Cetak 348 Katana

Samsudin Adlawi • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 02:00 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Oleh: Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.

RADAR BANYUWANGI - Jangan bosan bersyukur. Itu yang seharusnya dilakukan warga Banyuwangi. Terus menyukuri nikmat dari Allah swt. Terutama hamparan alam yang indah. Keindahannya memancar dari kalau air alut dan pasir di pesisirnya. Keindahannya menyeruak dari dalam hutan-hutannya. Termasuk sawah-ladangnya. Bahkan, keindahan itu juga melambai-lambai dari pucuk gunungnya. 

Potensi alam itu bertahun-tahun dikelola secara baik dan benar. Dari yang biasa-biasa saja—bahkan, maaf, jelek dan mangkrak tak terurus—menjadi indah luar biasa. Wisatawan asing dan wisatawan nusantara pun datang berbondong-bondong. Silih berganti. Tiada putus tiada henti. Mereka pelesiran. Menikmati keindahan Bumi Blambangan. Yang kian memesona. Dari hari ke hari. Dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Digi MR 2026 Tuntas, Daftar Nilai Semua Regu dari Tertinggi hingga Terendah

Jangan berhenti bersyukur. Banyuwangi kini benar-benar sudah The Sunrise of Java. Bahkan, sudah mulai memjadi The Sunrise of Indonesia. Dan, pelan tapi pasti sedang menuju The Sunrise of The World.  Jangan berhenti bersyukur, wahai warga Kota Gandrung.

Lebih baik lagi bila kesyukurannya dibarengi perenungan. Tapi tidak perlu sampai semedi. Bertapa di gua Istana. Cukup membaca referensi yang tertulis di buku geografi. Ditambah membaca tanda-tanda alam. Niscaya proses itu akan sampai pada kesimpulan: ternyata di balik pesona alam itu sebenarnya Banyuwangi juga menyimpan potensi bencana. Bencananya bisa mengancam keindahan daerah di ujung paling timur Jawa Timur ini. Bencana itu bisa datang sewaktu-waktu. Dan, tak terduga. Tidak bisa ditebak kapan terjadinya.

Berdasar data dan fakta, Banyuwangi kita punya topologi berbeda. Sangat sedikit daerah lain seperti Banyuwangi. Yang memiliki paket lengkap: laut, hutan, dan gunung. Ketiganya terbukti sudah menghadirkan keindahan. Tapi, ternyata, bisa mendatangkan petaka juga.

Di sepanjang garis pantai Banyuwangi, sekitar 175 km membentang dari pantai Bomo di Wongsorejo sampai Sukamade-Meru Betiri, bencana selalu mengintai. Terutama pantai yang berada di bibir laut selatan. Kita kilas balik. Memutar waktu ke masa 32 tahun silam. Ketika itu, Kamis, 3 Juni 19914. Tepat dini hari, sekira pukul 01.00 WIB. Gelombang tsunami setinggi 13,9 meter melumat pesisir selatan Banyuwangi. Pemukiman penduduk mulai dari Pantai Plengkung, Pantai Pancer, dan Pantai Rajekwesi rusak total. Rata dengan tanah. Korban meninggalnya banyak sekali. Mencapai 250 jiwa. Korbannya banyak karena saat tsunami datang semua warga di lokasi bencana sedang tertidur lelap.

Baca Juga: Bukan Sekadar Lomba, Digi MR Jadi Rapor Kemampuan UKS/PMR Banyuwangi

Tsunami dahsyat itu, menurut sejumlah sumber, dipicu gempa bumi hebat. Yang mengguncang bumi beberapa saat sebelumnya. Kekuatan gempanya bermagnitudo 7,7. Berpusat di lepas pantai Samudra Hindia. Sangking hebatnya, getaran gempanya terasa hingga Bali, seluruh Jatim, dan Jawa Tengah.

Belajar dari tsunami 1994, destinasi unggulan Pantai Plengkung, Pulau Merah, Grajagan, Pancer, Pantai Mustika, dan Teluk Ijo bisa saja musnah keindahan alamnya. Kecuali tsunaminya baik hati. Berkirim kabar jauh-jauh hari. Sebelum benar-benar datang bertamu. Pantai di Selat Bali hingga Pantai Bomo yang selama ini kelihatan tenang, bisa saja tiba-tiba mengamuk. Berubah menjadi gelombang tinggi. Melumat kota Banyuwangi dan sekitarnya. Menghancurkan destinasi wisata pantai yang dilewatinya.

Potensi bencana juga ada di jantung hutan. Baik itu hutan di wilayah selatan, barat, dan utara Banyuwangi. Bila tidak dijaga dan dirawat dengan semestinya, seperti mencegah dari pembalakan liar, bencana akan semakin cepat datang. Hutan yang gundul dan minim vegetasi bisa menyebabkan bencana tanah longsor. Juga bencana ikutan. Seperti banjir bandang. Kejadian serupa itu di sejumlah daerah patut menjadi bahan renungan sekaligus kajian.

Baca Juga: Inilah Juara Digi MR UKS/PMR Banyuwangi 2026, MTsN 1 Banyuwangi Berjaya

Bencana tak kalah dahsyat bisa juga datang dari sedikitnya dua gunung. Keduanya menjulang di wilayah barat Banyuwangi. Tampak indah saat cuaca cerah. Makin terasa keindahannya saat didaki sampai puncaknya. Gunung itu Ijen dan Raung. Keduanya berstatus gunung aktif. Artinya, sangat berpotensi mengalami erupsi sewaktu-waktu. Selama ini, Raung sudah beberapa kali batuk-batuk kecil. Ijen juga mengirim signal bahaya dari meningginya uap vulkanik, selain gas belerang alias sulfur.

Tentu, tidak ada yang menghendaki potensi bencana di balik keindahan alam Banyuwangi menjadi realita. Harapan seperti itu harus diimbangi dengan ikhtiar menyiapkan antisipasi. Apa yang harus dilakukan bila terjadi kedaruratan bencana akibat tsunami atau banjir bandang. Atau hutan Banyuwangi terbakar hebat. Atau bahkan gunung Raung dan Ijen meletus.

Wa ba’du. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi pasti sudah menyiapkan langkah-langkah antisipatif. Selama ini, secara berkala mereka berlatih untuk menangani beragam kedaruratan akibat bencana. Tapi berapa anggota yang dimiliki BPBD. Lalu, seberapa cepat mobilitasnya dengan armada yang dimilikinya saat ini.

Baca Juga: Usai Digi MR, MKKS Banyuwangi Dorong Diklat Kader UKS/PMR Lebih Tangguh

Kesiap-siagaan harus dimiliki oleh masyarakat. wabil-khusus stake holder terkait kebencanaan. Kesiap-siagaan itu konsolidasi dan koordinasi yang satset. Tidak lemot. Selain juga pengetahuan dasar tentang penanganan pertama pada korban bencana. Dalam konteks itulah Digital Mission Race 2026 SMP/MTs se-Banyuwangi menemukan urgensinya. Event yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Banyuwangi itu menguji pengetahuan tentang penanganan pertama pada korban bencana para aktivis PMR-UKS SMP/MTs di Banyuwangi. Para peserta juga diuji kecakapannya membuat tandu darurat. Lalu memraktikkan cara menangani korban bencana tertentu. 

Digital Mission Race 2026 digelar di halaman kantor pemkab Banyuwangi, Ahad kemarin (27/9/26). Diikuti 58 regu dari siswa SMP/MTs se-Banyuwangi. Para peserta sangat antusias menunjukkan ilmu P3K yang telah dikuasainya. Setiap regu terdiri dari enam anggota. Bila ditotal (58 X 6) event Digital Mission Race 2026 telah mencetak 348 kader tanggap bencana (Katana). Mereka sudah layak diterjunkan ke daerah bencana. Setidaknya mereka sigap menangani para korban, ketika bencana terjadi di sekitar tempat tinggalnya. Itulah berkah Digital Mission Race 2026. Insyaallah. (Pekolom Banyuwangi).

Editor : Ali Sodiqin
menjaga alam wisatawan bencana banyuwangi