RADARBANYUWANGI.ID – Persaingan Moto3 2026 tak lagi hanya soal duel David Almansa versus Maximo Quiles. Seri Belanda di Sirkuit Assen justru menghadirkan nama baru yang mencuri perhatian: Veda Ega Pratama. Pembalap muda Indonesia itu sempat memimpin balapan dan membuat peta persaingan gelar dunia mulai berubah.
Performa mengejutkan Veda muncul di tengah kegelisahan kubu IntactGP. Manajer tim Peter Ottl secara terbuka mengakui peluang Almansa untuk merebut takhta juara dunia semakin berat akibat dominasi luar biasa yang diperlihatkan Maximo Quiles sepanjang musim ini.
Namun, Assen menunjukkan bahwa ancaman bagi para pembalap papan atas tidak hanya datang dari Quiles. Veda Ega mulai memberi sinyal bahwa dirinya mampu bersaing di barisan terdepan.
Veda Ega Bikin Kejutan di Assen
Balapan di Sirkuit Assen berlangsung dramatis sejak awal. David Almansa yang start dari posisi keenam langsung merangsek ke rombongan depan dan terlibat duel sengit dengan Maximo Quiles serta Brian Uriarte.
Saat ritme Uriarte menurun, Veda Ega Pratama memanfaatkan celah dengan sempurna. Rookie asal Gunungkidul, Yogyakarta, itu melesat ke posisi tiga besar dan bahkan sempat memimpin jalannya balapan.
Aksi Veda menjadi sorotan karena ia mampu menekan dua pembalap Spanyol yang selama ini mendominasi Moto3 2026.
Untuk beberapa lap, Veda terlihat benar-benar berada dalam perebutan kemenangan.
Almansa dan Quiles Masih Sulit Dikejar
Memasuki pertengahan lomba, kecepatan Almansa dan Quiles meningkat drastis. Veda mulai kesulitan mengimbangi ritme keduanya hingga akhirnya mengalami insiden jatuh dan gagal finis.
Duel perebutan kemenangan pun kembali menjadi milik Almansa dan Quiles. Pada lap-lap terakhir, pembalap Aspar Team itu menunjukkan kelasnya dan berhasil merebut posisi terdepan.
Quiles menyentuh garis finis pertama dan mengamankan kemenangan keenamnya musim ini, sementara Almansa kembali harus puas berada di belakang rival utamanya.
Bos IntactGP Mulai Realistis
Hasil tersebut membuat Peter Ottl mulai bersikap realistis. Ia menilai konsistensi Maximo Quiles menjadi pembeda utama dalam perebutan gelar dunia.
Jika tren ini berlanjut, Almansa akan membutuhkan performa nyaris sempurna di seri-seri tersisa untuk tetap menjaga asa juara.
Namun di sisi lain, kemunculan Veda Ega memberi warna baru bagi kompetisi.
Veda Ega Masuk Peta Persaingan
Meski belum meraih podium, penampilan Veda di Assen dianggap sebagai sinyal penting bahwa pembalap Indonesia itu mulai mampu bersaing dengan para kandidat juara dunia.
Keberaniannya memimpin balapan dan bertarung di kelompok terdepan menunjukkan perkembangan signifikan dibanding awal musim.
Bagi penggemar Moto3 di Indonesia, Assen mungkin belum berakhir dengan hasil ideal. Tetapi di balik kegagalan finis, Veda Ega Pratama berhasil mengirim pesan kuat: ia bukan lagi sekadar rookie, melainkan pembalap yang mulai diperhitungkan dalam persaingan kelas ringan Grand Prix.
Dengan musim yang masih panjang, pertanyaan besarnya kini bukan hanya apakah Almansa mampu mengejar Quiles, tetapi juga seberapa cepat Veda Ega bisa bergabung dalam perebutan podium secara konsisten. (*)
Editor : Ali Sodiqin