RADARBANYUWANGI.ID - Tantangan fisik yang dihadapi pembalap MotoGP ternyata berbeda jauh dengan pembalap Formula 1 (F1). Jika pembalap F1 dituntut memiliki kekuatan otot leher untuk menahan gaya gravitasi (G-Force) saat melaju di dalam kokpit, para rider MotoGP justru lebih rentan mengalami cedera pada lengan bawah yang dikenal sebagai arm pump atau sindrom kompartemen.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Podcast Satu Trek yang tayang di kanal YouTube Radar Banyuwangi. Dalam diskusi itu dijelaskan bahwa arm pump merupakan salah satu risiko fisik yang hampir tidak dapat dihindari oleh pembalap di kelas premier.
Analis otomotif sekaligus pengamat MotoGP Podcast Satu Trek, Bang Andre yang akrab disapa Bang Aco, menjelaskan bahwa arm pump bukan cedera yang disebabkan insiden kecelakaan ataupun terjatuh dari motor. Gangguan tersebut muncul akibat tekanan fisik yang terus-menerus diterima lengan saat pembalap mengendalikan motor berkecepatan tinggi.
Penjelasan tersebut disampaikan Bang Aco dalam episode bertajuk "Belum Bisa Fit 100 Persen, Bisakah Raja MotoGP Sachsenring Jerman Kembali Podium?" yang disiarkan pada Jumat, 10 Juli 2026.
"Yang paling sering di MotoGP di rider ya, di rider itu di tangan, arm pump dia jadi sebutannya. Jadi itu jatuh enggak jatuh itu biasanya beberapa rider itu melakukan operasi. Jadi di situ ada pembengkakan-pembengkakan karena nahan getar kan, nahan getar si motor itu tadi dari kecepatan hampir rata-rata 300 km/h. Untuk menahan getaran itu biasanya tangan itu bengkak," ujar Bang Aco.
Menurutnya, getaran yang terus diterima saat motor melaju dengan kecepatan mendekati 300 kilometer per jam memaksa otot lengan bekerja sangat keras. Tekanan tersebut memicu pembengkakan di dalam kompartemen otot sehingga aliran darah dan fungsi otot terganggu.
Apabila kondisi itu tidak segera ditangani, pembengkakan dapat berkembang menjadi lebih serius. Bang Aco menjelaskan, cairan yang terperangkap di dalam kompartemen otot dapat menimbulkan kram hebat hingga penumpukan cairan yang menyerupai nanah.
Meski arm pump dapat ditangani melalui terapi maupun tindakan operasi dengan masa pemulihan relatif singkat, gangguan tersebut tetap menjadi ancaman yang kerap berulang sepanjang karier seorang pembalap.
"Cuman itu pasti penyakit itu pasti akan datang," pungkas Bang Aco saat menutup pembahasan mengenai tantangan fisik yang dihadapi para pembalap MotoGP.
Editor : Lugas Rumpakaadi