Misi Pembentukan Kepribadian Siswa

Samsudin Adlawi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 01:00 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi
Oleh: Samsudin Adlawi

RADAR BANYUWANGI - RINDU itu terjawab sudah, akhirnya. Setelah terpendam selama puluhan tahun. Terakhir saya bertemu dengannya pada 1985. Tepatnya, saat belajar di madrasah tsanawiyah. Setingkat SMP. Tiga tahun bersamanya meninggalkan kesan begitu indah. Terutama saat Persami. Perkemahan Sabtu-Minggu. Pramuka namanya. Ya, itu gerangan yang kurindukan selama 41 tahun! Saya berjumpa lagi dengan Pramuka di AWT (Agro Wisata Tamansuruh, pekan kemarin, Sabtu (22/8/26). Pramuka tidak pernah mati. Meski tahun sudah berganti-ganti. 

Melihat ratusan siswa SMP dan MTs se-Banyuwangi mengenakan seragam Pramuka, hanya ada satu kata dalam otak saya: nostalgia. Saya serasa memakai seragam kebesaran Pramuka: baju cokelat muda-celana cokelat tua, kepala tertutup pet-baret cokelat tua, hasduk merah putih bergelayut di leher, dan membawa tongkat.

Sebenarnya, sudah sering saya melihat orang berpakaian Pramuka. Mulai siswa sampai para pembinanya. Saat melintas di jalan, misalnya, ada sekelompok Pramuka berjalan berbanjar di tepi jalan. Tangannya memegang tingkat. Mulutnya tak berhenti bernyanyi. Lagu-lagu kebesaran Pramuka, tentu saja: Naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali…. 

Tapi, hanya melihat sepintas tak membuat hati tersentak. Sama halnya ketika saya melihat kegiatan Pramuka di layar televisi. Tidak ada getaran di hati sama sekali. Berlalu begitu saja. Seperti melihat hal-hal keseharian. Tidak ada kesan yang istimewa.

Beda dengan yang terjadi di AWT pekan lalu. Saya benar-benar berada di tengah ratusan Pramuka. Dekat sekali. Sehingga bisa melihatnya secara detail. Kesimpulannya, secara garis besar Pramuka sekarang dengan dulu tidak ada perbedaan yang mencolok. Kalaupun dipaksa menyebut perbedaannya, hanya pada warna tongkat.  

Di AWT kemarin, adik-adik Pramuka membawa tongkat berbeda warna. Tak hanya berwarna merah-kuning. Tapi sudah memakai beberapa warna. Ada yang dicat hitam-kuning. Biru-hitam. Hijau-merah. Dll. “Sekarang tidak harus merah-kuning,” kata salah satu Kakak Pembina Pramuka.

Wah, jangan-jangan itu dampak reformasi. Tak boleh ada warna yang mendominasi. Semua warna punya tempat yang sama. Meski maknanya berbeda-beda. Bagus juga. 

Tapi, sayang seribu kali sayang, mutakhir ini mulai ada gejala penggiringan ke warna tertentu. Ke satu warna. Semua harus sewarna dengan warna milik sang penguasa. Ups! Tidak perlu diteruskan. Berbahaya.

Sebanyak 225 Pramuka tadi datang ke AWT tidak untuk Persami. Juga tidak untuk bersenang-senang. Melainkan berjuang. Bersaing dalam Digital Mission Race 2026. Alias Digi MR 2026. Sebuah perlombaan Pramuka yang didesain khusus oleh tim event Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP RaBa). 

Secara konsep, Digi MR itu ya penjelajahan. Kegiatan yang sudah akrab bagi Pramuka. Namun, Digi MR bukan penjelajahan biasa. Penjelajahan yang sudah diadaptasi ke alam digital. Sesuai dengan perkembangan zaman yang sedang dijalan-alani oleh anak-anak sekarang. Generasi Z alias Gen Z. 

Tak mudah menuangkan metode penjelajahan konvensional ke dalam konsep Digital MR. Waktu sekitar sebulan tim IT dan tim kreator event JP RaBa merumuskannya. Mendiskusikannya berulang-ulang. Lalu membuat simulasi. Dan, terakhir mencobanya di lokasi perlombaan. 

Tidak cukup sekali. Tapi berkali-kali tim harus pergi ke AWT. Melakukan trial and error. Memastikan konsep yang sudah ditancapkan dalam aplikasi berjalan dengan baik. Perintah dan pertanyaan di masing-masing pos tidak error. Barcode yang disembunyikan di sembilan pos benar-benar terbaca dalam waktu sesingkat-singkatnya. Baik barcode yang berisi kata-kata sandi maupun berisi pertanyaan. 

Sejatinya Digi MR merupakan event yang menggabungkan berbagai pengetahuan. Tidak melulu pengusaan digital. Peserta harus menguasai kepramukaan, sudah pasti. Tapi pengetahuan kepramukaan itu hanya ada di salah satu pos. Misi di pos-pos lainnya justru menantang peserta dengan pertanyaan seputar kekayaan Banyuwangi. Mulai budaya, pariwisata, hingga kepedulian lingkungan. Bahkan, di salah satu pos peserta yang terdiri lima anggota dalam satu regu, juga diuji kemampuannya mengatur keuangan. Setiap peserta harus berhitung dengan cermat, bagaimana caranya membelanjakan saldo Rp 75.000 yang ada di tabungan regunya. Dengan sistem pembayaran QRis, bagaimana caranya dana yang cekak bisa dapat banyak makanan di empat stand UMKM. Itu sesuai pesan Darma nomor 7 Dasa Dharma Pramuka. 

Wa ba’du. Saya dan tim kreatif JP RaBa haqul yakin, bila ditanamkan dengan sungguh-sungguh, Dasa Dharma Pramuka bisa menjadi alat paling ampuh dalam membentuk kepribadian siswa. Dan, Digi MR merupakan ejawantah dari Dasa Dharma Pramuka yang sesungguhnya. Karena dari pos 1 sampai 9, peserta diajak mencintai alam, kasih sayang, jiwa patriot, kesopanan, patuh dan musyawarah dalam regu, rela menolong, terampil, gembira sepanjang lomba, hemat-cermat-bersahaja. Mereka juga dituntut disiplin, berani mengambil dan setia pada keputusan yang dibuat, serta bertanggung jawab. Selama lomba, peserta juga dituntut menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Agar dapat dipercaya. (Pekolom Banyuwangi)

Editor : Lugas Rumpakaadi
Agro Wisata Tamansuruh Pramuka Banyuwangi Dasa Dharma Pramuka Digi MR 2026 Digital Mission Race 2026