RADAR BANYUWANGI - Veda Ega Pratama memang mengawali akhir pekan Moto3 Grand Prix San Marino 2026 dengan menempati posisi ke-15 pada sesi Free Practice 1 (FP1), Jumat (11/9). Namun, posisi tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kecepatan pembalap Indonesia dari Honda Team Asia itu.
Data sektor justru menunjukkan Veda memiliki potensi untuk bersaing lebih dekat dengan papan tengah atas. Jika seluruh catatan sektor terbaiknya digabungkan, waktu ideal Veda secara teoritis berada di posisi ke-11. Persoalannya, ia belum mampu menggabungkan seluruh sektor terbaik tersebut dalam satu putaran yang sah.
FP1 Moto3 San Marino 2026 berlangsung di Sirkuit Dunia Misano Marco Simoncelli dengan panjang lintasan 4,226 kilometer. Secara visual, kondisi trek kering. Namun, permukaan aspal pada awal sesi masih dingin dan kelembapan udara cukup tinggi sehingga cengkeraman belum berada pada kondisi optimal.
Situasi itu membuat para pembalap harus beradaptasi lebih dulu sebelum mampu memacu motor mendekati batas. Lintasan yang masih minim deposit karet juga membuat ban membutuhkan waktu untuk mencapai temperatur kerja yang ideal.
Akibatnya, sejumlah pembalap mengalami persoalan dengan batas lintasan. Sektor 3 menjadi salah satu bagian yang paling sulit karena karakter lintasannya memadukan perubahan arah berkecepatan tinggi dan pengereman keras. Beberapa nama, termasuk Adrian Fernandez, Valentin Perrone, Adrian Cruces, Joel Esteban, Brian Uriarte, David Almansa, Ryusei Yamanaka, dan Marco Morelli, tercatat mengalami pembatalan waktu di sektor tersebut.
Veda Empat Kali Memimpin Catatan Waktu
Di tengah proses meningkatnya grip lintasan, Veda sempat menunjukkan kecepatannya. Pembalap Indonesia tersebut beberapa kali mengambil alih posisi teratas dalam perkembangan catatan waktu FP1.
Veda tercatat memimpin daftar waktu pada beberapa titik sesi, termasuk sekitar menit ke-14, ke-22, ke-25, dan ke-27. Pada menit ke-27, ia menjadi pembalap pertama yang menembus catatan 1 menit 51 detik.
Namun, posisi terdepan itu tidak bertahan sampai bendera finis. Memasuki fase akhir, sejumlah pembalap memilih melakukan serangan waktu ketika kondisi lintasan semakin baik.
Veda sendiri menjalani program yang berbeda. Ia menyelesaikan 18 lap dalam satu stint tanpa pit stop. Pendekatan tersebut memberikan tim kesempatan mengumpulkan data mengenai perubahan karakter lintasan sekaligus perilaku ban sepanjang sesi.
Lap Terakhir Sebenarnya Menjanjikan
Salah satu bagian paling menarik dari penampilan Veda terjadi pada lap terakhir.
Veda melakukan serangan waktu pada putaran ke-18 dan menghasilkan tiga sektor terbaik pribadinya, yakni T1, T3, dan T4. Sayangnya, lap tersebut tidak masuk sebagai catatan terbaik resmi karena terjadi pelanggaran track limits. Catatan terbaik Veda yang diakui dalam klasifikasi tetap berasal dari lap ke-15.
Situasi tersebut menjelaskan mengapa posisi akhir Veda terlihat kurang mencerminkan potensi kecepatannya.
Dalam perhitungan Ideal Lap Time, Veda memiliki potensi waktu yang secara teoritis menempatkannya di posisi ke-11. Deviasi antara waktu ideal dan waktu terbaik resmi mencapai 0,582 detik.
Dengan kata lain, pekerjaan Veda pada sesi berikutnya bukan semata-mata mencari kecepatan baru. Ia juga perlu menggabungkan sektor-sektor terbaik tersebut dalam satu putaran yang bersih dan sah.
Kelso Menunggu hingga Akhir dan Langsung Tercepat
Joel Kelso dari GRYD Racing justru memilih pendekatan berbeda. Pembalap Australia itu baru keluar garasi ketika sesi telah berjalan sekitar 30 menit.
Keputusan tersebut memberikan keuntungan karena kondisi lintasan sudah semakin baik. Grip meningkat seiring bertambahnya deposit karet ban di permukaan aspal. Kelso kemudian menggunakan ban baru dan langsung membukukan serangkaian lap cepat.
Strategi itu terbukti efektif. Kelso mengakhiri FP1 sebagai pembalap tercepat dengan catatan 1 menit 46,033 detik hanya dari empat lap. Leo Rammerstorfer berada di posisi kedua dengan 1 menit 46,566 detik, sedangkan Adrian Fernandez menempati posisi ketiga dengan 1 menit 47,143 detik.
Lima besar menjadi dominasi Honda. Casey O'Gorman berada di posisi keempat dan Nicola Carraro melengkapi lima besar. Scott Ogden menjadi pembalap KTM dengan posisi terbaik di peringkat keenam.
Kecepatan KTM Belum Cukup Menggeser Honda
Hasil FP1 juga memperlihatkan persaingan menarik antara Honda dan KTM. Motor KTM memiliki keunggulan dalam kecepatan puncak di lintasan lurus, tetapi keunggulan tersebut belum berhasil dikonversikan menjadi catatan waktu lap terbaik.
Honda justru menyapu lima posisi teratas. Analisis sumber mengaitkan keunggulan tersebut dengan karakter sasis dan penyaluran tenaga yang lebih mendukung ketika grip lintasan masih terbatas.
Bagi Veda, situasi ini memberikan modal penting untuk sesi berikutnya. Data dari 18 lap yang dijalani tanpa pergantian ban memberikan gambaran mengenai perubahan performa motor dan ban ketika lintasan semakin berkembang.
Kesempatan Veda Memburu 10 Besar
FP1 belum menentukan posisi akhir Veda pada akhir pekan balap Misano. Justru dari sesi pembuka tersebut terlihat beberapa hal yang perlu diperbaiki.
Kecepatan dasarnya sudah terlihat dari beberapa kali memimpin catatan waktu dan dari potensi Ideal Lap Time yang berada di kisaran posisi ke-11. Tantangan berikutnya adalah membuat performa tersebut lebih konsisten sekaligus menjaga setiap putaran tetap berada dalam batas lintasan.
Honda Team Asia juga memiliki data penting dari stint panjang Veda. Untuk sesi berikutnya, strategi penggunaan ban segar pada waktu yang tepat serta disiplin terhadap track limits menjadi dua faktor yang dapat menentukan apakah potensi tersebut bisa berubah menjadi posisi klasifikasi yang lebih baik.
Karena itu, posisi ke-15 pada FP1 belum menjadi gambaran akhir. Veda masih memiliki pekerjaan untuk menyatukan kecepatan yang sudah terlihat di berbagai sektor menjadi satu lap sempurna. Jika berhasil, persaingan menuju 10 besar bukan target yang berada di luar jangkauan.
Editor : Lugas Rumpakaadi