Hakim Danish Gagal Kejar Veda Ega Pratama, Setelan Motor Jadi Masalah

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 18:25 WIB
Hakim Danish gagal dekati poin Veda Ega Pratama dalam perebutan gelar rookie di GP Aragon. (instagram/hakimdanish_13)
Hakim Danish gagal dekati poin Veda Ega Pratama dalam perebutan gelar rookie di GP Aragon. (instagram/hakimdanish_13)

RADAR BANYUWANGI – Duel dua rookie Moto3 2026, Hakim Danish dan Veda Ega Pratama, kembali berlangsung ketat di Sirkuit Aragon, Spanyol, Minggu (30/8/2026). Namun, pembalap Malaysia itu belum mampu mengambil alih posisi Veda setelah hanya finis ke-12 dan mengoleksi total 90 poin, tertinggal 7 angka dari pembalap Indonesia tersebut.

Hasil Moto3 Aragon 2026 membuat Danish tetap berada di peringkat kedelapan klasemen sementara. Sementara Veda masih bertahan satu tingkat di atasnya dengan 97 poin, meski pembalap Honda Team Asia itu juga gagal mencetak poin di Aragon.

Persaingan keduanya kini bukan hanya soal kecepatan di lintasan. Danish mulai mengidentifikasi persoalan pada set-up motor sebagai salah satu faktor yang membuatnya kesulitan menjaga performa hingga akhir balapan.

Danish Sempat Dekati Rombongan Depan

Balapan di MotorLand Aragon sebenarnya sempat memberikan harapan bagi Danish.

Pembalap AEON Credit–MT Helmets–MSi tersebut mampu menjaga kecepatan hingga lap kesembilan. Ia berusaha bertahan bersama rombongan pembalap terdepan sebelum ritmenya mulai menurun memasuki fase akhir lomba.

Danish akhirnya harus puas melewati garis finis di posisi ke-12.

Hasil tersebut memang memberikan tambahan poin, tetapi belum cukup untuk menggeser Veda dalam persaingan rookie.

Dengan 90 poin, Danish masih tertinggal tujuh angka dari Veda yang mengoleksi 97 poin.

Selisih yang relatif tipis tersebut membuat pertarungan dua pembalap muda itu masih sangat terbuka pada seri-seri berikutnya.

Kecepatan Motor Belum Konsisten

Danish tidak menutupi persoalan yang dihadapinya.

Menurut pembalap yang sudah merasakan kemenangan di Moto3 Republik Ceko, motor yang digunakannya semakin mudah dikendalikan. Namun, ia belum menemukan konfigurasi yang benar-benar membuatnya nyaman dan kompetitif sepanjang balapan.

Masalah terbesar berada pada pengaturan motor.

“Saya mencoba yang terbaik untuk bertahan bersama rombongan depan di awal balapan, tetapi para pembalap terdepan memiliki kecepatan yang lebih baik dari saya,” kata Danish.

Alih-alih memaksakan diri mengikuti kecepatan pembalap di depannya, Danish memilih menjaga ritme sendiri agar bisa bertahan hingga finis.

Strategi tersebut membantunya mengamankan posisi ke-12, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa masih ada celah performa yang harus ditutup.

Set-Up Jadi Pekerjaan Rumah

Danish mengaku semakin memahami karakter motornya. Namun, proses adaptasi tersebut belum selesai.

“Saya semakin nyaman dengan motor ini, tetapi saya belum sepenuhnya siap,” ujarnya.

Ia menyebut masih menghadapi sejumlah kesulitan dalam menentukan set-up yang tepat.

“Saya masih menghadapi beberapa kesulitan dengan set-up motor. Ada beberapa area yang perlu saya tingkatkan,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut menjadi evaluasi penting bagi Danish dan timnya.

Dalam persaingan Moto3 yang sangat ketat, perbedaan kecil dalam pengereman, akselerasi, traksi, hingga konsistensi ban dapat menentukan posisi seorang pembalap di grup depan.

Karena itu, kemampuan menemukan set-up yang lebih tepat bakal menjadi kunci jika Danish ingin memangkas jarak dengan para rival.

Selisih 7 Poin dengan Veda

Persaingan Danish dan Veda menjadi salah satu duel menarik di antara para pendatang baru Moto3 musim 2026.

Danish saat ini mengantongi 90 poin dan berada di peringkat kedelapan. Veda unggul tipis dengan 97 poin di posisi ketujuh.

Selisih tujuh poin berarti persaingan masih bisa berubah hanya dalam satu seri.

Apalagi, Veda sendiri menjalani akhir pekan yang sulit di Aragon. Pembalap asal Indonesia itu finis di posisi ke-20 dan tidak mendapatkan tambahan angka.

Dengan demikian, Danish sebenarnya memiliki peluang memperkecil jarak secara signifikan. Namun, finis ke-12 membuat tambahan poinnya belum cukup untuk menyalip Veda.

Bidik Kebangkitan di San Marino

Kegagalan menggeser Veda tidak membuat Danish kehilangan optimisme.

Justru, hasil Aragon memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai aspek yang harus dibenahi sebelum menghadapi seri berikutnya.

Target berikutnya adalah Sirkuit San Marino.

Danish berharap evaluasi terhadap set-up motor dapat menghasilkan performa yang lebih konsisten. Jika mampu memperbaiki kecepatan pada fase akhir balapan, peluangnya untuk kembali bersaing di kelompok depan sekaligus mengejar Veda akan semakin terbuka.

Duel dua rookie itu pun belum selesai.

Dengan hanya terpaut tujuh poin, setiap balapan berikutnya berpotensi mengubah posisi mereka di klasemen. Bagi Danish, San Marino menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa masalah di Aragon hanyalah bagian dari proses menuju performa yang lebih matang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Radar Jember
Moto3 2026 Moto3 Aragon AEON Credit hakim danish veda ega pratama