RADARBANYUWANGI.ID – Dominasi Maximo Quiles di Moto3 World Championship 2026 mulai terlihat mengkhawatirkan bagi para rivalnya. Baru lima seri berjalan, pembalap muda Spanyol berusia 18 tahun itu sudah mengoleksi 115 poin dan melesat jauh di puncak klasemen sementara Moto3 2026.
Gap poin yang tercipta bahkan mulai memunculkan pertanyaan besar di paddock Grand Prix: apakah klasemen Moto3 musim ini masih realistis untuk dikejar?
Bersama CFMOTO Gaviota Aspar Team, Quiles tampil seperti mesin poin yang nyaris tanpa celah. Konsistensinya dalam meraih podium membuat para rival kesulitan memangkas jarak, termasuk Adrian Fernandez, Alvaro Carpe, hingga Veda Ega Pratama yang kini mulai menjadi sorotan Asia.
Setelah kemenangan dramatis di GP Prancis Le Mans pekan lalu, posisi Quiles di klasemen semakin kokoh dan mulai memberi sinyal bahwa perebutan gelar Moto3 2026 bisa berubah menjadi dominasi satu arah.
Maximo Quiles Jadi Mesin Poin Moto3 2026
Quiles sebenarnya bukan nama baru di dunia balap junior Eropa. Pembalap kelahiran Valencia tersebut sudah menunjukkan bakat besar sejak tampil di Red Bull Rookies Cup sebelum akhirnya naik ke Moto3 bersama CFMOTO Aspar.
Tim tersebut juga bukan sembarang tim. Aspar sebelumnya sukses mengantar pembalap muda menjadi juara dunia Moto3 dan dikenal sebagai salah satu akademi terbaik pembinaan rider muda di Grand Prix.
Musim 2026 menjadi titik ledakan performa Quiles.
Dari lima seri yang telah berjalan—Thailand, Argentina, Brasil, Amerika Serikat, Spanyol, hingga Prancis—ia hampir selalu finis di podium. Konsistensi inilah yang membuat perolehan poinnya melesat sangat cepat.
Kemenangan di Le Mans menjadi bukti terbaru betapa sulitnya menghentikan laju pembalap Spanyol tersebut.
Dengan total 115 poin, Quiles kini unggul sangat jauh atas rival terdekatnya Adrian Fernandez yang baru mengoleksi 69 poin.
Selisih 46 poin setelah lima seri jelas bukan jarak kecil di kelas Moto3.
Klasemen Moto3 2026: Veda Ega Masuk Lima Besar
Di tengah dominasi Quiles, perhatian publik Indonesia juga tertuju pada performa Veda Ega Pratama yang sukses menembus papan atas klasemen dunia pada musim debutnya.
Berikut klasemen sementara Moto3 2026 usai GP Prancis Le Mans:
| Pos | Pembalap | Tim | Poin |
|---|---|---|---|
| 1 | Maximo Quiles | CFMOTO Gaviota Aspar | 115 |
| 2 | Adrian Fernandez | Leopard Racing Honda | 69 |
| 3 | Alvaro Carpe | Red Bull KTM Ajo | 53 |
| 4 | Valentin Perrone | Red Bull KTM Tech3 | 52 |
| 5 | Veda Ega Pratama | Honda Team Asia | 50 |
| 6 | Marco Morelli | CFMOTO Aspar | 48 |
| 7 | Guido Pini | Leopard Racing | 46 |
| 8 | David Almansa | Intact GP | 41 |
| 9 | Brian Uriarte | Red Bull KTM Ajo | 29 |
| 10 | Joel Esteban | Levelup MTA | 24 |
Meski masih tertinggal cukup jauh dari Quiles, posisi Veda di lima besar klasemen dianggap luar biasa untuk ukuran rookie Moto3.
Terlebih, pembalap Indonesia itu sempat mencetak podium bersejarah di GP Brasil dan tampil impresif saat comeback dari posisi ke-14 ke P4 di Le Mans.
Apakah Quiles Masih Bisa Dikejar?
Secara matematis, peluang para rival masih terbuka.
Moto3 2026 masih menyisakan 14 seri lagi. Dengan sistem 25 poin untuk pemenang balapan, setiap pembalap secara teori masih bisa menambah maksimal 350 poin.
Namun masalah terbesar bukan sekadar matematika.
Masalahnya adalah konsistensi Quiles.
Pembalap CFMOTO Aspar tersebut hampir selalu finis di posisi depan dan jarang kehilangan poin besar. Itu membuat rival-rivalnya harus berharap pada dua hal sekaligus: mereka wajib menang dan Quiles harus gagal finis atau kehilangan banyak poin.
Skenario itu jelas tidak mudah terjadi.
Adrian Fernandez di posisi kedua misalnya, membutuhkan setidaknya dua kemenangan beruntun sambil berharap Quiles finis di luar poin untuk mulai memangkas gap secara signifikan.
Dan melihat performa Quiles sejauh ini, situasi tersebut terasa sangat sulit.
Persaingan Panas Justru Terjadi di P3 hingga P5
Meski perebutan posisi puncak mulai terlihat berat, drama besar Moto3 2026 justru terjadi di perebutan papan tengah atas.
Selisih antara Alvaro Carpe (53 poin), Valentin Perrone (52 poin), dan Veda Ega Pratama (50 poin) hanya terpaut tiga angka.
Artinya, satu seri saja bisa langsung mengubah posisi mereka secara drastis.
Persaingan kelompok ini diprediksi menjadi salah satu duel paling menarik musim 2026 karena ketiganya memiliki karakter balap berbeda.
Carpe dikenal agresif di tikungan cepat, Perrone kuat dalam slipstream battle, sementara Veda mulai menunjukkan kemampuan adaptasi luar biasa dalam wet race maupun duel pack racing.
CFMOTO Aspar Bangun Dinasti Baru
Dominasi Quiles juga tak bisa dilepaskan dari kekuatan teknis CFMOTO Gaviota Aspar.
Tim asal Spanyol tersebut kini menjadi salah satu kekuatan terbesar di Moto3. Bahkan mereka baru saja memperpanjang kerja sama dengan CFMOTO hingga 2031.
Langkah itu menjadi sinyal bahwa pabrikan asal China tersebut serius membangun proyek jangka panjang di Grand Prix.
Dalam dua musim terakhir, kombinasi CFMOTO dan Aspar telah mengoleksi total 21 kemenangan di Moto3 dan Moto2.
Bukan hanya Quiles yang tampil kompetitif. Rekan setimnya, Marco Morelli, juga mampu bertengger di posisi keenam klasemen dengan 48 poin.
Artinya, kekuatan Aspar musim ini bukan hanya bergantung pada satu rider.
Catalunya Jadi Ujian Berikutnya
Peluang terbaik menghentikan laju Quiles mungkin hadir akhir pekan ini di GP Catalunya 2026 yang berlangsung di Circuit de Barcelona-Catalunya pada 15–17 Mei 2026.
Sirkuit Catalunya dikenal teknis dan menuntut keseimbangan motor yang sangat baik. Kombinasi tikungan cepat dan lambat membuat balapan di Barcelona sering menghasilkan kejutan.
Pertanyaannya kini: apakah Adrian Fernandez, Alvaro Carpe, atau bahkan Veda Ega Pratama mampu memanfaatkan karakteristik Catalunya untuk memangkas jarak?
Atau justru Maximo Quiles kembali menunjukkan bahwa dirinya memang kandidat terkuat juara dunia Moto3 2026?
Satu hal mulai terlihat jelas: sejauh ini, belum ada pembalap yang benar-benar mampu menghentikan laju rider muda Spanyol tersebut. (*)
Editor : Ali Sodiqin