RADARBANYUWANGI.ID - Valentino Rossi kerap disebut sebagai pembalap Grand Prix sepeda motor terhebat sepanjang masa. Dominasi dan karismanya tidak hanya mengangkat popularitas MotoGP pada era 2000-an, tetapi juga mengubah cara pandang banyak pembalap terhadap balapan, termasuk legenda Jim Redman.
Rossi memulai jejak gemilangnya dengan meraih gelar kelas 125 cc pada 1997 dan 250 cc pada 1999. Ia naik ke kelas utama pada 2000 dan langsung menunjukkan potensi besar dengan finis sebagai runner-up di musim debutnya. Setelah itu, ia mencetak sejarah dengan lima gelar beruntun pada 2001–2005, serta menambah dua gelar lagi pada 2008 dan 2009.
Menurut mantan juara dunia enam kali, Jim Redman, kehadiran Valentino Rossi mengubah definisi balapan itu sendiri.
“Saya melihat Valentino Rossi dan menyadari bahwa balapan telah menjadi sesuatu yang hampir tidak saya pahami lagi,” ujar Redman, dikutip MotoGPNews.com.
“Bukan hanya soal motor, kecepatan, keberanian, atau teknik; tetapi soal pikiran. Rossi tidak sekadar melawan Anda, dia mempelajari Anda.”
Redman menilai kejeniusan Rossi terletak pada kemampuannya membaca lawan, memahami pola, kelemahan, hingga momen rapuh yang bisa dimanfaatkan.
“Dia tahu tikungan mana Anda ragu, kapan kepercayaan diri Anda retak. Dan dia menggunakan semua itu melawan Anda,” tambahnya.
Salah satu contoh paling ikonik adalah duel di Catalunya 2009 melawan Jorge Lorenzo. Pada lap terakhir, Rossi melakukan manuver berani di tikungan terakhir,sebuah langkah yang dianggap mustahil pada era sebelumnya.
“Di masa saya, manuver itu seperti bunuh diri. Tapi Rossi punya sesuatu yang tidak kami miliki… dia tahu ban, grip, dan yang terpenting: dia tahu Lorenzo,” kata Redman.
Selain teknik balap, Rossi juga dikenal membawa perubahan dalam mentalitas pembalap. Sosoknya yang santai namun penuh perhitungan menginspirasi generasi baru, termasuk Alvaro Bautista, yang menyebut Rossi membuat pembalap lebih rileks dalam menghadapi tekanan.
Redman bahkan sempat menganggap Rossi sebagai “pembalap paling lengkap” yang tidak akan tertandingi. Namun, pandangannya berubah ketika muncul talenta muda dari Spanyol, Marc Marquez.
“Saya pikir Rossi adalah akhir dari segalanya, kecerdasan, teknik, insting. Tapi kemudian saya melihat seorang anak dari Cervera, dan saya tidak mengerti apa yang saya lihat,” ujarnya.
Marquez, yang debut pada 2013, langsung mencuri perhatian dengan meraih gelar juara dunia di musim pertamanya dan menambah enam gelar berikutnya. Rivalitasnya dengan Rossi, terutama konflik panas pada 2015, masih menjadi salah satu kisah paling berkesan dalam sejarah MotoGP.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : motogpnews.com