RADAR BANYUWANGI – Jalan menuju panggung balap motor dunia ternyata tidak selalu dimulai dari sirkuit megah. Bagi dua talenta muda asal Yogyakarta, Veda Ega Pratama dan Muhammad Kiandra Ramadhipa, perjalanan itu justru berawal dari lintasan sederhana, ban bekas, dan keterbatasan fasilitas.
Kini, keduanya berhasil menembus persaingan balap motor internasional. Veda Ega Pratama telah naik ke level Kejuaraan Dunia Moto3, sedangkan Muhammad Kiandra Ramadhipa bersaing di level junior melalui Moto3 Junior dan Red Bull Rookies Cup.
Kisah keduanya menjadi gambaran bagaimana talenta pembalap Indonesia mampu tumbuh dari daerah yang bahkan belum memiliki sirkuit permanen.
Yogyakarta menjadi tanah kelahiran dua pembalap tersebut. Namun, provinsi yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan budaya itu belum memiliki fasilitas lintasan balap permanen yang bisa digunakan secara rutin untuk mengasah kemampuan pembalap muda.
Keterbatasan tersebut tidak membuat Veda dan Ramadhipa berhenti mengejar mimpi.
Mereka justru mencari cara lain agar tetap bisa berlatih.
Mandala Krida Disulap Jadi Sirkuit Dadakan
Salah satu tempat yang digunakan untuk berlatih adalah halaman Stadion Mandala Krida di Kota Yogyakarta.
Dengan memanfaatkan ban-ban bekas sebagai pembatas lintasan, area tersebut disulap menjadi sirkuit latihan sederhana.
Di tempat itulah para pembalap muda bisa melatih kemampuan dasar, mulai dari racing line, pengereman, akselerasi, hingga mengasah feeling terhadap karakter lintasan.
Fasilitas tersebut memang jauh dari standar sirkuit permanen. Namun, bagi pembalap yang ingin berkembang, kesempatan untuk terus berlatih menjadi hal yang jauh lebih penting.
Veda bahkan memiliki cerita yang lebih sederhana.
Sebelum menapaki Kejuaraan Dunia Moto3, ia mengawali latihan motor di sebuah area Pasar Hewan Siyono Harjo, Gunungkidul, Yogyakarta.
Dari tempat sederhana tersebut, Veda perlahan membangun kemampuan hingga akhirnya mampu bersaing di panggung balap motor dunia.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu menjadi penghalang mutlak bagi seorang pembalap untuk berkembang.
Ramadhipa Harus Berburu Sirkuit
Kondisi serupa juga dirasakan Ramadhipa.
Untuk mendapatkan pengalaman berlatih di lintasan permanen, pembalap muda tersebut harus melakukan perjalanan ke Boyolali, Jawa Tengah.
Di wilayah tersebut terdapat sirkuit gokar yang berada di tepi jalan raya Boyolali-Solo. Sirkuit itu menjadi salah satu pilihan bagi Ramadhipa untuk mendapatkan sensasi berlatih di lintasan yang lebih representatif.
Menurut Ramadhipa, berlatih di Yogyakarta sebenarnya tetap memberikan manfaat. Namun, ketiadaan sirkuit permanen membuat pembalap harus mencari alternatif lain.
"Saya kalau latihan di Jogja bagus, tapi kita gak punya sirkuit permanen, jadi kita ke Boyolali atau latihan terdekat di Stadion Mandala atau ke tempat Veda di Gunungkidul," kata Ramadhipa kepada awak media.
Pernyataan tersebut menggambarkan realitas yang harus dihadapi pembalap muda di Yogyakarta.
Potensi ada. Talenta juga tumbuh. Namun, fasilitas untuk mengembangkan kemampuan masih terbatas.
Dari Fasilitas Terbatas ke Panggung Dunia
Kisah Veda dan Ramadhipa menjadi menarik karena keduanya berasal dari daerah yang sama dan menghadapi persoalan serupa.
Tidak adanya sirkuit permanen membuat proses pembinaan harus dilakukan dengan cara kreatif. Halaman stadion, area pasar hewan, hingga perjalanan lintas daerah menjadi bagian dari proses panjang menuju kompetisi internasional.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkah mereka.
Veda kini telah berada di Moto3, salah satu jenjang penting menuju kelas utama Kejuaraan Dunia MotoGP. Sementara Ramadhipa terus menempa diri melalui kompetisi junior seperti Moto3 Junior dan Red Bull Rookies Cup.
Keduanya menjadi contoh bahwa perjalanan menuju level dunia membutuhkan lebih dari sekadar bakat. Ada konsistensi latihan, keberanian berkompetisi, dukungan keluarga, serta kemauan untuk mencari solusi ketika fasilitas yang tersedia belum memadai.
Bagi pembalap muda lainnya di Yogyakarta dan Indonesia, kisah mereka juga menyimpan pesan penting: mimpi besar tidak selalu harus dimulai dari tempat yang sempurna.
Veda memulainya dari Gunungkidul. Ramadhipa berlatih di sela keterbatasan fasilitas Yogyakarta dan harus pergi ke Boyolali untuk mendapatkan pengalaman lintasan permanen.
Kini, keduanya berada di panggung yang jauh lebih besar.
Dari ban bekas di halaman stadion hingga lintasan kejuaraan dunia, perjalanan Veda dan Ramadhipa menjadi pengingat bahwa talenta Indonesia sebenarnya tidak pernah kekurangan. Tantangan berikutnya adalah memastikan talenta-talenta tersebut memiliki fasilitas yang layak agar tidak harus selalu berjuang melawan keterbatasan sebelum akhirnya bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya. (*)
Editor : Ali Sodiqin