RADAR BANYUWANGI — Panggung Grand Prix kini memiliki warna baru dari Asia Tenggara. Pembalap Thailand Kiatisak Singapong mulai membuka lembaran kariernya di level dunia bersama Honda Team Asia. Menariknya, di lingkungan tim yang sama sudah ada pembalap Indonesia Veda Ega Pratama, yang lebih dahulu mencicipi kerasnya persaingan Moto3 2026.
Debut Kiatisak menjadi perhatian di Thailand. Namun, kehadirannya juga membuat sorotan mengarah kepada Veda yang sudah menjalani musim penuh dan menunjukkan perkembangan positif.
Keduanya sama-sama membawa nama Asia Tenggara, tetapi berada pada tahap perjalanan yang berbeda. Kiatisak baru memulai petualangan Grand Prix, sedangkan Veda sudah mengumpulkan pengalaman dari 12 seri hingga Silverstone.
Kiatisak Buka Jalan Baru Pembalap Thailand
Kesempatan Kiatisak tampil di Grand Prix memiliki arti khusus bagi Thailand. Pembalap muda tersebut kini mendapat panggung untuk merasakan langsung persaingan di level tertinggi balap motor dunia.
Bersama Honda Team Asia, Kiatisak masuk ke lingkungan yang juga menjadi tempat Veda mengembangkan kariernya.
Kehadiran pembalap Thailand itu membuat perhatian penggemar Negeri Gajah Putih ikut tertuju kepada Honda Team Asia. Pada saat bersamaan, sosok Veda menjadi salah satu pembalap yang menarik diamati karena memiliki pengalaman lebih panjang di Moto3.
Bagi Kiatisak, fase awal ini bukan semata soal hasil. Setiap sesi latihan, kualifikasi, dan balapan menjadi bagian dari proses memahami karakter kompetisi Grand Prix.
Veda Sudah Punya 97 Poin
Veda berada pada posisi yang berbeda. Pembalap Indonesia itu sudah menjalani musim penuh pertamanya di Kejuaraan Dunia Moto3 2026.
Hingga seri ke-12 di Silverstone, Veda telah mengoleksi 97 poin dan menempati posisi keenam klasemen sementara.
Ia juga sudah merasakan podium dalam musim penuh pertamanya. Catatan tersebut menjadi bukti bahwa Veda tidak hanya mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan, tetapi juga dapat bersaing di barisan depan.
Salah satu penampilan menarik Veda terjadi saat Grand Prix Thailand. Ia berhasil menembus Q2 dan mengamankan posisi start kelima sebelum mengakhiri balapan di posisi kelima.
Hasil tersebut menjadi salah satu modal penting bagi Veda untuk menghadapi seri-seri berikutnya.
Pengalaman Veda Bisa Jadi Bekal Kiatisak
Berada dalam satu ekosistem dengan Veda bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi Kiatisak.
Moto3 bukan hanya soal kecepatan motor. Pembalap dituntut cepat beradaptasi dengan karakter motor, memahami kondisi ban, membaca pergerakan rombongan, serta menentukan momentum yang tepat untuk melakukan serangan.
Veda sudah melewati proses tersebut sepanjang musim 2026.
Pengalaman itu dapat menjadi referensi bagi Kiatisak yang baru memulai perjalanan di Grand Prix. Namun, keduanya tetap memiliki jalur perkembangan masing-masing.
Veda tidak bisa langsung dijadikan tolok ukur mutlak bagi Kiatisak. Veda sudah memiliki satu musim penuh, sementara Kiatisak masih membangun pengalaman dari awal.
Karena itu, tantangan utama Kiatisak adalah mengumpulkan jam terbang dan beradaptasi dengan tuntutan kompetisi.
Bukan Sekadar Rival Indonesia vs Thailand
Kehadiran Veda dan Kiatisak menarik karena memperlihatkan semakin terbukanya jalur pembalap Asia Tenggara menuju panggung Grand Prix.
Indonesia memiliki Veda. Thailand kini memiliki Kiatisak. Keduanya menjadi bagian dari generasi muda yang berusaha menembus persaingan yang selama ini banyak diwarnai pembalap Eropa dan Asia Timur.
Honda Team Asia menjadi salah satu ekosistem penting dalam proses tersebut. Tim ini memberi pembalap Asia kesempatan untuk berkembang melalui kompetisi internasional.
Sebelumnya, sejumlah pembalap Asia seperti Ai Ogura dan Somkiat Chantra juga melewati jalur pengembangan sebelum melangkah ke level yang lebih tinggi.
Karena itu, kisah Veda dan Kiatisak sebaiknya tidak semata-mata dibingkai sebagai persaingan Indonesia versus Thailand.
Lebih jauh, keduanya merupakan representasi perkembangan motorsport ASEAN.
Veda Kejar Konsistensi, Kiatisak Kumpulkan Pengalaman
Bagi Veda, pekerjaan rumah berikutnya adalah menjaga konsistensi agar tetap bertahan di papan atas klasemen Moto3 hingga akhir musim 2026.
Dengan 97 poin hingga Silverstone dan posisi keenam klasemen sementara, peluang untuk terus bersaing terbuka. Namun, persaingan Moto3 sangat rapat sehingga setiap poin menjadi berharga.
Sementara bagi Kiatisak, prioritasnya berbeda. Adaptasi menjadi kata kunci.
Semakin banyak pengalaman yang dikumpulkan, semakin besar pula peluangnya memahami ritme balapan Grand Prix dan berkembang menjadi pembalap yang lebih matang.
Dua pembalap, dua tahap perjalanan, tetapi satu panggung.
Veda Ega Pratama dan Kiatisak Singapong kini sama-sama membawa harapan Asia Tenggara di Moto3. Jika Veda mampu mempertahankan performanya dan Kiatisak terus berkembang, keduanya berpotensi menjadi bagian penting dari generasi baru pembalap ASEAN di panggung balap motor dunia. (*)
Editor : Ali Sodiqin