RASANYA tak sabar menunggu November. Bulan ke-11 itu menjadi momen paling penting bagi keluarga besar sapi Banyuwangi. Mereka, sejak November, bisa menikmati perjalanan yang menyenangkan. Dari Kota Gandrung menuju Jakarta.
Sebab, PT KAI sudah menyiapkan gerbong khusus bagi keluarga sapi. Namanya KAI Logistik. Disingkat Kalog. Dijamin, dalam Kalog sapi tidak akan setersiksa ketika mereka naik truk bak terbuka. Seperti yang dijalaninya selama ini.
Perjalanan puluhan jam menuju Jakarta menggunakan truk sangat tidak nyaman. Sapi-sapi berdiri puluhan jam. Baru rileks ketika truk berhenti. Di beberapa lokasi. Untuk istirahat. Memberi kesempatan awak truk mengecek kondisinya. Sekaligus ngasih makan dan minum.
Seorang teman yang pernah bekerja mengirim sapi ke Jakarta bercerita. Betapa melelahkannya perjalanan dari Banyuwangi ke Jakarta. Tak terkecuali bagi sapi yang diangkutnya. Beberapa kali ternak yang diangkutnya mengalami patah kaki di tengah jalan.
“Maklum, sapi yang kami bawa ke Jakarta adalah sapi Bali. Kakinya kecil. Tidak sekuat sapi-sapi di Jawa. Rentan mengalami patah kaki. Baik akibat kelelahan atau karena guncangan kuat truknya saat melintasi jalan yang jelek,’’ kenang teman yang juga ustad, Alfan Hidayat.
Sekadar tahu, Banyuwangi bukan sentra sapi pedaging. Kalau pun ada peternak sapi, jumlahnya belum wow. Tidak sebanyak dibanding sapi Bali. Para juragan sapi dari Banyuwangi harus berburu sapi ke peternak Bali. Mereka juga keluar masuk pasar-pasar hewan di wilayah Pulau Dewata. Sapi-sapi itu kemudian di-pool di kota The Sunrise of Java. Setelah masuk karantina baru dikirim ke Jakarta. Diangkut truk-truk besar.
Beda dengan Kalog khusus sapi dan hasil bumi. Kondisinya berbeda jauh dengan bak truk. Kalog menggunakan gerbong datar. Flatcar. Dimodif dengan peti kemas khusus. Lebih dikenal dengan kontainer biru. Sesuai warna catnya. Lengkap dengan banyak ventilasi. Mulai sisi kanan, kiri, depan, dan belakang. Yang didesain khusus untuk sirkulasi udara bagi penumpang istimewanya: sapi.
Gerbong kontainer itu punya dua pintu. Di bagian tengah dan ujung.
Rencananya, Kalog sapi satu rangkaian reguler akan membawa sampai 20 gerbong. Berkapasitas 550 ton. Tiga gerbong di antaranya khusus untuk mengangkut sapi. Sekitar 75 ekor. Atau satu gerbong untuk 20-an sapi. Agar penumpang istimewa itu bisa rileks. Nyaman selama perjalanan panjang. Sementara 17 gerbong sisanya disiapkan untuk mengangkut hasil bumi/pertanian.
Kalog sapi tidak bisa berhenti di sembarang stasiun. Rutenya relasi stasiun Argopuro di Banyuwangi menuju stasiun Jakarta Gudang. Selain dari Argopuro, titik muat Kalog sapi hanya di stasiun Kalisetail di Kecamatan Sempu.
Dari Banyuwangi menuju Jakarta akan ditempuh maksimal 26 jam. Pun sebaliknya. Jam operasinya penuh. Setiap hari. Jadi tak sabar segera masuk November. Ingin melihat sekaligus melambaikan tangan untuk keluarga besar sapi yang mengisi gerbong Kalog. Pasti mereka gembira sambil bergumam, “Selamat tinggal masa suram. Selamat tinggal perjalanan melelahkan”.
Bukan Yang Pertama
Pengoperasian Kalog angkutan sapi dan hasil bumi PT KAI patut diapresiasi. Pasti lini bisnis itu sudah melalui kajian mendalam. Dijamin kelayakan dan prospeknya lewat feasibility study. Apalagi, fil-haqiqah, angkutan sapi lewat moda kereta api dari Banyuwangi ke Jakarta bukan yang pertama. Sudah pernah dilakukan. Seperti kata Direktur Operasional KAI Logistik Broer Rizal saat bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas di pendapa Sabha Swagata Blambangan (12/9/26).
“Angkutan ternak menggunakan kereta api sebenarnya bukan konsep baru. Moda tersebut pernah menjadi bagian penting distribusi ternak di Indonesia era 1960-an sampai pertengahan 2000-an. Kini, Kalog berupaya menghidupkan kembali layanan tersebut. Banyuwangi dipiliah sebagai salah satu titik keberangkatan karena dukungan Pemkab Banyuwangi serta potensi populasi sapi potong yang besar,’’ ujaranya, dilansir Jawa Pos Radar Banyuwangi (13/9/26).
Pernyataan Rizal yang terakhir itu perlu dikoreksi. Sapi potong yang dikirim dari Banyuwangi ke Jakarta selama ini kebanyakan dari Bali. Sebagian lagi dari baru Banyuwangi. Mengulik data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, pada 2024 tercatat populasi sapi di Banyuwangi mencapai 116.784 ekor. Jumlah itu jauh melampaui kebutuhan lokal. Termasuk untuk keperluan Idul Adha. Rata-rata untuk kebutuhan kurban, per tahun sekitar 3.000 ekor. Banyuwangi pun menjadi salah satu penyuplai surplus ternak di Jawa Timur.
Wa ba’du. Tak sabar menunggu awal November. Sambil nyeruput kopi dan menikmati kentang goreng di kafe selatan stasiun Banyuwangi Kota, saya ingin melambaikan tangan. Menyampaikan “selamat jalan” kepada penumpang khusus yang memenuhi tiga gerbong Kalog sapi.
Saya ingin tahu ekspresi sapi-sapi di dalamnya. Sambil merangkai beberapa pertanyaan. Jika benar-benar happy naik Kalog, apakah kira-kira berat sapinya menjadi naik. Pertanyaan sebaliknya, apakah naik truk dalam waktu lama mengakibatkan sapi stres. Ketika stres, apakah berat badan sapi menyusut…. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Sigit Hariyadi
Sumber : Jawa Pos Radar Banyuwangi