi sulit disebut sebagai penyebab tunggal.
Kecepatannya Masih Ada
Lima Q1 berturut-turut mudah menimbulkan kesan bahwa Bagnaia kehilangan kecepatan satu lap.
Data justru menunjukkan gambaran yang lebih beragam.
Di Aragón, dia mampu menjadi yang tercepat di Q1 setelah sehari sebelumnya gagal masuk sepuluh besar. Artinya, kemampuan membuat flying lap kompetitif masih ada.
Editor : Lugas Rumpakaadi