Campinoti Sebut MotoGP Tak Realistis Ikuti Model Bisnis F1, Pendapatan Harus Digenjot Lewat Inovasi

Khanza Tania Amelia Setiawan • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 16:57 WIB
Paolo Campinoti menilai MotoGP tak perlu meniru strategi premium Formula 1 sepenuhnya. (Pramac)
Paolo Campinoti menilai MotoGP tak perlu meniru strategi premium Formula 1 sepenuhnya. (Pramac)

RADAR BANYUWANGI – Pesatnya perkembangan nilai komersial Formula 1 (F1) dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan di lingkungan MotoGP. Namun, pemilik Tim Pramac Racing, Paolo Campinoti, menilai tidak semua strategi bisnis F1 layak diterapkan sepenuhnya pada ajang balap motor paling bergengsi tersebut.

Campinoti menilai Formula 1 kini telah bergeser ke segmen pasar kelas atas dengan menawarkan pengalaman eksklusif bagi penonton melalui tiket VIP bernilai sangat tinggi. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak realistis jika diterapkan secara penuh di MotoGP.

Pernyataan tersebut dikutip Crash.net dalam laporan analisis balap yang dipublikasikan pada Senin (3/8/2026). Campinoti menyampaikannya saat menjadi narasumber dalam siniar Mig Babol milik mantan pebalap MotoGP, Andrea Migno.

"Formula 1 hari ini memiliki segmen penonton yang berbeda dengan kita. F1 telah bergeser sepenuhnya ke segmen kelas atas (high-end), memberi kita banyak ruang untuk menempatkan posisi pasar yang lebih baik," ujar Campinoti.

Meski demikian, ia menegaskan MotoGP tetap dapat mengambil sebagian inspirasi dari strategi komersial F1 tanpa harus mengikuti model bisnis tersebut secara ekstrem.

Menurutnya, harga tiket eksklusif seperti Paddock Club F1 yang nilainya dapat melampaui 15 ribu euro merupakan konsep yang tidak masuk akal untuk ditiru sepenuhnya oleh MotoGP. Namun, kejuaraan balap motor itu tetap perlu meningkatkan nilai jual dan pengalaman yang ditawarkan kepada penggemar.

"Tidak tepat dan tidak masuk akal bagi MotoGP untuk mencapai tingkatan ekstrem seperti itu, tetapi kita tentu bisa mengambil langkah ke arah sana," kata Campinoti.

Ia menilai tantangan utama MotoGP bukan lagi sekadar menekan biaya operasional tim, melainkan menciptakan sumber pendapatan baru melalui peningkatan daya tarik kejuaraan.

Campinoti mengingatkan bahwa penghematan biaya dalam jumlah kecil tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan industri balap. Sebaliknya, peningkatan pemasukan melalui strategi pemasaran dan pengembangan produk dinilai menjadi kunci keberlanjutan kompetisi.

"Untuk meningkatkan pendapatan, kita perlu melakukan hal-hal yang sedikit lebih sulit, katakanlah lebih seksi. Jika kita terus berfokus menghemat €100 untuk biaya transportasi, perubahan nyata datang dari peningkatan pendapatan, bukan dari memotong biaya," tegasnya.

Masuknya Liberty Media sebagai pemilik baru MotoGP juga dinilai membuka peluang besar untuk memperkuat nilai komersial kejuaraan. Perusahaan yang sebelumnya sukses mengangkat popularitas Formula 1 itu diyakini memiliki pengalaman dalam mengembangkan industri olahraga melalui pendekatan bisnis, pemasaran, dan hiburan.

Campinoti melihat perbedaan karakter penonton antara Formula 1 dan MotoGP justru menjadi peluang bagi MotoGP untuk memperkuat identitasnya sendiri. Dengan tetap mempertahankan basis penggemar fanatik, MotoGP dinilai dapat meningkatkan nilai komersial melalui inovasi yang lebih relevan dengan karakter olahraga balap motor.

Apabila strategi tersebut berjalan optimal, peningkatan pendapatan tidak hanya berdampak pada penyelenggara kejuaraan, tetapi juga memberikan manfaat bagi tim-tim independen yang selama ini menghadapi tantangan finansial dalam menjaga daya saing di lintasan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Crash.net
motogp