Pedro Acosta Soroti Risiko MotoGP 2027, Tikungan Lebih Berbahaya dari Kecepatan di Lurusan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 16 April 2026 | 10:30 WIB
Pedro Acosta menilai perubahan MotoGP 2027 bukan soal kecepatan lurus. (KTM)
Pedro Acosta menilai perubahan MotoGP 2027 bukan soal kecepatan lurus. (KTM)

RADARBANYUWANGI.ID - Pebalap muda Red Bull KTM, Pedro Acosta, mengungkapkan pandangannya terkait perubahan besar regulasi MotoGP 2027. Meski kapasitas mesin akan dikurangi dari 1000 cc menjadi 850 cc, ia menilai faktor keselamatan tidak semata ditentukan oleh kecepatan di lintasan lurus.

Perubahan regulasi tersebut juga mencakup pengurangan bobot minimum motor dari 157 kg menjadi 153 kg. Kombinasi ini diperkirakan akan menurunkan kecepatan puncak, tetapi berpotensi meningkatkan kecepatan saat menikung, faktor yang justru dianggap lebih berisiko.

Berbicara di sela seri Grand Prix of the Americas (COTA), Acosta menegaskan bahwa bahaya utama MotoGP saat ini bukan berasal dari kecepatan maksimal.

“Saya pikir yang berbahaya saat ini bukan karena kami melaju 360 km/jam di lintasan lurus,” ujar Acosta, dikutip Crash.

“Masalahnya adalah kami jauh lebih cepat di tikungan dibanding tahun lalu dan beberapa tahun sebelumnya. Itulah yang membuat olahraga ini berbahaya.”

Ia juga mengaku penasaran bagaimana performa motor generasi baru tanpa perangkat pengatur ketinggian (ride-height devices) di bagian belakang, serta dengan perubahan aerodinamika dan penggunaan ban baru dari Pirelli.

“Saya tidak tahu seperti apa nantinya musim depan. Apalagi tanpa perangkat belakang. Saya penasaran dengan hal ini,” tambahnya.

Selain aspek teknis, Acosta juga menyoroti padatnya kalender MotoGP yang menurutnya berdampak langsung pada durasi karier pebalap.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah seri meningkat. Setelah mencapai 20 seri pada 2022, MotoGP kini memiliki 22 seri pada musim 2025. Ditambah dengan Sprint Race sejak 2023, total balapan dalam satu musim mencapai 44.

Acosta menilai intensitas akhir pekan balap menjadi masalah utama, bukan sekadar jumlah seri.

“Yang saya rasakan buruk dari kalender adalah karier pebalap akan menjadi lebih pendek,” katanya.

“Tidak mungkin bertahan 22 akhir pekan dengan sesi penting setiap hari, mulai dari latihan, kualifikasi, Sprint, hingga balapan utama.”

Ia menambahkan bahwa tidak ada lagi ruang bagi pebalap untuk beradaptasi secara bertahap selama akhir pekan balapan.

“Tidak ada waktu untuk sekadar turun ke lintasan dan membangun ritme secara perlahan. Setiap hari adalah sesi penting,” ujarnya.

Menurut Acosta, tekanan yang terus-menerus dapat meningkatkan risiko cedera.

“Ketika risikonya lebih tinggi, peluang untuk cedera juga meningkat. Itu yang saya lihat sekarang, bukan hanya soal jumlah balapan.”

Acosta sendiri tengah menjalani musim yang impresif. Ia berhasil meraih kemenangan Sprint pertamanya di seri pembuka di Thailand dan kini menempati posisi ketiga klasemen sementara, di belakang Marco Bezzecchi dan Jorge Martin dari tim Aprilia.

Di tengah performa gemilang tersebut, rumor juga menyebutkan bahwa Acosta berpeluang bergabung dengan tim pabrikan Ducati pada 2027, berduet dengan Marc Marquez, meski belum ada konfirmasi resmi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Crash.net
Pedro Acosta motogp