RADARBANYUWANGI.ID - Perkembangan teknologi aerodinamika dalam ajang MotoGP kembali menjadi sorotan pada musim 2026.
Sejumlah pihak mengkritik penggunaan perangkat seperti winglet dan sistem aero lainnya karena dianggap mengurangi esensi balap moto
Namun, para insinyur menegaskan bahwa setiap inovasi lahir sebagai solusi atas persoalan nyata yang dihadapi pembalap di lintasan.
“Setiap perubahan pada motor balap adalah respons terhadap masalah spesifik yang dialami pembalap, terutama terkait stabilitas dan kepercayaan diri,” terang Kevin Cameroon, seorang pengamat, dikutip Cycle World.
Pernyataan ini menegaskan bahwa aspek teknis tak bisa dilepaskan dari masukan langsung para rider.
Salah satu inovasi paling mencolok adalah penggunaan winglet yang menghasilkan gaya tekan ke bawah (downforce).
Masalah utama yang dihadapi adalah berkurangnya beban pada roda depan saat motor melaju kencang, terutama di trek dengan kontur bergelombang.
Akibatnya, pembalap sering merasakan sensasi melayang atau “floaty feeling” yang berbahaya.
Dengan winglet, tekanan tambahan membantu menjaga roda depan tetap menapak, meningkatkan stabilitas dan kontrol.
Keluhan lain yang mencuat dalam lima tahun terakhir adalah minimnya grip ban belakang, bahkan hingga menyebabkan slip di gigi tinggi.
Untuk mengatasi hal ini, tim mengembangkan desain fairing bawah yang hampir datar dan memanfaatkan “downwash duct”.
Teknologi ini menciptakan area bertekanan rendah di bawah motor, sehingga menghasilkan gaya tekan tambahan pada ban belakang.
Efeknya, traksi meningkat saat akselerasi maupun pengereman.
Motor balap juga menghadapi masalah hambatan udara tinggi dari komponen seperti garpu depan, cakram rem, dan kaliper.
Untuk itu, berbagai penutup aerodinamis dipasang guna mengurangi turbulensi.
Langkah ini mengingatkan pada praktik industri penerbangan.
“Pembersihan aerodinamika dapat meningkatkan kecepatan secara signifikan,” tulis salah satu referensi teknis, bahkan menyebut peningkatan hingga 27 mil per jam (sekitar 43 kilometer per jam) pada pesawat tempur setelah optimalisasi.
Selain perangkat mekanis, posisi pembalap juga mengalami perubahan drastis.
Kini, rider duduk jauh lebih ke depan dibandingkan dengan era 1960-an untuk meningkatkan beban roda depan dan mengatasi wheelie ekstrem pada kecepatan tinggi.
Perubahan ini merupakan kelanjutan dari evolusi panjang dalam dunia balap, yang sebelumnya mencakup penggunaan ban slick, rem cakram, hingga sasis modern.
Meski menuai kritik, perubahan dalam MotoGP dianggap sebagai keniscayaan.
“Perubahan memang mengganggu, tetapi tidak bisa dihentikan,” demikian kesimpulan yang sering digaungkan dalam diskusi.
Editor : Lugas Rumpakaadi