Kiandra Ramadhipa Beberkan Tantangan Terberat di Dua Ajang Balap Dunia 2026

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 09:32 WIB
Kiandra Ramadhipa menjadi juara ETC Catalunya 2025, padahal start dari posisi ke-24 alias terakhir dalam balapan. (Instagram: @JuniorTalentTeam)
Kiandra Ramadhipa menjadi juara ETC Catalunya 2025, padahal start dari posisi ke-24 alias terakhir dalam balapan. (Instagram: @JuniorTalentTeam)

RADAR BANYUWANGI – Rider muda Indonesia Kiandra Ramadhipa terus mencuri perhatian di pentas balap dunia pada musim 2026. Pebalap asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu sukses bersaing sekaligus meraih kemenangan di dua kejuaraan internasional bergengsi, yakni Red Bull Rookies Cup dan FIM Moto3 Junior World Championship.

Meski diikuti mayoritas pebalap yang sama, Ramadhipa menilai tingkat kesulitan kedua kompetisi tersebut berbeda. Menurutnya, FIM Moto3 Junior World Championship menjadi tantangan yang jauh lebih berat karena sistem kompetisinya sudah menyerupai Moto3 World Championship.

Pengakuan itu disampaikan Ramadhipa saat berbincang dengan pewarta Indonesia pada Senin (15/6/2026). Pebalap berusia 16 tahun tersebut menjelaskan bahwa faktor utama yang membedakan kedua ajang bukan terletak pada kualitas rival, melainkan pada aspek teknis dan kerja sama dengan tim.

"Kalau pertarungannya sebenarnya sama karena pebalapnya sama. Tapi, saya rasa Moto3 Junior ini lebih sulit karena sudah seperti Moto3 World Championship karena sudah tim sendiri-sendiri," ujar Ramadhipa.

Musim ini menjadi pembuktian besar bagi pebalap binaan Astra Honda Racing School tersebut. Di Red Bull Rookies Cup, Ramadhipa sukses meraih kemenangan pada race kedua di Sirkuit Jerez. Sementara di FIM Moto3 Junior World Championship, ia juga berdiri di podium tertinggi setelah memenangkan seri balapan di Estoril, Portugal.

Prestasi itu menegaskan bahwa talenta Indonesia mampu bersaing dengan pebalap muda terbaik dunia dalam dua kompetisi yang selama ini dikenal sebagai jalur menuju Kejuaraan Dunia MotoGP.

Moto3 Junior Lebih Kompleks

Ramadhipa mengungkapkan bahwa di Moto3 Junior setiap pebalap harus bekerja lebih intens dengan tim masing-masing, mulai dari pengembangan hingga penyetelan motor. Kondisi tersebut membuat setiap detail menjadi penentu hasil balapan.

"Kami melakukan set-up motor dari diri kami sendiri, kami berdiskusi dengan tim. Persaingannya lebih sengit karena semua rider kompetitif, cukup banyak dan juga strong semuanya," katanya.

Berbeda dengan Red Bull Rookies Cup yang menggunakan motor dengan spesifikasi seragam, Moto3 Junior memberikan ruang lebih besar bagi tim untuk mengoptimalkan performa motor. Hal itu membuat kemampuan teknis pebalap dalam memberikan masukan kepada kru menjadi sangat penting.

Rival Sudah Saling Mengenal

Meski tingkat kesulitannya berbeda, Ramadhipa mengakui para pebalap yang menjadi lawannya di kedua ajang hampir seluruhnya merupakan nama-nama yang sama. Karena sering bertemu di lintasan, mereka sudah memahami karakter balap satu sama lain.

"Karena pebalapnya juga mirip dengan Rookie Cup. Kami bersaing di trek yang sama, ya kurang lebih sudah mengetahui karakter pebalap yang lain," ujarnya.

Situasi tersebut membuat setiap balapan berlangsung ketat karena tidak ada pebalap yang benar-benar asing. Kesalahan sekecil apa pun bisa dimanfaatkan lawan untuk merebut posisi.

Modal Besar Menuju MotoGP

Kemenangan di Jerez dan Estoril menjadi modal penting bagi Kiandra Ramadhipa dalam meniti karier menuju level yang lebih tinggi. Pengalaman menghadapi dua kejuaraan dengan karakter berbeda diyakini akan mempercepat proses adaptasinya menuju ajang Moto3 World Championship.

Di usia yang masih 16 tahun, konsistensi Ramadhipa menghadapi tekanan persaingan internasional menjadi sinyal positif bagi masa depan balap motor Indonesia di panggung dunia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Moto3 Junior Rider Indonesia Balap Dunia kiandra ramadhipa red bull