RADARBANYUWANGI.ID - Nama Veda Ega Pratama kembali mengguncang paddock Moto3 2026. Kali ini sorotan datang langsung dari manajer Honda Team Asia sekaligus legenda MotoGP Jepang, Hiroshi Aoyama, yang secara terbuka memberikan pujian tinggi kepada pembalap muda Indonesia tersebut.
Aoyama bahkan menyebut Veda sebagai rookie paling impresif musim ini setelah penampilan heroiknya pada Moto3 Spanish GP 2026 di Sirkuit Jerez, Spanyol. Start dari posisi ke-17, Veda sukses melesat hingga finis di posisi keenam dalam salah satu comeback terbaik musim ini.
Pernyataan itu langsung menjadi perhatian besar di lingkungan Moto3. Pasalnya, Hiroshi Aoyama dikenal sebagai sosok yang sangat selektif dalam memberikan pujian kepada pembalap muda, terutama debutan.
Mantan juara dunia GP250cc 2009 tersebut bahkan membeberkan empat faktor utama yang membuat Veda dianggap sebagai pembalap berbeda dibanding rookie Moto3 lainnya musim ini.
Veda Ega Pratama Jadi Rookie Paling Konsisten
Musim debut Veda di Moto3 2026 berjalan jauh di luar ekspektasi banyak pihak. Setelah empat ronde pertama, rider asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu sukses mengoleksi 37 poin dan menempati posisi keenam klasemen sementara dunia.
Tak hanya bersaing di papan atas klasemen umum, Veda juga memimpin perebutan gelar Rookie of The Year 2026. Ia unggul dari beberapa nama debutan lain seperti Brian Uriarte, Rico Salmela hingga rekan setimnya sendiri, Zen Mitani.
Konsistensi itulah yang membuat nama Veda mulai diperhitungkan sebagai salah satu rising star Asia di ajang grand prix dunia.
Yang paling menarik perhatian adalah performa Veda sangat kontras dibanding pembalap Honda Team Asia lainnya. Hingga empat seri berjalan, rekan setimnya belum mampu meraih satu poin pun meski menggunakan motor yang sama, yakni Honda NSF250RW.
Situasi tersebut memunculkan anggapan bahwa pencapaian Veda bukan semata faktor motor, melainkan karena kualitas individu yang memang berada di level berbeda.
Hiroshi Aoyama Bongkar Empat Kelebihan Veda
Dalam evaluasi internal tim, Hiroshi Aoyama mengungkap empat aspek utama yang membuat Veda tampil sangat spesial di Moto3 2026.
1. Manajemen Balapan Sangat Matang
Kelebihan pertama yang paling dipuji Aoyama adalah kemampuan race management atau manajemen balapan.
Meski masih berstatus rookie, Veda dinilai mampu membaca ritme lomba dengan sangat baik. Ia tahu kapan harus menjaga ban, kapan bertahan, dan kapan mulai menyerang rival.
“Veda menunjukkan manajemen balapan yang kuat dan kecepatan yang baik,” ujar Aoyama.
Hal itu terlihat jelas saat Moto3 Jerez 2026. Memulai balapan dari posisi ke-17, Veda tidak terburu-buru memaksakan diri pada lap awal. Ia memilih menjaga ritme sebelum mulai agresif pada pertengahan hingga akhir balapan.
Strategi tersebut terbukti efektif. Satu per satu rival berhasil dilewati hingga akhirnya Veda finis di posisi keenam.
2. Pace Stabil Meski Start dari Belakang
Aoyama juga menyoroti kemampuan Veda menjaga pace secara konsisten sepanjang lomba.
Pada Moto3, menjaga ritme lap sangat penting karena balapan sering berlangsung dalam grup besar atau pack racing. Sedikit kehilangan momentum bisa membuat pembalap tercecer jauh.
Namun Veda justru mampu mempertahankan kecepatan stabil di sektor teknikal Jerez tanpa kehilangan ritme. Kemampuan ini dianggap sangat langka untuk ukuran rookie.
Pace stabil itulah yang membuat Veda bisa terus mendekati grup depan meski memulai balapan dari posisi belakang.
3. Race Craft dan Insting Overtaking
Kelebihan ketiga yang disebut Aoyama adalah race craft atau kecerdasan bertarung di lintasan.
Veda dinilai sangat piawai membaca situasi balapan, memanfaatkan slipstream, hingga menentukan momentum overtaking secara presisi.
Sepanjang race di Jerez, Veda disebut melakukan lebih dari 12 overtake bersih terhadap rival-rivalnya tanpa kontak berbahaya.
Kemampuan late braking yang agresif namun tetap terkontrol membuatnya mulai disegani di paddock Moto3.
Gaya balap seperti ini biasanya dimiliki pembalap yang sudah matang pengalaman. Karena itu banyak pengamat menganggap Veda berkembang jauh lebih cepat dibanding rookie lain seusianya.
4. Mental Baja Setelah Gagal di Austin
Faktor terakhir yang paling mencuri perhatian Aoyama adalah mentalitas Veda.
Sebelum tampil impresif di Jerez, Veda sempat mengalami crash pada seri Austin, Amerika Serikat. Namun kegagalan tersebut tidak membuat mentalnya turun.
Sebaliknya, Veda langsung bangkit dan tampil agresif pada seri berikutnya.
Mentalitas seperti itu dinilai sangat penting untuk perjalanan karier pembalap muda di grand prix. Banyak rider rookie kehilangan kepercayaan diri setelah crash, tetapi Veda justru mampu menjadikannya motivasi.
Skill Individu Jadi Pembeda
Penampilan Veda juga memancing reaksi positif dari banyak pengamat MotoGP serta komunitas balap internasional di media sosial.
Banyak yang menilai performa luar biasa pembalap Indonesia itu murni berasal dari skill individu, bukan faktor motor.
Musim ini motor KTM masih dianggap mendominasi Moto3 2026, terutama lewat tim CFMoto Aspar yang tampil sangat kompetitif dan memimpin klasemen konstruktor.
Di sisi lain, Honda dinilai belum memiliki paket motor sekuat KTM dalam hal akselerasi maupun top speed.
Namun di tengah situasi tersebut, Veda tetap mampu membawa Honda Team Asia bersaing di papan tengah atas klasemen tim.
Sebagian besar poin Honda Team Asia musim ini bahkan berasal dari Veda seorang. Fakta itu semakin mempertegas kualitas rider muda Indonesia tersebut.
Pengamat menilai kemampuan adaptasi cepat dan gaya balap agresif menjadi senjata utama Veda untuk menutupi kekurangan motor Honda NSF250RW.
Proyeksi Karier Menuju MotoGP
Melihat performa impresifnya sejauh ini, banyak pihak mulai memprediksi Veda memiliki peluang besar menembus MotoGP dalam beberapa tahun ke depan.
Musim 2026 menjadi tahap penting pembentukan karakter dan pengalaman di kelas Moto3. Target realistis Veda saat ini adalah mempertahankan posisi di papan atas klasemen sekaligus merebut gelar Rookie of The Year.
Jika perkembangan berjalan sesuai rencana, Veda diproyeksikan tetap berada di Moto3 hingga musim 2027 sebelum naik ke Moto2 pada 2028 atau 2029.
Sementara debut di MotoGP diperkirakan bisa terjadi pada 2030 saat usianya memasuki 21 tahun.
Kini, nama Veda Ega Pratama bukan lagi sekadar pembalap muda Indonesia yang mencoba peruntungan di Eropa. Ia mulai dipandang sebagai salah satu talenta terbesar Asia yang berpotensi mencetak sejarah baru di ajang balap motor dunia. (*)
Editor : Ali Sodiqin