Fragmen Menggairahkan BEC

Samsudin Adlawi • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 06:30 WIB
Oleh: Samsudin Adlawi
Oleh: Samsudin Adlawi

RADAR BANYUWANGI - BEC 2026 berbeda. Tidak sama dengan Banyuwangi Ethno Carnival terdahulu. Meski tidak banyak, perbedaan itu mumayan mencolok. Terasa sesuatu sekali. Sesuatu yang menghadirkan suasana baru. Suasana yang tidak ditemukan di 15 BEC sebelumnya.

Sesuatu yang baru itu bukan pada bintang tamunya. Yakni, Puteri Indonesia Firsta Yufi Amarta Putri. Sudah beberapa tahun terakhir BEC dimeriahkan bintang tamu ternama. Putri-putrian yang lain juga terlibat dalam pergelaran BEC yang lalu.

Hal barunya juga bukan pada para tamu istimewa. Bila tahun ini dihadiri Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, event yang sama di tahun-tahun lalu juga bertabur menteri. Bahkan, dua tahun lalu, yakni BEC 2024 malah dihadiri tiga menteri sekaligus: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Menteri PAN RB Abdullah Azwar Anas.

Kebaruan BEC 2026 juga bukan pada the man behind the show-nya. Konsep olah gerak BEC tahun ini masih ditangani oleh duo Slamet Suroso alias Om Sella dan Annisa Febbry. Maka, tidak mengherankan bila koreo para talent-nya kurang lebih sama dengan tahun-tahun yang lalu. Kurang lebih sama. Itu tampak jelas dari cara para talent keluar panggung utama. Bahkan, hingga saat mereka beraksi. Berjalan di depan undangan dan penonton.

Yang tidak berkembang berikutnya adalah kostum. Tahun ini temanya Perang Bayu. Diinggriskan menjadi The Great War of Blambangan. Meski beda tema dengan 15 BEC sebelumnya, nuansa kostumnya nyaris tidak ada perubahan. Hanya-hanya di-memper-memper-kan dengan temanya. Misal, sub tema Alat dan Gendering Perang, kostumnya ditambah dengan ornament periam dan senjata lainnya. Pun sub tema Pejuang Blambangan. Kostumnya seputar senjata tradisional. Mulai keris, panah, tombak, dll.

Secara konsep, kostum-kostumnya masih belum bisa out of the box. Belum bisa keluar dari konsep tahun-tahun sebelumnya. Yang selalu menonjolkan ussur bentangan sayap, rumbai, mahkota, dan ornamen lengkungan dibelakang punggung.  Celetukan pun muncul dari tengah kerumunan penonton, ‘’Kok bentuk kostumnya kurang berubah dari yang lalu-lalu ya’’.  ‘’Mungkin, yang membuat sama. Dari tahun ke tahun. Tinggal copy paste dan hanya memberi tambahan sesuai tema,’’ jawab penonton yang lain.

Satu lagi. Musik pengiringnya. Lagu-lagu yang dibawakan selalu berbeda. Memang. Komposisinya menyesuaikan tema. Tapi, tidak terdengar ada perubahan. Telinga menangkap suasana musikalitasnya yang jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya. Itu bisa dimaklumi. Karena pemain musiknya tetap sama. Pun alat-alat musiknya.

Diantara sekian banyak yang belum berubah, BEC 2026  menjadi lebih menarik dengan kemasan baru. Yang benar-benar tidak ada di tahun-tahun lalu. BEC tahun ini tidak hanya menampilkan parade talent dengan berbagai kostrum. Melainkan dikawinkan dengan fragmen.

Fragmentasinya disesuaikan dengan sub tema. Sekadar tahu, tema besar Perang Bayu dibagi ke dalam lima sub tema. Yakni, Hasil Bumi (sub tema 1), Situs Perang (sub tema 2), VOC & Sekutu (sub tema 3), Alat & Genderang Perang (sub tema 4), dan Pejuang Blambangan (sub tema 5).

Suasana baru itu dicetuskan oleh Slamet Indra Irawan. Lare Oseng yang belasan tahun terlibat dalam Jember  Fashion Carnaval (JFC). Bertahun-tahun berada di dalam dapur JFC, Kang Indra tahu persis jeroan salah satu karnaval jalanan  ternama itu. Ia tahu persis kelebihan dan kekurangan JFC.

Sebagai Co Producer BEC 2026, Indra tidak hanya membuat BEC 2026 lebih rapi. Idenya menghadirkan fragmen dalam sub tema membuat BEC kali ini terasa nendang. Setidaknya berhasil menghilangkan kesan tampilan ‘’yang itu-itu saja, dari tahun ke tahun’’.

Sebagai orang baru, Indra sempat dihantui kegalauan. Takut tak berhasil. Ia pun terus diskusi dengan Hasan Basri. Ia ‘’serap habis’’ data tentang perang Bayu. Lalu diterjemahkannya dalam fragmen lima babak. Sesuai jumlah sub tema BEC. Skrenario besar itu kemudian ia jelaskan kepada lima sanggar seni. Terutama seperti apa acara kolaborasinya dengan para talent BEC.

‘’Yang saya khawatirkan fragmennya malah merusak tema besar Perang Bayu. Dan bukannya memperkuat kisah Perang Bayu,’’ kata Indra, saat diskusi dengan saya. Memang, jawab saya, tidak mudah mengolaborasikan dua unsur seni yang benar-benar berbeda. Tapi bukannya tidak bisa dilakukan. ‘’Kuncinya satu. Tidak boleh menonjolkan egoisme. Sebaliknya, harus merasa satu kesatuan dan saling melengkapi,’’ imbuh saya.

Alhamdulillah, lima sanggar yang menampilkan fragmen dalam sub tema BEC 2026 tampil total. Sanggar tari Gandrung Arum (sub tema Hasil Bumi), padepokan seni Alang-Alang Kumitir (sub tema Situs Perang), sanggar seni Jiwa Etnik Blambangan (sub tema VOC & Sekutu),  sanggar Umah Seni Kuwung Wetan (sub tema Alat & Genderang Perang), dan sanggar seni Lang-Lang Buana (sub tema Pejuang Blambangan) tampil memukau. Mengejutkan undangan dan penonton.

Wa ba’du. Perubahan itu sudah datang. Mengawinkan talent dengan fragmen dalam satu tema adalah ide cemerlang. Tapi, kalau memang serius menjadi BEC sebagai event From Local to Global, perlu dipertimbangkan lagi untuk menampilkan kolaborasi aksi talent dan fragmen dalam BEC 2027. Harus berbeda! Sebab, duplikasi dan pengulangan dalam sebuah pergelaran adalah sebuah kegagalan. Karena budaya itu dinamis. Menunut kebaruan.

(Pekolom Banyuwangi)

Editor : Ali Sodiqin
BEC 2026 Banyuwangi Ethno Carnival man nahnu samsudin adlawi