Tol Banyuwangi Bisa Atasi Kemacetan Horor Pelabuhan Ketapang

Samsudin Adlawi • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 08:04 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi*
Oleh: Samsudin Adlawi*

RADAR BANYUWANGI - Kapan pelabuhan penyeberangan Ketapang bakal benar-benar terbebas dari kemacetan horor. Seperti diketahui, antrean di pelabuhan penyeberangan menuju Gilimanuk, Bali, itu sering menimbulkan kemacetan superpanjang. Mencapai belasan kilometer. Saking panjangnya, beberapa kali ekor kemacetannya mencapai wilayah Wongsorejo. Bagian utara Banyuwangi.

Paling mutakhir terjadi sejak awal September, tahun ini. Hampir dua pekan, kendaraan besar dan kecil terjebak dalam kemacetan berjam-jam. Bahkan, ada yang terjebak sampai 30 jam. Untuk menempuh jarak yang hanya 7 kilometer. 

Kiai kondang Banyuwangi asal Rogojampi, KH Abdul Ghofar, pun menjadi korban kemacetan. Kamis, 17 September, kiai yang akrab dipanggil Ustadz Gopar itu diundang berceramah dalam pengajian Maulid Nabi di Kecamatan Wongsorejo. Ia terjebak dobel macet. Berangkat sekaligus pulangnya. Karena ustadz yang ditunggu-tunggu sampai dua jam lebih tidak datang-datang, panitia terpaksa menjemputnya pakai motor dari Ketapang. Dari video yang dikirim ke panitia, tergambar Ustadz Gopar menceritakan pengalamannya menerabas celah-celah kendaraan berat di tengah kemacetan. “Macet total. Kita naik sepeda motor. Ini (sampai) Bangsring macet total. Ini sampean lihat. Ya Allah, jalannya sempit,’’ lapornya.

Baca Juga: Kiai Ghofar Terjebak Macet Ketapang, Berangkat 18.30 Tiba Rumah Saat Subuh

Video itu direkam saat menuju Wongsorejo. Pulangnya juga idem ditto. Ustadz kocak itu kembali terjerembap dalam kemacetan. Dibonceng motor. Nyusup-nyusup di antara kendaraan-kendaraan besar yang nyaris berimpitan. Memenuhi seluruh badan dan bahu jalan. “Saya sampai rumah menjelang Subuh,” cerita Ustadz Gopar kepada wartawan koran ini.

Penyebab kemacetan di sekitar area pelabuhan Ketapang klasik. Yakni kenaikan volume kendaraan dan perbaikan dermaga. Dua penyebab itu bagai dua sisi mata uang. Saling mengakibatkan. Perbaikan dermaga sudah beberapa kali dilakukan, sebenarnya. Namun, ketika itu, dampak kemacetannya tidak seluar biasa sekarang. Juga tidak sampai mengalahkan kemacetan ketika libur Nataru dan Idul Fitri. Macetnya tidak berhari-hari. Karena kendaraan yang akan menyeberangan “dikandangkan” di sejumlah buffer zone yang sudah disiapkan. Menunggu giliran masuk ke pelabuhan.

Baca Juga: Tol Prosiwangi Menuju Banyuwangi Dikaji Ulang, Bondowoso-Jember Masuk Jalur Baru

Pun ketika terjadi kemacetan awal hingga memasuki pekan ketiga September ini. Sebenarnya, kendaraan dari arah utara yang akan menyeberang ke Pulau Dewata sudah dimasukkan ke kawasan buffer zone. Tapi tetap tidak ngatasi. Ratusan kendaraan tetap mengular di sepanjang ruas jalan raya arteri. Dari menjelang masuk pelabuhan hingga menembus perbatasan Wongsorejo. Panjangnya sampai belasan kilometer.

Mengubah Mula Tol

Solusi baru sedang dimatangkan. Berupa pembangunan jembatan. Menghubungkan pelabuhan LCM (Landing Craft Machine) dengan Kelurahan Bulusan. Jembatan yang melintasi muara sungai itu direncanakan sepanjang 98 meter. Lebarnya 12 meter. Hanya saja, mega proyek itu belum bisa dikerjakan dalam waktu dekat. Harus membebaskan dulu 24 bangunan milik warga. Sebanyak 16 bangunan rumah berdiri di sisi selatan muara (Bulusan). Di atas lahan milik Dinas Pengairan Pemprov Jatim. Sedangkan delapan rumah lainnya berada di sisi utara (kawasan LCM). Di lahan milik Pemkab Banyuwangi. Pembebasan lahan seperti diketahui merupakan pekerjaan yang gampang-gampang sulit. 

Baca Juga: Tol Banyuwangi–Wongsorejo: Membuka Jalan di Tengah Kemacetan yang Berulang

Di lain pihak, PT ASDP mengakui bahwa realisasi proyek di kawasannya masih membutuhkan kesepakatan regulasi lintas pihak. Bagian krusial yang butuh effort tinggi adalah komunikasi intensif. Baik dengan Pemkab Banyuwangi maupun Pemrov Jatim selaku pemilik lahan. Jadwal yang sudah direncanakan bisa mbleset. Bergeser. Dari jadwal semula.

“Target awal sebenarnya diarahkan bisa terealisasi sebelum akhir 2026. Namun, melihat proses pembahasan birokrasi dan kondisi riil saat ini, kemungkinan target waktu bergeser awal Januari 2027 mendatang,’’ kata General Manager PT ASDP Ketapang Media Syahrianto, seperti dikutip Jawa Pos Radar Banyuwangi (21/9/26).

ASDP optimistis, interkoneksi jembatan bisa mengatasi kemacetan horor. Penumpukan kendaraan logistik tidak akan mengular lagi di jalan raya arteri depan pelabuhan. Dan, mengganggu arus lalu lintas umum. Semua kendaraan yang akan menyeberang langsung ditampung ke dalam kawasan kantong parkir pelabuhan.

Baca Juga: Macet Ketapang Makin Panjang, Sopir: Bangsring-Pelabuhan Habiskan 13 Jam

Sambil menunggu kepastian proyek jembatan LCM—Bulusan, mengubah project plan tol Prosiwangi bisa dijadikan solusi jitu. Tapi solusi cerdas itu tidak akan jalan, ketika pemerintah tak punya keberanian. Tepatnya, instansi terkait pembangunan tol tidak punya empati. Mati rasa. Menganggap penderitaan rakyat akibat terjebak macet horor di sekitar pelabuhan penyeberangan Ketapang sebagai hal biasa. Bukan luar biasa. Meski berlangsung hampir tiap pekan.

Wa ba’du. Bila pemerintah mau, sebenarnya sangat mudah mengatasi kemacetan laten menuju penyeberangan Ketapang. Caranya sangat mudah:  memulai sisa pembangunan tol Prosiwangi dari sisi Banyuwangi.

Seperti diketahui, panjang tol Prosiwangi 175,40 km. Pembangunannya terbagi menjadi tujuh seksi. Seksi 1 sepanjang 12,88 km dimulai dari Gending sampai Kraksaan di Probolinggo. Sedangkan seksi 7 (seksi terakhir) membentang dari Bajulmati sampai Ketapang.

Baca Juga: Jembatan Bulusan-LCM Disiapkan, 24 Rumah Warga Ketapang Bakal Kena Relokasi

Bila dikebut pengerjaannya, seksi 7 sepanjang 16,76 km itu sudah bisa mengatasi kemacetan menuju Ketapang. Tidak perlu sampai seksi 6 (Asembagus—Bajulmati). Sebab, dari data yang ada, ekor kemacetan menuju penyeberangan Ketapang belum pernah sampai Bajulmati. Masih sampai Wongsorejo saja.

Dengan selesainya ruas tol seksi Bajulmati—Ketapang, volume kendaraan menuju penyeberangan Ketapang akan berkurang drastis. Sebab, kendaraan-kendaraan yang hendak menuju Banyuwangi bisa masuk ke pintu tol Bajulmati. Lalu keluar lewat exit tol Ketapang. Pengguna jalan yang tidak hendak menyeberang ke Bali selama macet horor ikut terdampak. Terutama masyarakat Wongsorejo yang hendak bepergian ke Banyuwangi. Baik untuk bekerja atau urusan yang lain. Pun orang Banyuwangi yang bekerja di Wongsorejo dan sekitarnya. Mereka menjadi korban kemacetan.

Sekali lagi, bila tol Prosiwangi seksi Bajulmati—Ketapang selesai, pengguna jalan yang hendak bepergian ke Situbondo atau bahkan Surabaya lewat jalur utara, bisa masuk pintu tol Ketapang dan keluar di pintu keluar tol Bajulmati. Aman. Nyaman. Dan, terbebas dari stres berat macet horor di jalur arteri menuju Ketapang.

Pertanyaan besarnya: mungkinkah memulai pembangunan tol Prosiwangi dari ujung timurnya. Asal pemerintah mau, kemungkinan bisa menjadi kenyataan. Bahkan, bila kemauannya kuat, penyelesaian proyeknya akan sangat cepat. Sudah banyak buktinya, bukan. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
macet Ketapang Bajulmati Ketapang pelabuhan ketapang tol Banyuwangi tol prosiwangi