RADAR BANYUWANGI – Sirkuit Internasional Mandalika bakal menjadi panggung besar bagi dua pembalap Indonesia pada MotoGP Mandalika 2026. Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji akan tampil di hadapan publik sendiri pada 9-11 Oktober mendatang.
Keduanya tak sekadar membawa misi meramaikan balapan. Ada target lebih besar yang ingin dikejar: podium.
Veda akan turun di kelas Moto3, sementara Mario Aji berlaga di Moto2. Kesempatan tampil di kandang sendiri menjadi momentum penting bagi keduanya untuk mencatatkan hasil terbaik di Sirkuit Internasional Mandalika.
Peluang tersebut dinilai terbuka.
Namun, podium di lintasan sepanjang 4,31 kilometer itu tentu bukan perkara mudah.
Pengamat otomotif sekaligus mantan Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), Priandhi Satria, menyebut ada sejumlah faktor yang dapat menentukan peluang Veda dan Mario naik podium.
Salah satu faktor yang menurutnya bisa menjadi pembeda adalah cuaca panas khas Mandalika.
“Jadi selain faktor teknis, kondisi cuaca di kawasan The Mandalika bisa menjadi salah satu penentu hasil balapan. Dengan suhu lintasan yang bisa mencapai hingga 55 derajat Celsius, hal itu berpotensi menjadi keuntungan tersendiri bagi Mario maupun Veda yang sejak kecil sudah terbiasa berlatih di bawah iklim tropis Indonesia,” ujar Priandhi dalam keterangannya, Rabu (29/7/2026).
Panas Mandalika Bisa Jadi Senjata
Balapan MotoGP bukan hanya soal kecepatan.
Ketahanan fisik pembalap, kemampuan menjaga konsentrasi, hingga strategi mengelola ban menjadi bagian penting dalam menentukan hasil akhir.
Karakter cuaca panas di Mandalika dapat menjadi tantangan bagi seluruh pembalap. Namun, bagi Veda dan Mario, kondisi tersebut justru berpotensi menjadi keuntungan.
Keduanya tumbuh dan berlatih di lingkungan beriklim tropis.
Sementara itu, pembalap yang terbiasa dengan iklim sedang dapat membutuhkan adaptasi lebih panjang ketika harus menghadapi suhu panas dan kelembapan tinggi.
Kondisi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan Veda dan Mario untuk memberikan tekanan lebih besar kepada para rival.
Namun, keuntungan tersebut tidak akan berarti tanpa persiapan matang.
Karena itu, latihan khusus yang dilakukan kedua pembalap di Mandalika pada 21-22 Juli 2026 dinilai menjadi modal penting.
Veda dan Mario Sudah Lebih Dulu "Membaca" Mandalika
Ada satu keuntungan yang tidak bisa dibeli oleh pembalap lain: waktu.
Veda dan Mario telah lebih dahulu kembali mencicipi karakter Sirkuit Internasional Mandalika sebelum mayoritas rival internasional mereka datang untuk menjalani rangkaian resmi MotoGP Mandalika.
Menurut Priandhi, latihan tersebut bukan sekadar mengejar catatan waktu.
Lebih dari itu, sesi latihan menjadi kesempatan untuk membangun kembali koneksi dengan lintasan.
Mulai dari memahami racing line, kondisi aspal, karakter tikungan, hingga arah dan kekuatan angin khas sirkuit yang berada di kawasan pesisir.
“Keuntungan itu diyakini akan sangat berarti nantinya. Di saat sebagian besar pembalap luar negeri masih beradaptasi dengan kondisi lintasan, Veda dan Mario sudah lebih dahulu mengembalikan memori balap mereka di Sirkuit Mandalika,” ujar Priandhi.
Bagi pembalap, memahami lintasan bukan sekadar menghafal jumlah tikungan.
Setiap perubahan karakter aspal, titik pengereman, racing line, hingga hembusan angin dapat memengaruhi keputusan dalam sepersekian detik.
Semakin cepat pembalap menemukan feeling terhadap lintasan, semakin besar peluang mereka untuk fokus pada pertarungan posisi.
Mario Aji Punya Pengalaman Lebih Panjang
Bagi Mario Suryo Aji, Mandalika bukan sirkuit yang asing.
Pembalap asal Magetan tersebut telah beberapa kali berlomba dan menjalani sesi latihan di lintasan kebanggaan Indonesia itu.
Pengalaman tersebut membuat Mario memiliki modal pengetahuan mengenai karakter sirkuit.
Setiap tikungan, titik pengereman, dan perubahan arah lintasan bukan lagi sesuatu yang sepenuhnya baru.
Pengalaman tersebut menjadi aset penting ketika Mario harus menghadapi persaingan ketat di kelas Moto2.
Sementara itu, Veda Ega Pratama akan menghadapi tantangan di kelas Moto3.
Keduanya memiliki target masing-masing, tetapi membawa satu harapan yang sama: mengibarkan Merah Putih di podium MotoGP Mandalika.
90 Putaran Veda, 69 Lap Mario
Latihan khusus pada 21-22 Juli lalu juga memberikan gambaran mengenai keseriusan persiapan kedua pembalap.
Pada hari kedua latihan, Veda tercatat menyelesaikan sekitar 90 putaran.
Sementara Mario Aji menuntaskan 69 putaran.
Volume latihan tersebut tidak hanya bertujuan mengasah kecepatan.
Menurut Priandhi, banyaknya putaran dapat membantu kedua pembalap mempersiapkan kondisi fisik untuk menghadapi tekanan balapan sebenarnya.
Terutama pada lap-lap akhir.
Di fase tersebut, daya tahan fisik dan konsentrasi dapat menjadi faktor pembeda antara pembalap yang mampu mempertahankan kecepatannya dengan mereka yang mulai kehilangan performa.
Mandalika dikenal sebagai lintasan yang menuntut kombinasi antara kecepatan, ketahanan fisik, dan konsistensi.
Karena itu, simulasi panjang dalam sesi latihan menjadi bagian penting dari persiapan.
Dukungan Publik Bisa Jadi Pedang Bermata Dua
Tampil di hadapan puluhan ribu pendukung sendiri tentu memberikan energi tambahan.
Sorakan penonton Indonesia dapat menjadi suntikan moral bagi Veda dan Mario.
Namun, ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan.
Harapan besar publik juga dapat berubah menjadi tekanan psikologis.
Priandhi mengingatkan agar kedua pembalap tidak menjadikan target podium sebagai beban berlebihan.
Keduanya perlu tetap tenang, menikmati proses balapan, dan menjaga fokus pada setiap sesi.
Sebab, semakin besar keinginan untuk meraih hasil tertentu, semakin besar pula potensi pembalap kehilangan konsentrasi jika balapan tidak berjalan sesuai rencana.
Podium memang menjadi target.
Namun, proses menuju podium harus dijalani satu per satu.
Mandalika Menanti Sejarah Baru
MotoGP Mandalika 2026 akan menjadi ujian besar bagi Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji.
Pada 9-11 Oktober nanti, keduanya tidak hanya menghadapi pembalap-pembalap terbaik dunia di kelas masing-masing.
Mereka juga menghadapi panas lintasan, tekanan tampil di rumah sendiri, tuntutan fisik, dan ekspektasi publik Indonesia.
Di sisi lain, mereka memiliki sejumlah modal.
Mereka mengenal iklim tropis.
Mereka sudah lebih dahulu berlatih di Mandalika.
Mereka memiliki pengalaman memahami karakter lintasan.
Dan mereka akan mendapatkan dukungan langsung dari tribun penonton Indonesia.
Kini, semua modal tersebut harus diterjemahkan menjadi performa di lintasan.
Jika mampu mengelola tekanan dan memanfaatkan setiap keuntungan yang dimiliki, peluang Veda dan Mario untuk memburu podium di Mandalika terbuka.
Pertanyaannya tinggal satu: mampukah dua pembalap Indonesia mengubah keuntungan sebagai tuan rumah menjadi sejarah podium di depan publik sendiri?
Jawabannya akan ditentukan dalam tiga hari balapan di Mandalika, 9-11 Oktober 2026. (*)
Editor : Ali Sodiqin