RADAR BANYUWANGI - Gandung Sewu (GS) 2026 sudah kelar. Digelar 24 Oktober lalu. Meninggalkan beragam kesan. Baik yang nonton langsung. Berjubel di pantai Marina Boom. Maupun hanya melihat lewat media sosial.
Kesan-kesan itu berseliweran di banyak ruang. Mulai kantor, warung kopi, grup-grup WA, sampai medsos. Ramai sekali. Boleh dibilang, GS tahun ini paling banyak dibincangkan. Didiskusikan. Bahkan, diperdebatkan. Bisingnya mengalahkan 13 GS sebelumnya.
Kesannya sangat beragam. Disampaikan oleh orang-orang yang beragam pula. Mulai penonton awam hingga mereka yang paham tentang tari gandrung khususnya. Dan, plus-minus pementasan secara umum.
Saya mengelompokkan kesan-kesan itu menjadi tiga. Kelompok pertama adalah mereka yang mengatakan dengan bangga: GS 2026 spektakuler! Luar biasa. Sangat memesona. Apa parameter penilian itu, la afham. Saya tidak tahu pasti. Mungkin saja karena digelar malam. Mungkin juga karena konsep glow in the dark-nya. Atau, bahkan, karena menimbulkan kemacetan yang luar biasa. Memang, ada orang mengukur kesuksesan sebuah event dari dampak kemacetan yang ditimbulkannya. Kemacetan dalam hal itu identik dengan antusias orang untuk menonton. Entahlah.
Beda lagi dengan kelompok kedua. Mereka umumnya orang yang mengerti tentang konsep sebuah pertunjukan. Dalam hal ini tari gandrung, tentunya. Karena mengerti mereka pun berpikir kritis. “Menelanjangi” pertunjukan GS 2026 luar dalam. Mulai dari musik pengiring hingga kostumnya yang di-glow-kan.
Dari sisi musik, ada yang menilai GS 2026 kehilangan musik khas gandrungnya. Kurang terasa. Sentuhan nada-nada diatonis lebih dominan. Itu menyebabkan berkurangnya rasa khas musik gandrungnya. Bukan hanya itu. Musik iringan GS 2026 juga “bermasalah” di melodi. Kurang dinamis. Dinamikanya rata. Transisi pola lantainya cenderung monoton. Selalu dilakukan/diawali dengan posisi penari setengah duduk. Kalau hanya sekali, posisi demikian sangat bagus. Tapi kalau dilakukan sampai tiga kali jadinya membosankan. Apalagi dilakukan dengan iringan musik yang sama. Flat. Dan, klimaks yang ditunggu-tunggu tidak terasa.
Yang disayangkan juga, nuansa/suasana sakralitas tema Kembang Dermo pada tampilan tari tidak tampak. Memang, setelah terjadi peristiwa puluhan penari kesurupan saat latihan gabungan di stadion Diponegoro Banyuwangi, komposisi Kembang Dermo dihilangkan. Namun, seharusnya dihilangkan begitu saja tanpa bekas dalam keseluruhan konsep. Sebab, tema Kembang Dermo tidak diganti. Tetap dipakai, bukan. Beruntung kesakralan itu terasa saat ngeruwat gandrung.
Lighting GS 2026 juga menjadi sorotan dalam kelompok-kelompok diskusi. Seniman Punjul Ismuwardoyo mengatakan, “jauh hari sudah tak sampaikan, kalau lighting tidak dioperasikan oleh ahlinya, kasihan Gandrung Sewune,” kata pemilik pademokan seni Alang-Alang Kumitir itu.
Punjul yang alumnus ISI Jogjakarta menambahkan, seharusnya tata cahaya untuk membantu pertunjukan GS. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. GS malah menjadi pendukung permainan tata cahaya. Lighting begitu banyak. Tapi, tegasnya, tidak mendukung suasana dan susunan dramatik untuk memperkuat karakter GS. “Dan, masih banyak catatan untuk tim produksi dan tim artistik GS. Tahun ini, GS parah pooll,” uangkap Punjul.
Tim produksi dan tim artistik GS 2026 ditangani tim InJourney. Dengan mengusung konsep glow in the dark. Tuntutan artistik glow in the dark membuat GS yang biasanya digelar sore harus diubah malam. Mereka mengonsep GS dengan poletan fosfor di sebagian wajah, tangan, dan kostum para penari GS. Fosfornya memang berkilau ketika lampu tiba-tiba diredup-matikan. Tapi, di sisi lain malah menimbulkan masalah baru. Sebagian fotografer ngomel-ngobel. Mereka kesulitan mendapatkan angle foto penarinya secara utuh. Kalah oleh cahaya efek dari fosfor. Fosfor di wajah penari malah membuat wajahnya penari seperti bukan gandrung.
Pancaran cahaya fosfor sempat mengundang decak kagum penonton. Sayang efek cahaya itu terkesan hanya membuat tampilan GS terlihat unik. Terasa hanya untuk sekadar beda dengan GS sore hari. Belum kawin dan menyatu dengan musik pengiring dan gendingnya. Apalagi, memperkuat tema utama Kembang Dermo. Andai tim lighting berdiskusi dengan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) akan beda ceritanya. Maaf, di DKB ada aktivis teater lulusan kampus seni. Soal lighting untuk pertunjukan seni budaya menjadi makanan sehari-hari mereka. Pastinya, mereka tidak akan menggunakan (mencampuradukkan) lampu konser musik untuk pertunjukan kesenian. Sebab, lampu konser cenderung gemerlap. Sementara lampu pertunjukan seni didesain untuk membangun suasana. Di dalamnya termasuk menguatkan karakter para pemain/penarinya. Terutama mimiknya saat menari.
Bagaimana dengan kelompok ketiga? Kelompok ketiga adalah mereka yang idealis. Mereka selalu menonton GS. Tapi bukan aksi ribuan penari semata. Melainkan juga lanskapnya. Perubahan GS dari sore ke malam membuat mereka shock. Mereka merasa kehilangan ikon GS yang membuatnya selalu terkesan. Yakni, Pulau Dewata yang sedang tidur nun jauh di seberang Selat Bali. Mereka juga tidak bisa melupakan momen-momen menonton GS sambil sesekali melihat lalu lalang kapal nelayan. Itu benar-benar pemandangan sangat menawan.
Terus terang saya termasuk kelompok ketiga itu. Saya masih teringat ketika GS pertama digelar pada 2012. Saat itu, alasan Bupati Abdullah Azwar Anas dan Pak Budianto (penggagas GS) memilih pantai Boom sebagai venue GS karena lokasinya yang sangat strategis. Berada tepat di seberang Pulau Bali. “Menempel” ke Bali yang sudah mendunia menjadi promosi gratis Banyuwangi.
Sebenarnya, tidak masalah GS digelar malam. Asal tidak menghilangkan selat Bali dan Pulau Dewata. Caranya, venue-nya digeser lebih ke timur. Mendekati bibir pantai Boom. Memperbanyak sorot lampu yang ditembakkan ke selat Bali. Memang, butuh biaya tinggi. Tapi, itu tak berarti bagi BUMN sekelas InJourney, bukan. Mereka bisa menghadirkan drone show di GS. Masak tak mampu menembakkan lampu-lampu khusus ke selat Bali.
Oh iya, harus diakui kehadiran drone show menjadi nilai lebih GS 2026. Menjadi tontonan pertama di Bumi Blambangan. Tak heran bila ribuan penonton GS terpukau dibuatnya. Mereka bersorak setiap drone-drone “cerdas” itu melakukan perubahan formasi. Bahkan, decak kagum penonton sudah terlihat sejak drone-drone bercahaya terbang mengudara. Menari-menari tepat di atas panggung utama. Lalu menampikan beragam formasi.
Tapi, penampilan drone show sebelum GS justru menjadi boomerang. GS-nya tenggelam. Hingga menjelang seperempat penampilan awal, saya amati GS tidak mampu mengangkat suasana penonton yang di memori otaknya masih dipenuhi rasa kagum terhadap tarian drone. Bila dibandingkan, sorak-sorai penonton terhadap drone show lebih banyak daripada sorai-sorai untuk GS. Akan beda ceritanya kalau drone show ditampilkan di pengujung GS. Kayaknya lebih keren.
Wa ba’du. Bagaimanapun apresiasi tinggi layak diberikan kepada ribuan siswa penari GS. Mereka telah berlatih berbulan-bulan dan pada akhirnya bisa tampil di panggung GS yang sesungguhnya. Mungkin di antara mereka ada yang kecewa karena buruknya pencahayaan yang menimpa wajah dan tubuhnya. Tapi mereka harus bangga. Sebab, itu adalah kesalahan orang lain. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Ali Sodiqin