Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tertekan Isu Pensiun, Marc Marquez Akui Masalah Ada pada Diri Sendiri di MotoGP

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 22 April 2026 | 15:14 WIB
Ilustrasi spekulasi pensiun Marc Márquez di MotoGP 2026 menguat. (Gemini AI)
Ilustrasi spekulasi pensiun Marc Márquez di MotoGP 2026 menguat. (Gemini AI)

RADARBANYUWANGI.ID - Isu pensiun Marc Marquez kembali mengemuka setelah start kurang meyakinkan dalam perburuan gelar ketujuhnya di MotoGP musim 2026.

Namun, narasi itu dinilai terlalu dini jika melihat karakter pembalap elit ini yang justru kerap bangkit dari tekanan.

Pembalap veteran Cal Crutchlow pernah menggambarkan mentalitas tersebut dengan lugas.

“Saya suka menderita. Kalau sakit, saya ingin lebih sakit lagi,” ujarnya dalam sebuah wawancara, dikutip Motorsportmagazine.com

Mentalitas ekstrem inilah yang membedakan pembalap top dari manusia kebanyakan.

Di sisi lain, spekulasi pensiun justru berpotensi menjadi bahan bakar bagi Marquez.

Dorongan untuk membungkam keraguan publik menjadi energi laten yang kerap melahirkan performa luar biasa.

Fenomena ini bukan hal baru, bahkan legenda seperti John Surtees menyebut kesuksesannya lahir dari “keras kepala bawaan keluarga”.

Marquez sendiri tidak mencari kambing hitam.

“Yang kurang itu saya, bukan motornya,” tegas Marquez usai finis kelima di Circuit of The Americas (COTA). 

Pernyataan ini menegaskan bahwa kondisi fisiknya masih menjadi kendala utama.

Cedera bahu kanan yang kompleks memaksanya mengubah gaya balap.

Ia mengaku kesulitan mengerem dan menjaga posisi ideal saat menikung.

“Saya mengendarai dengan cara yang aneh. Saya masih cepat, tapi tidak bisa membuat perbedaan,” ungkapnya.

Masalah semakin kompleks dengan karakter ban belakang terbaru Michelin yang terlalu mencengkeram di awal balapan. 

Hal ini membuat motor menjadi agresif dan sulit dikendalikan, terutama bagi Marquez yang belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, dominasi Ducati mulai goyah.

Jika musim lalu Desmosedici menyapu bersih tiga seri awal, musim ini mereka baru meraih satu kemenangan.

Perbandingan performa motor GP26 dan GP25 pun menarik.

Pembalap VR46, Fabio Di Giannantonio, menjadi tolok ukur.

Ia mencatat dua pole position beruntun dan finis di posisi tiga serta empat dalam dua seri terakhir, yang mengindikasikan bahwa GP26 lebih kompetitif.

Namun, kemajuan Ducati belum cukup untuk menandingi lonjakan performa Aprilia.

Motor RS-GP 2026 tampil impresif dan belum terkalahkan pada balapan hari Minggu musim ini.

Performa Aprilia bukan kejutan. 

Sejak beralih ke mesin V4 90 derajat pada 2020, mereka berkembang secara bertahap, dari hanya sekadar finis hingga podium, lalu berujung pada kemenangan.

Kini, keunggulan utama RS-GP ada pada pengereman dan pemanfaatan ban belakang Michelin.

Jika dulu menjadi kelemahan, kini hal itu justru menjadi senjata utama.

Meski belum meraih podium pada balapan Minggu di musim ini, Marquez masih memiliki harapan. 

Catatan waktunya di COTA hanya terpaut 0,019 detik dari rivalnya, Marco Bezzecchi.

Beberapa faktor nonteknis juga menghambat, mulai dari penalti long lap hingga masalah teknis di Thailand dan Brasil.

Dengan jeda balapan akibat penundaan GP Qatar, Ducati memiliki waktu untuk mengejar ketertinggalan.

Selisih performa diperkirakan hanya sekitar sepersepuluh detik, angka yang masih sangat mungkin dikejar.

Meski tekanan meningkat, Marquez menegaskan belum memikirkan pensiun.

Ia bahkan menargetkan untuk tetap balapan hingga era mesin 850 cc yang dimulai musim depan.

Ambisinya jelas untuk menambah gelar dan mendekati rekor Valentino Rossi (tujuh gelar) serta Giacomo Agostini (delapan gelar).

Namun, ia menolak terobsesi.

“Saya tidak berpikir obsesi itu baik. Itu justru membuat Anda mengambil keputusan yang salah,” tegasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#marc marquez #motogp