Hakim Danish Diminta Tak Buru-Buru Naik Moto2, Ini Alasannya

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 01:00 WIB
Hakim Danish, rider asal Terengganu, Malaysia, bersama sang mentor yang juga mantan rider MotoGP asal negeri jiran, Zukfahmi Khairuddin. (IG/hakimdanish_13)
Hakim Danish, rider asal Terengganu, Malaysia, bersama sang mentor yang juga mantan rider MotoGP asal negeri jiran, Zukfahmi Khairuddin. (IG/hakimdanish_13)

RADAR BANYUWANGI – Gemilang di musim debut ternyata belum membuat Hakim Danish perlu buru-buru naik kelas. Pembalap Malaysia itu justru diminta memperpanjang masa belajar di Moto3 setelah MSi Racing Team memastikan kontraknya berlanjut untuk musim 2027. Bagi Manajer Tim SIC Racing Zulfahmi Khairuddin, satu musim tambahan di Moto3 akan menjadi bekal penting sebelum Danish benar-benar siap menuju Moto2.

Keputusan tersebut sekaligus menjadi bentuk kepercayaan besar MSi kepada pembalap berusia 19 tahun asal Terengganu tersebut. Danish tampil impresif pada musim debutnya, termasuk meraih kemenangan perdana di GP Republik Ceko dan mengamankan dua podium.

Namun, Zulfahmi melihat perjalanan menuju Moto2 tidak semestinya ditempuh dengan tergesa-gesa.

Satu Tahun Lagi untuk Mematangkan Diri

MSi mengonfirmasi perpanjangan kontrak Danish pada Sabtu lalu. Artinya, pembalap kelahiran Terengganu itu kembali dipercaya menjadi bagian dari skuad Moto3 musim depan.

Bagi Zulfahmi, keputusan tersebut bukan berarti Danish belum layak naik kelas.

Sebaliknya, satu musim tambahan di Moto3 dipandang sebagai kesempatan untuk mengasah kemampuan secara lebih lengkap sebelum menghadapi tantangan yang lebih besar di Moto2.

“Menurut pandangan saya, Hakim Danish masih harus banyak belajar di kategori ini sebelum melangkah ke tingkat yang lebih tinggi. Kami perlu terus melangkah maju menghadapi musim depan,” ujar Zulfahmi, dilansir New Straits Times.

Pesan itu cukup jelas. Kecepatan saja belum cukup untuk menentukan kapan seorang pembalap siap naik kelas.

Pengalaman membaca balapan, mengelola ban, memahami karakter motor, hingga menjaga konsistensi sepanjang musim juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Kemenangan di Brno Jadi Modal Besar

Danish memasuki musim debut Moto3 dengan status salah satu talenta muda Malaysia yang paling menjanjikan.

Performa tersebut kemudian mulai terkonfirmasi di lintasan.

Ia berhasil meraih kemenangan perdana di Moto3 pada GP Republik Ceko di Sirkuit Brno pada Juni lalu. Selain kemenangan tersebut, Danish juga beberapa kali mampu mengamankan posisi start di barisan depan.

Catatan itu membuatnya semakin diperhitungkan dalam persaingan rookie.

Salah satu rival yang terus berada dalam radar Danish adalah Veda Ega Pratama. Keduanya sudah saling bersaing sejak ajang Red Bull Rookies Cup 2025 dan kembali bertemu di panggung Moto3.

Persaingan tersebut membuat perjalanan Danish musim ini semakin menarik untuk diikuti.

MSi Masih Percaya pada Potensi Danish

Perpanjangan kontrak juga menunjukkan bahwa MSi tidak melihat performa Danish sebagai sekadar kejutan seorang rookie.

Zulfahmi menilai kerja sama yang berlanjut merupakan pengakuan atas perkembangan yang sudah ditunjukkan pembalap Malaysia tersebut.

“Saya tidak meragukan kemampuan tim, dan kelanjutan kerja sama Hakim Danish dengan tim ini tentu merupakan pengakuan nyata atas kemajuan yang telah ia capai,” kata Zulfahmi.

Ia juga menilai MSi memiliki paket yang kompetitif, baik dari sisi tim maupun motor.

“Mereka sangat kompetitif, motor yang digunakan juga kompetitif, dan saya yakin Hakim Danish sangat termotivasi untuk terus membalap bersama tim ini.”

Kepercayaan tersebut menjadi modal penting bagi Danish untuk menghadapi musim keduanya.

Rekan Setim Baru Menanti

Pada Moto3 2027, Danish juga akan mendapatkan wajah baru di garasi MSi.

Pembalap Argentina Valentin Perrone dipastikan menjadi rekan setimnya. Ia menggantikan rider Jepang Ryusei Yamanaka.

Komposisi baru tersebut membuka peluang bagi MSi untuk membangun kombinasi pembalap yang berbeda pada musim depan.

Bagi Danish, situasi ini sekaligus menghadirkan tantangan baru. Ia tidak lagi sekadar beradaptasi dengan atmosfer kejuaraan dunia, tetapi mulai dituntut menjadi pembalap yang lebih matang dan konsisten.

Zulfahmi: Bakat Malaysia Layak Diberi Jalan

Zulfahmi melihat perjalanan Danish lebih luas daripada sekadar pencapaian individu.

Menurutnya, perkembangan pembalap 19 tahun tersebut membuktikan bahwa talenta Malaysia mampu bersaing di level internasional jika mendapatkan kesempatan, program pengembangan, dan dukungan yang tepat.

“Perjalanan Hakim Danish juga menunjukkan bahwa pembalap Malaysia memiliki bakat dan potensi untuk bersaing di tingkat tertinggi apabila diberikan kesempatan yang tepat, rencana pengembangan yang layak, serta dukungan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia berharap keberhasilan Danish dapat menjadi pemantik bagi pembalap muda Malaysia lainnya.

Dengan pembinaan yang berkelanjutan, Zulfahmi ingin semakin banyak talenta Negeri Jiran memiliki keberanian mengejar karier di kejuaraan dunia.

Crash Silverstone Sempat Menghambat Perburuan Veda

Perjalanan Danish musim ini memang tidak selalu mulus.

Pada seri Moto3 Inggris 2026 di Silverstone, ia mengalami crash pada lap kelima ketika berada tepat di depan Veda Ega Pratama.

Kegagalan finis tersebut membuat Danish kehilangan kesempatan untuk memangkas jarak dengan Veda dalam persaingan klasemen rookie.

Sebelum seri Silverstone, Danish hanya terpaut empat poin dari pembalap Honda Team Asia tersebut.

Namun, hasil di Inggris mengubah situasi. Veda berhasil finis kesembilan, sedangkan Danish gagal finis. Jarak keduanya kemudian melebar menjadi sembilan poin.

Beruntung, Danish tidak mengalami cedera serius akibat insiden tersebut.

“Alhamdulillah, saya tidak mengalami cedera apa pun selama balapan,” ujar Danish, dilansir Bharian.

Moto3 2027 Jadi Tahun Pembuktian

Dengan kontrak yang sudah diperpanjang, Danish kini memiliki satu tugas utama: memaksimalkan satu musim tambahan di Moto3.

Tidak ada tuntutan untuk terburu-buru mengejar Moto2.

Sebaliknya, musim 2027 bisa menjadi fase pematangan yang menentukan. Konsistensi, kemampuan mengembangkan motor, pengelolaan balapan, dan keberanian bersaing di barisan depan akan menjadi ukuran penting sebelum langkah berikutnya diambil.

Zulfahmi berharap Danish mampu menutup musim debutnya dengan catatan positif dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai pijakan.

“Saya berharap kita dapat menikmati musim yang sukses tahun ini dan menjalani musim yang jauh lebih kuat bersama-sama tahun depan.”

Jika proses itu berjalan sesuai rencana, Moto3 2027 bukan sekadar musim kedua bagi Hakim Danish. Ini bisa menjadi tahun terakhirnya belajar sebelum pintu menuju Moto2 benar-benar terbuka. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Moto3 2027 MSi Racing Zulfahmi Khairuddin hakim danish moto2