RADARBANYUWANGI.ID - Pada tahun 2026, Ducati merayakan satu abad berdirinya sejak 4 Juli 1926. Namun, perjalanan perusahaan ini menuju kejayaan roda dua tidak dimulai dari lintasan balap, melainkan dari kehancuran akibat perang yang justru mengubah arah sejarahnya.
Kisah sepeda motor Ducati berakar dari peristiwa dramatis pada 12 Oktober 1944. Saat itu, sekitar 700 pesawat pengebom Amerika Serikat menghujani kota Bologna dengan lebih dari 1.300 ton bom dalam misi bernama Operation Pancake. Target utama termasuk pabrik Ducati di Borgo Panigale yang saat itu memproduksi peralatan presisi untuk militer Nazi.
Sebelum perang, Ducati dikenal sebagai produsen radio, perangkat listrik, hingga alat optik. Bahkan pada 1924, Adriano Ducati berhasil menciptakan radio gelombang pendek yang menghubungkan Italia dan Amerika Serikat. Namun, kehancuran total pabrik memaksa perusahaan mencari arah baru setelah perang berakhir.
Pasca perang, Ducati menemukan peluang dalam kebutuhan transportasi murah. Mereka mengadopsi mesin kecil 50cc “Cucciolo” yang bisa dipasang pada sepeda. Inovasi sederhana ini menjadi fondasi lahirnya sepeda motor Ducati.
Pada 1952, Ducati meluncurkan motor utuh pertamanya berbasis Cucciolo dan mulai terjun ke dunia balap. Keputusan ini menjadi langkah strategis untuk membangun reputasi performa dan keandalan.
Tahun 1954 menjadi tonggak penting saat Ducati merekrut insinyur legendaris Fabio Taglioni. Ia memperkenalkan mesin desmodromic, teknologi katup yang meningkatkan performa dan efisiensi.
Motor seperti Marianna 125 membawa Ducati meraih kemenangan di balapan jalan raya Italia. Teknologi desmo kemudian menjadi identitas khas Ducati hingga saat ini.
Sepanjang dekade 1960–1980, Ducati beberapa kali berada di ambang kebangkrutan. Namun, inovasi terus berlanjut. Pada 1970, Ducati memasuki era superbike dengan mesin V-twin 90 derajat seperti GT750.
Kemenangan penting diraih pada 1972 melalui Paul Smart di ajang Imola 200, yang memperkuat citra Ducati sebagai motor performa tinggi.
Era modern Ducati ditentukan oleh kesuksesan di World Superbike dan MotoGP. Model Ducati 916 pada 1994 menjadi ikon global dan mengangkat citra merek secara drastis.
Di ajang MotoGP, Ducati mencetak sejarah dengan gelar juara dunia pembalap pertama pada 2007 bersama Casey Stoner.
Sejak 2020, Ducati mendominasi dengan enam gelar konstruktor berturut-turut, menegaskan posisinya sebagai kekuatan utama balap motor dunia.
Pada 2024, Ducati meraih kemenangan ke-100 di MotoGP sekaligus mengamankan gelar konstruktor World Superbike ke-20. Dari reruntuhan perang hingga puncak kejayaan, Ducati membuktikan bahwa krisis dapat menjadi awal kebangkitan besar.
Editor : Lugas Rumpakaadi